Pemilihan Ketua OSIS dIjadikan Sarana Untuk Belajar Berdemokrasi Oleh Pelajar SMPN 1 Kalitengah

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Ratusan pelajar di SMP Negeri 1 Kalitengan, Kabupaten Lamongan, Jum’at (14/9/2018) berkumpul di salah satu sudut halaman kelas.untuk melaksanakan pemilihan ketua OSIS periode 2018 – 2019
Pelaksanaan itu menyusul pengurus OSIS periode 2017 – 2018 telah habis. Selain ratusan pelajar, yang ikut memeriahkan pesta demokrasi tersebut guru dan staf SMP Negeri 1 Kalitengah. Kegiatan ini, sekaligus sebagai bentuk memberikan pendidikan politik dan berdemokrasi kepada ratusan pelajar tersebut.
“Ini sekaligus pendidikan dini dalam sistem pemilihan umum, yang biasa di selenggarakan di suatu daerah dalam memilih pemimpin. Kami dari pihak sekolah berharap, agar pelajar nanti siap ketika terjun ke masyarakat,” Kata Sukirno, Waka Kesiswaan kepada Kanalindonesia.com.
Dikatakan Sukirno, pendidikan politik diberikan kepada pelajar tersebut sangat penting sebagai bekal mereka. Sehingga mereka bisa berpartisipasi aktif dan tidak golput ketika mengikuti pemilu di lingkungan masyarakat. Apalagi tahun 2019 adalah tahun politik, dimana pada tahun tersebut ada pemilihan umum dan pemilihan presiden dilaksanakan serentak.
“Karena partisipasi mereka nanti, akan sangat penting sekali. Terutama untuk menentukan hak suara mereka, sebagai bentuk membantu pengembangan daerah,” ucapnya.
Sebanyak 415 pelajar dan 55 guru dan karyawan mengikuti pemilihan ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS layaknya sistem pemilu.
Layaknya dalam proses pemilu yang kita laksanakan selama ini. Mereka dibagi menjadi petugas di tempat pemilihan suara (TPS), pemilih, panitia pengawas, saksi dari kandidat, pengamanan, dan lain-lain.
Acara dimulai pada pukul 07.00 WIB setelah apel pagi, dibuka oleh Drs. Sukahar,  M. M,  sejaku Kepala Sekolah.  Setelah itu para kandidat menyampaikan pidato visi dan misi di hadapan teman pelajar dalam apel tersebut.
Saat datang ke TPS, pelajar wajib berbaris di depan panitia, kemudian menunggu dipanggil oleh petugas. Pelajar akan mendapat surat suara dan langsung masuk ke bilik suara untuk mencoblos. Satu per satu pelajar memasuki TPS. Setiap pelajar diinstruksikan mengambil kertas suara dan menunggu giliran menggunakan hak pilih. Kartu tersebut berisi gambar lima pasangan yang mana tiap  pasangan terdiri dari putra dan putri.  Setelah itu, pelajar memasukkan surat suara ke dalam kotak suara dengan arahan petugas TPS.
Seusai mencoblos, mereka mencelupkan jari ke tinta biru sebagai tanda telah memberikan hak suara. Pemilihan berjalan lancar meski saat awal sedikit ada rasa canggung.
Dalam kesempatan tersebut, Sukahar, Kepala SMP Negeri 1 Kalitengah menyatakan bahwa siswa yang dipilih menjadi calon pemimpin OSIS harus menunjukkan kreativitasnya untuk menarik perhatian teman-teman agar memilihnya.
“Pemilihan ketua OSIS dengan cara yang sama seperti pemilu bertujuan menanamkan sikap demokrasi. Pemilihan seperti ini dilaksanakan sebagai bagian dari pendidikan demokrasi sejak dini. Para pelajar mengikuti rangkaian kegiatan, dari debat, orasi visi misi, hingga memilih di bilik suara,”  kata Sukahar
Pemahaman pemilu memang sengaja ditanamkan sejak dini supaya siswa mengetahui prinsip memilih wakil rakyat tanpa ada paksaan. Selain itu, pemimpin yang mereka pilih sesuai dengan harapan mereka. Pemungutan suara dilanjutkan dengan penghitungan suara oleh para petugas TPS disaksikan pelajar yang bertugas menjadi saksi.
Ada yang berperan sebagai pembuka surat suara sembari melihat kondisi surat suara apakah sah atau tidak. Selain itu, ada juga yang berperan sebagai pencatat hasil suara. Seorang siswa kelas IX A yang bertugas sebagai petugas TPS, Prasasti Eka Lutfi Eka Sari (14), mengaku senang mengikuti pemilihan ketua OSIS itu.
Menurut dia, pemilihan seperti ini memiliki manfaat saat dia mempunyai hak pilih nanti. “Dengan acara ini, saya bisa mengerti dan bisa memilih dengan benar saat sudah bisa milih pemimpin,” kata lutfia.
Begitu juga dengan para guru di sekolah tersebut. Mereka menyambut pemilihan ketua OSIS ini dengan ikut memberikan suaranya. Bagi mereka, pemilihan ini dapat mengenalkan tentang pemilu sekaligus budaya politik yang demokratis.(omdik/fer/bis)