Inilah Penjelasan Bupati Emil Tentang Penyebab Terjadinya Longsor di Kilometer 16 Trenggalek -Ponorogo

Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak

TRENGGALEK,  KANALINDONESIA.COM: Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak mengungkapkan penyebab longsor yang terjadi di jalur utama Trenggalek – Ponorogo. Seperti yang diberitakan sebelumnya, tanah longsor yang terjadi di Kilometer 16 Desa Nglinggis Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek ini terjadi hingga 3 kali dalam kurun waktu 1 minggu.

Penyebab longsor di jalur nasional yang terus menerus terjadi ini diduga kuat adanya unsur kesengajaan. Pasalnya, bencana longsor tersebut tidak diakibatkan oleh kondisi yang ekstrim maupun curah hujan. Namun, saat ini di jalur tersebut memang sengaja dilakukan proses pelebaran jalan.

“Kondisi ini memang diakibatkan karena adanya perbaikan kondisi jalan di kilometer 16 jalur Trenggalek – Ponorogo. Perbaikan ini berupa penataan tebing yang sebelumnya seri g sekali terjadi longsor. Oleh karena itu, proses perbaikan seperti pelebaran jalan sangat tepat dilakukan. Mengingat kondisi jalan yang sangat memprihatinkan, Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah berupaya untuk mengantisipasi adanya bencana longsor yang sering terjadi di daerah tersebut, ” ungkap Bupati Trenggalek, Emil Dardak saat dikonfirmasi, Senin (03/9/2018).

Emil menjelaskan, bahwa pada proses perbaikan tebing di jalur tersebut memang semestinya dilakukan penutupan arus lalulintas. Namun untuk mengurangi beban lalulintas di jalur tersebut, tim penanganan akhirnya memberlakukan sistem buka tutup bagi kendaraan yang melintas.

“Karena jalur tersebut menjadi jalur satu – satunya penghubung antar Kabupaten bahkan antar Provinsi, maka kita sepakat untuk tidak menutup total akses jalan tersebut dan memberlakukan sistem buka tutup jalur, ” imbuhnya.

Perlu diketahui, berdasarkan keterangan Bupati Trenggalek, sebelum melakukan perbaikan tebing di jalur utama Trenggalek – Ponorogo sudah dilakukan beberapa kajian oleh Pemerintah Pusat dengan anggaran yang cukup besar.

Emil juga menegaskan, kajian – kajian yang sudah dilakukan sebelumnya ini sudah memasuki tahap eksekusi. Proses eksekusi ini yakni dengan mengambil material sisa longsor terdahulu dan melakukan perbaikan tebing.

Meski proses eksekusi material longsor ini mengakibatkan longsor secara terus menerus, namun demi mendapatkan hasil yang maksimal, proses tersebut akan terus dilakukan tanpa mengurangi kewaspadaan dan kehati – hatian baik bagi penyelenggara pembangunan maupun masyarakat dan pengguna jalan yang melintas. (mil/ham)