Dewan Akui Tradisi Ngitung Batih Merupakan Budaya Sakral

Pranoto , anggota DPRD Kab. Trenggalek

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Kesyakralan upacara adat Ngitung Batih, tradisi menyambut datangnya Bulan Suro atau 1 Muharram yang digelar masyarakat di Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Selasa (11/9/2018) nampak terlihat. Salah satu anggota DPRD Kabupaten Trenggalek asal Daerah Pemilihan wilayah itu, Pranoto, mengaku terharu dan kaget.

Dirinya merasakan langsung dan ambil bagian dari upacara ini, seraya berucap rasa bangganya terhadap seluruh element masyarakat di Kecamatan Dongko.

“Tentunya saya ucapkan banyak terimakasih kepada warga masyarakat Dongko yang tetap setia menyelenggarakan acara Ngitung Batih ini,” tuturnya, Kamis, (13/9/2018).

Dia menambahkan, Ngitung Batih sendiri merupakan adat istiadat menghitung saudara atau kerabat, yang tentunya nilainya sangat berharga.

Menghormati tradisi, politisi asal PDI Perjuangan ini turut Ikut dalam arak-arakan 40 takir plontang yang dibawa oleh 40 dayang-dayang, menuju Pendopo Kecamatan.

Diteramgkannya, ‘Ngitung Batih’ merupakan kegiatan yang rutin digelar di Kecamatan Dongko menyambut datangnya Bulan Suro atau Muharram.

Dijelaskan lebih lanjut, Ngitung Batih sendiri merupakan upaya pelestarian budaya adiluhung yang ada di tanah Jawa ini.

Ngitung Batih sendiri memiliki arti mencari keselamatan atau mencari keselamatan dengan menghitung masih berapa saudara kita di Hari Raya tahun baru Islam ini.

Ngitung Batih juga sarana doa warga masyarakat Dongko yang berharap jumlah saudara mereka bisa tetap sama pada tahun depannya dengan tetap diberikan keselamatan maupun kesejahteraannya.

Konon khabarnya, budaya Ngitung Batih ini dilatar belakangi oleh budaya yang dipegang teguh masyarakat dan dilestarikan sampai dengan sekarang. Untuk perayaan secara akbar, diakui tokoh masyarakat ini baru dilaksanakan delapan tahun atau delapan kali ini.

Sedangkan yang kedelapan ini dikemas dengan cukup syakral, ada arak-arakan 40 takir plontang dan Jodang hasil bumi yang saat ini lebih banyak dirupakan dalam bentuk jajan pasar yang nantinya diperebutkan oleh warga masyarakat.

Diyakini warga, rebut sedekah ini bisa membawa kemakmuran bagi warga, dilancarkan dan dimudahkan rezekinya.

Yang menjadi ciri khas gebyar Suro di Kecamatan Dongko ini, setiap rumah memasang ‘Panjang Ilang’.

Di dalam panjang ilang ini terdapat takir plontang yang merupakan simbol dari keaneka ragaman alam. Takir plontang biasanya berupa biji-bijian atau umbi umbian, seperti jagung, kacang, ketela dan lain sebagainya. Selain itu juga isinya juga nasi metri.

Panjang ilang sendiri menurut Johan memiliki arti yang sangat luas, kalau dijabarkan bisa panjang menurutnya.

Yang tidak kalah seru dalam acara Ngitung Batih ini sesi pelepasan hewan ternak (indukan ayam) yang nantinya diperebutkan.(ham)