Yakini Membawa Berkah, Warga Desa Dibee Lamongan Lestarikan Tradisi “Udik-udikan”

LAMONGAN. KANALINDONESIA.COM; Mungkin bagi anak-anak kecil jaman sekarang sudah asing dengan salah satu tradisi turun-temurun ini. Hal ini karena sudah semakin jarangnya warga masyarakat yang mengadakan tradisi tersebut. Tetapi di lingkungan masyarakat Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan tradisi udik-udikan masih ada dan rutin tiap tahun dilaksanakan yakni ketika ada acara sedekah bumi di desa tersebut, seperti yang dilaksanakan hari ini, Kamis (27/9/2018).

Ratusan masyarakat Desa Dibee, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan Sedekah Bumi. Hal itu bertujuan untuk melestarikan budaya dan tradisi.

Menurut Teguh Yuswo, salah satu pemuda setempat mengatakan bahwa tradisi udik-udikan adalah Sebuah kegiatan sedekah dengan cara melakukan penebaran uang recehan di kerumunan massa yang berkumpul. Uang yang lazim digunakan ialah uang logam pecahan 200, 500 dan 1000 ada pula uang kertas yang langsung diterbarkan dengan nilai 1000, 2000 bahkan ada yang 5000.

“Untuk zaman dahulu zaman simbah kita, uang yang digunakan menyesuaikan uang yang beredar pada waktu seperti 1 sen, 10 sen hingga uang 25 rupiah,” kata Teguh

Lebih lanjut Teguh menambahkan, tradisi udik-udikan ini sudah dikenalkan dari generasi ke generasi turun-temurun. Oleh sesepuh zaman dahulu, Udik-udikan dimaknakan sebagai supaya warga untuk gemar bersedekah, dan ini coba ditanamkan sejak masih kecil karena tak sedikit pula anak-anak lah yang menjadi peserta perebut koin uang udik-udikan. Pada tahun 1950-an, udik-udikan ini sering dilakukan oleh warga yang hendak bepergian haji atau sepulang dari haji, mempunyai anak, ataupun hajatan lain seperti perkawinan.

Sejak pukul 09.30 WIB pagi, warga sudah berkumpul di makam sesepuh desa, tua, muda, anak-anak berkumpul. Sebelum memulai tradisi udik-udikan, mereka menggelar tahlil dan mendoakan orang – orang yang sudah meninggal pada hari sebelumnya.

Masih di makam sesepuh desa yang juga tokoh agama, para warga berkumpul, mereka membawa ratusan jajanan dari rumah yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan dikumpulkan di pendopo makam leluhur lalu dido’akan oleh tokoh agama desa. Setelah didoakan, makanannya dibagikan kepada masyarakat yang datang terutama dari desa lain yang sengaja datang kesana.

Suasana akrab terjadi, mereka percaya, keberkahan akan selalu didapat usai mengikuti tradisi tersebut. Uniknya, diakhir kegiatan tersebut, mereka juga menggelar “Udik-Udikan” atau membagikan uang logam.

Salah satu warga Desa Dibee, Murtiyam (51) mengaku, jika kegiatan Sedekah Bumi merupakan salah satu sarana untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Dia mengaku, mencari berkah. “Saya selalu ikut acara udik-udikan setiap tahunnya,” jelas dia.

Dari sekian orang yang melempar uang ke tempat udik-udikan (kalangan), Martiyam terlihat sangat menonjol dan mencuri perhatian warga yang datang Karena uang yang akan ditebarkan semuanya jenis logam dan ditempatkan pada sebuah timba, seperti orang akan menebarkan pupuk (ngemes) di sawah.

Ketika ditanya Kanalindonesia.com, dia tak mengaku berapa banyak uang yang ada di dalam timbah tersebut. Namun diperkirakan hampir 1 juta.

Acara udik-udikan tahun ini terlihat lebih meriah dibandingkan tahun kemarin, ini terlihat warga yang datang meluber disekitaran tempat sedekah bumi tersebut digelar.

Jurnalis : omdik/ferry/bisri
Editor : Arso
Sumber : Kanal Lamongan