Tahun 2019, Kemenperin dan BPS Akan Mendata Industri Busana Muslim

JAKARTA, KANALINDONESIA. COM: Pada tahun 2019 Kementerian Perindustrian bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) akan mendata jumlah industri busana muslim, berapa jumlah pengusaha dan produksinya, termasuk juga mendata, siapa saja para desainer busana muslim.

Hal tersebut dikemukakan Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih, saat menutup pameran dan penyerahan hadiah lomba mewarnai dan fashion show Busana Muslim di Kemenperin, Jakarta, Sabtu (6/10/2018).

Pameran yang berlangsung selama enam hari ini, diikuti 50 brand yang terdiri atas pelaku IKM fesyen, perhiasan, aksesoris, dan kosmetika.

‘Kami ingin melakukan pembinaan kepada para pengusaha busana muslim. Itu sebabnya kami harus punya data industri busana fesyen muslim, sehingga tidak salah sasaran saat mendata mereka,” kata Gati Wibawaningsih kepada Kanalindonesia.com yang turut menghadiri penutupan pameran.

Diakuinya, untuk mengembangkan industri ini hal yang penting dilakukan adalah dalam hal penegakan hukum.

“Apabila penegakan hukum sudah berlangsung secara efektif, salah satunya dalam hal pengenaan pajak, maka semua pihak termasuk para wajib pajak dengan sukarela melakukan hak dan kewajiban mereka. Ini akan menjadi pintu masuk organisasi data yang rapi dan penegakan hukum secara adil,” ungkap Gati Wibawaningsih didampingi Direktur IKM Sandang, Kimia, Aneka, dan Kerajinan Kemenperin, E. Ratna Utarianingrum.

Sementara itu Kementerian Perindustrian gencar melakukan berbagai upaya, menjadikan Indonesia, sebagai kiblat fesyen muslim dunia. Setelah pada bulan Februari yang lalu menggelar Moslem Festival, pekan yang lalu di Plasa Industri, Kementerian Perindustrian, selama sepekan, digelar Indonesia Moslem Fashion Expo 2018. Salah satu tujuan diadakannya lomba adalah supaya sejak dini anak-anak sudah belajar mencintai produk dalam negeri, dan juga mereka dapat melahirkan kreativitas.

“Kreativitas akan menjadi kunci, sampai pada akhirnya mereka bisa belajar membuat sendiri produknya, sebagai cikal bakal menjadi pengusaha, yang menjadikannya sebagai basis industri, tuturnya. Kini dapat disaksikan, tidak saja industri fesyen, khususnya fesyen busana muslim juga bertambah banyak, baik dari sisi produksi sekaligus juga para pengusaha dan desainernya,” paparnya.

Indonesia berpeluang besar menjadi kiblat fesyen muslim di dunia tahun 2020. Selain didukung dengan kekuatan pasar sebagai salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia juga sudah punya berbagai jenis industri fesyen yang berdaya saing global.

“Di samping itu, desainer-desainer emakin tumbuh dan berkembang. Kami melihat industri fesyen merupakan sektor yang mampu meningkatkan nilai tambah dari industri tekstil. Makanya, ini yang perlu terus didorong,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai membuka Indonesia Moslem Fashion Expo 2018 di Jakarta.

Industri fesyen dikategorikan sebagai salah satu sektor strategis dan prioritas dalam pengembangannya, lantaran telah mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

“Industri fesyen menjadi penghasil devisa cukup besar, dengan nilai ekspor pada Januari-Juli 2018 mencapai 8,2 miliar dolar AS atau bertumbuh 8,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” ungkapnya.

Sepanjang tahun 2017, tercatat nilai ekspor produk fesyen nasional tembus 12,23 miliar dolar AS.

“Dengan performance tersebut, menunjukkan produk fesyen kita sudah diakui kualitasnya dan banyak diminati mancanegara,” tegas Airlangga.

Saat ini, market share produk fesyen tanah air mampu menguasai 1,9 persen dari pasar dunia. Capaian itu menempatkan Indonesia dalam jajaran lima besar negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang menjadi pengekspor fesyen muslim terbesar di dunia, setelah Bangladesh, Turki, Maroko, dan Pakistan.

“Kami terus memperluas pasar ekspor, yang selama ini masih didominasi ke negara-negara sekitar seperti Asean dan negara-negara di Timur Tengah,” imbuhnya.

Pasar Fesyen Muslim Dunia

Global Islamic Economy memprediksi pertumbuhan pasar fesyen muslim dunia di tahun 2020 akan mencapai 327 miliar dolar AS. “Peluang pasar ini yang perlu kita rebut, karena industri fesyen kita sudah mampu kompetitif di kancah internasional termasuk peran dari sektor industri kecil dan menengah (IKM),” paparnya.

Oleh karena itu, Kemenperin semakin memacu daya saing IKM dan desainer fesyen muslim di Indonesia, untuk terus berinovasi, meningkatkan produktivitasnya serta memperkuat brand-nya sehingga mampu menembus pasar ekspor. Apalagi, saat ini bergulirnya era revolusi industri 4.0 menuntut pelaku usaha agar memanfaatkan teknologi digital atau mengintegrasikan internet dengan lini produksinya.

Menperin meyakini, penerapan industri 4.0 dapat meningkatkan efisiensi, produktvitas, dan kualitas bagi sektor manufaktur. “Di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, satu dari lima sektor yang akan menjadi pionir implementasi industri 4.0 adalah industri tekstil dan pakaian. Ini juga akan menjadi potensi pengembangan bagi industri fesyen muslim di Indonesia,” paparnya.

Gati menyampaikan, pihaknya terus berupaya untuk mengintegrasikan sektor hulu dan hilir dalam memajukan industri busana muslim nasional. Salah satu langkah strategisnya, yakni melalui kemitraan desainer dengan pelaku IKM fesyen di dalam negeri.

“Kami aktif mendorong terciptanya ekosistem bisnis di sektor IKM fesyen muslim. Selain itu, kami memfasilitasi desainer kita terlibat dalam berbagai pameran dan fashion show baik di dalam maupun luar negeri, sehingga visi Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia dapat terwujud,” tuturnya.

Dalam hal ini, Indonesia Moslem Fashion Expo 2018 menjadi momen tepat untuk mempromosikan berbagai produk fesyen muslim Indonesia ke masyarakat luas. Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama Kemenperin dengan para desainer yang tergabung dalam tim Modest Fashion Project (MOFP). @Rudi