Verifikasi Rumah Rusak Berat Baru 50 Persen Tim Temukan 25 Kasus Double Nama

Ketua Tim Verifikasi Rumah Terdampak Gempa, Hermanto, Senin (24/9/2018).

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Tim verifikasi rumah terdampak di Lombok Utara terus berpacu dengan waktu. Namun hingga saat ini, rumah terdampak rusak berat yang terverifikasi baru 50 persen dari target.

Ketua Tim Verifikasi Rumah Terdampak Gempa Hermanto mengungkapkan, hingga tahap ke 17 verifikasi rumah rusak berat sebesar 24.072 telah terverifikasi. Jumlah ini baru 50 persen dari target verifikasi 50 ribu lebih rumah rusak berat di Lombok Utara.

“Ditambah draf ke 18 yang baru masuk menjadi sekitar 28 ribu lebih rumah yang sudah terverifikasi,” ujarnya saat ditemui di tenda verifikasi rumah terdampak gempa, Senin (24/9/2018).

Ia menuturkan, pihaknya terus berpacu dengan waktu. Meski tidak ada batasan akhir, namun hal tersebut harus segera diselesaikan mengingat musim penghujan akan segera datang.

Ada beberapa kendala yang dihadapi saat melakukan verifikasi. Mulai dari tenaga yang sempat kurang hingga munculnya kasus double nama. Namun untuk tenaga verifikasi, pihaknya terbantu dengan adanya penambahan dari Dinas PUPR Lombok Utara.

“Kita dibantu sekitar 30 lebih tenaga dari PUPR,” ungkapnya.

Sementara terkait double nama, ada sebanyak 25 kasus temuan tim verifikasi. Temuan ini diidentifikasi setelah dilakukan pengecekan nomor Kepala Keluarganya (KK).

“Diperkirakan masih banyak yang lainnya,” kata pria yang juga Asisten II Setda KLU itu.

Pada tahap ke 17 ini sebanyak 25 KK di temukan double nama. Sebab itu, dalam hal ini timnya masih melakukan pengecekan untuk temuan tersebut. Informasi tersebut didapatkan dari masing-masing kepala dusun.

Ia melanjutkan, terjadinya double ini karena masyarakat memiliki rumah lebih dari satu. Karena itu mereka melakukan pendoubelan dalam pendaftarannya dengan menggunakan nama keluarga lain.

“Misalnya nama bapak, ibu hingga anak,” pungkasnya.

Sebab itu saat ini tim verifikasi sedang melakukan komunikasi dengan kepala dusun. Yakni dengan menanyakan kebenaran dari nama-nama yang double tersebut. Sehingga tidak ada lagi terjadi nama dengan KK yang sama.

“Tapi Alhamdulillah ada kepala dusunnya yang memang langsung melaporkan jika ada yang double,” tandasnya. (Idam)