33 Rumah Adat Utuh Meski Diguncang Gempa

Kondisi rumah adat Dusun Dasan Beleq Desa Gumantar tetap kokoh pascagempa, sementara rumah diluar komplek rumah adat justru luluh lantak, Kamis (27/9/2018).

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Gempa yang mengguncang Lombok Utara Agustus lalu masih menyisakan trauma masyarakat. Terutama untuk berada didalam rumah yang berbahan material beton. Hal ini yang mendorong masyarakat bersikeras ingin kembali membangun rumah dengan kearifan lokal.

Seperti yang diungkapkan Jumayar, salah satu tokoh pemuda di desa adat, di Dusun Dasan Beleq Desa Gumantar Kecamatan Kayangan, Lombok Utara. Seluruh warga di dusun tersebut yang mengalami kerusakan rumah tak ingin lagi membangun rumah dengan material beton.

“Termasuk Risha, kami menolak keberadaan rumah itu,” ujarnya, Kamis (27/9/2018).

Ia memaparkan, secara pribadi ia lebih memilih rumah dengan kearifan lokal. Yakni terbuat dari bahan kayu. Secara kualitas sudah teruji di depan mata. Yakni sebanyak 33 unit rumah adat di dusunnya itu tidak bergeser sedikitpun diguncang gempa 7,0 SR lalu.

Dusun Dasan Beleq dihuni 106 KK dengan 500 lebih jiwa. Terdapat sekitar 65 unit rumah penduduk. Yakni 33 unit rumah adat atau disebut Bale Balaq itu berada di dalam satu komplek bagian dalam. Sementara 32 unit rumah yang bukan kearifan lokal diluar komplek.

“100 persen rumah di luar komplek rumah adat itu luluh lantak,” akunya.

Jumayar menjelaskan, dalam komplek rumah adat tersebut dihuni oleh lima pranata. Mulai dari penghulu, raden, pemangku, Mekel, dan Pak turun. Sebagian besar penghuninya merupakan masyarakat yang sudah lanjut usia atau tua. Sementara para pemuda cenderung membangun rumah di luar komplek.

“33 unit rumah itu merdeka dari musibah gempa 7,0 SR itu,” Imbuhnya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, ia berkomitmen untuk kembali ke kearifan lokal. Namun dalam pembangunannya nanti tentu akan mengacu pada aturan adat lokal atau Awik-awik yang ada. Sebab untuk kembali membangun dengan model Risha, ia mengatakan hal tersebut sama saja dengan rumah yang sudah hancur.

“Masyarakat sudah terlanjur trauma untuk menerima dengan model serupa,” pungkasnya.

Pembuatan rumah dengan kearifan lokal nantinya tidak akan sama persis dengan rumah adat yang sudah ada. Masyarakat akan melakukan sedikit modifikasi. Namun menurutnya pembuatan sama persis pun juga diperbolehkan, karena melihat sisi dusun yang juga menjadi kawasan objek wisata.

“Kita akan diskusikan hal ini dengan tokoh masyarakat di desa Gumantar,” ujarnya.

Ia menambahkan, rumah kearifan lokal memang layak dijadikan referensi rumah tahan gempa. Hal tersebut karena sudah terbukti kekuatannya. Jangankan bangunan, batu pondasinya pun tidak bergeser. Ia menduga jika para nenek moyang sudah pernah mengalami musibah serupa yang bahkan lebih dahsyat.

“Masyarakat terdahulu pasti sudah merancang bangunan rumah itu tahan terhadap getaran dan guncangan gempa,” tandasnya. (Idam)