Eksepsi Henry Gunawan Soal Kongsi Pasar Turi Ditolak Jaksa, Ini Alasannya

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Eksepsi yang diajukan terdakwa penipuan dan penggelapan Henry Jocosity Gunawan ditolak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis dan Harwaedi.

Hal itu disampaikan saat pembacaan surat tanggapan JPU dalam sidang lanjutan perkara penipuan dan penggelapan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (17/9/2018).

Menurut jaksa, eksepsi Henry dinilai telah masuk ke materi pokok perkara. Sehingga eksepsi terdakwa yang menyebut perkara penipuan dan penggelapan merupakan perkara perdata, adalah pernyataan sesat.

“Meminta agar majelis hakim menjatuhkan putusan sela dengan menolak atau tidak menerima eksepsi yang diajukan terdakwa dan tim penasehat hukumnya,” ucap Jaksa Harwaedi.

Sementara Jaksa Darwis merujuk pasal 378 KUHP bahwa dari awal terdakwa sudah digunakan niat buruk untuk menipu, yaitu menggunakan keterangan palsu, maka sudah sepantasnya perkara kongsi pembangunan Pasar Turi masuk sebagai tindak pidana.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Anne Rusiana, SH, MH, jaksa juga mementahkan keberatan tim penasehat hukum terdakwa yang menyebut surat dakwaan jaksa eror lantaran penyidik tidak memeriksa saksi a de charge atau saksi meringankan.

“Seharusnya keberatan itu tidak masuk dalam eksepsi tapi diajukan dalam materi praperadilan,” terang Darwis yang juga menyatakan surat dakwaannya telah disusun secara cermat, jelas dan lengkap.

Atas surat tanggapan jaksa ini, majelis hakim mengaku akan menjatuhkan putusan sela. “Sidang dilanjutkan kamis tanggal 20 untuk pembacaan putusan sela,” ucap Hakim Anne Rusiana sambil mengetukkan palu sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Terpisah, Tonic Tangkau, SH, MH selaku kuasa hukum pelapor yakni Shindo Sumidomo alias Heng Hok Soei alias Asoei, Teguh Kinarto dan Widji Nurhadi akhirnya buka suara.

Tonic mengapresiasi upaya perlawanan yang diajukan jaksa untuk melawan eksepsi terdakwa Henry berserta tim penasehat hukumnya. “Selama ini oleh pengacara terdakwa ditebarkan opini kalau kasus ini adalah kasus perdata,” kata Tonic usai persidangan.

Untuk menjawab opini tersebut, Tonic membeberkan sejumlah fakta pidana dalam peristiwa kasus ini hingga menghantarkan Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) tersebut kembali masuk ke hotel prodeo.

Tonic mengakui adanya perjanjian kliennya dengan terdakwa Henry pada 23 maret 2010 silam. Namun perjanjian itu didasari dari niat jahat terdakwa dengan menggunakan rangkaian kata bohong dan titel palsu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari perjanjian tersebut.

“Pertama, Henry telah menggunakan kata-kata bohong dan title palsu dengan mengaku sebagai pemilik PT GBP. Faktanya saat itu tidak memiliki kapasitas baik sebagai pengurus, pemilik dan pemegang saham di PT GBP dalam menandatangani notulen kesepakatan,” sebut Tonic.

Rangkaian kebohongan lain, lanjut Tonic, dilakukan terdakwa saat di depan notaris Atika Ashiblie SH 6 juli 2010, dimana Henry mengaku sebagai pemegang saham PT GBP.

Henry menegaskan akan memberikan saham PT GBP kepada PT Graha Nandi Sampoerna (GNS). Serta pada tanggal 13 September 2013 dalam sebuah notulen kesepakatan, Henry berjanji akan menyelesaikan seluruh kewajibannya ke PT GNS sebesar Rp 240,875 miliar dan akan memberikan gudang sebanyak 57 unit dengan harga per unit 2.1 miliar sehingga harga total Rp 119,970 miliar dan Rp 787,5 juta berupa bilyet giro dan uang sebesar Rp 120,487 miliar dalam bentuk bilyet giro.

“Tapi Henry Gunawan pada saat itu bukanlah pemegang saham dan saham yg dijanjikan itu tidak pernah ada serta PT Graha Nandi Sampoerna tidak pernah dimasukkan sebagai pemegang saham di PT GBP. Gudang yang dijanjikan pun sampai saat ini tidak pernah dibangun dan lokasinya pun tidak jelas” sambung Tonic sembari berharap hakim melanjutkan perkara ini ke pembuktian.

Untuk diketahui, kasus ini dilaporkan oleh tiga pengusaha asal Surabaya, yakni Shindo Sumidomo alias Heng Hok Soei alias Asoei, Teguh Kinarto dan Widji Nurhadi.

Tiga pengusaha itu disebut sebagai korban terdakwa Henry dalam pembangunan Pasar Turi pasca terbakar. Dimana saat itu terdakwa Henry meminta sokongan dana pada korban melalui PT Graha Nandi Sampoerna (GNS) milik ketiganya.

Saat meminta sokongan dana untuk pembangunan Pasar Turi Baru tersebut, Henry mengklaim sebagai pemenang tender dari Pemkot Surabaya dan pemilik PT Gala Bumi Perkasa, serta menjanjikan keuntungan dan memberikan saham pada para korban sebesar. Rp.240.975.000.000 dari modal yang diberikan para korban sebesar Rp 68 miliar.ria