Ahli Waris Korban Gempa Pertanyakan Dana Santunan

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Ahli waris korban gempa yang meninggal dunia di Lombok Utara,Iskandar datangi Kantor darurat Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA), Kamis (11/10/2018). Kedatangannya, mempertanyakan santunan untuk keluarga korban meninggal dunia atas nama Rumangin, asal dusun Jeruju, Desa Mumbulsari, Kecamatan Bayan.

Iskandar, saat berbicara dengan Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial, Dinsos PPPA KLU, mengaku sudah 2 kali mengurus berkas-berkas syarat pencairan dana santunan korban gempa. Namun hingga saat ini, dana tersebut tidak kunjung cair. Usut punya usut, ternyata dana untuk Rumangin sudah cair namun tidak diterima oleh ahli waris yang sebenarnya.

“Saya sudah dua kali masukkan berkas, yang kedua pengajuan berkas untuk pembuatan rekening,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, tujuannya juga untuk meminta kejelasan dana santunan untuk almarhum pak Rumangin, sebab dana santunan tersebut sudah ada yang mendatangani untuk pengambilannya. Namun sampai saat ini dia tidak tahu siapa yang mendatangani dan mengambilnya.

Menurutnya, terdapat kejanggalan dalam proses pencairan dana untuk Almarhum Rumangin. Hal ini dikatakannya ketika serah terima uang santunan dari pusat, yang digelar di Lapangan Umum Tanjung, Rumangin yang tertimpa bangunan akibat gempa belum meninggal, pada saat itu belum meninggal.

Sementara korban lain, atas nama Inaq Raminten, berasal dari Desa Karang Bajo, kecamatan Bayan, yang sudah meninggal dunia tapi belum mendapatkan haknya. Hanya saja, ahli waris pada saat itu belum mengajukan berkas syarat pencairan.

“Pertanyaan saya, bagaimana mungkin berkas Rumangin sudah masuk sedangkan orangnya masih hidup,” tanyanya.

Pada saat yang sama, Iskandar mendatangkan juga ahli waris almarhum Raminten, yakni saudara Kasim. Kepada wartawan, Kasim mengaku sudah menerima santunan sebesar Rp 15 juta. Ia terima dana tersebut dimalam hari di Lapangan Tanjung bersama 8 orang ahli waris lain dari Kecamatan Bayan.

“Kami waktu itu ada 9 orang, dibawa oleh Sekertari kecamatan Bayan ke Lapangan Tanjung untuk menerima santunan. Saya tidak tahu soal berkas segala macam,” imbuhnya.

Menanggapi persoalan itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial, Mukhtar, mengaku bingung dengan kekeliruan data dan pencairan santunan pada masing-masing ahli waris. Sebab pada kenyataannya, dari SK pertama penerima santunan sebanyak 471 orang, tidak tercantum nama Inaq Raminten, melainka nama Rumangin. Anehnya yang menerima dana justru ahli waris Inaq Raminten.

“Salah satu solusi yang kita tawarkan adalah menunggu usulan untuk SK kedua, sebanyak 66 orang,”Jelasnya.

Sebab menurutnya, di SK kedua  untuk 66 orang itu bisa diajukan nama almarhum Inaq Raminten, setelah cair uangnya, akan diberikan langsung kepada ahli waris Rumangin.

Mukhtar juga menjelaskan, jika dirinya sudah berkonsultasi ke Bagian Hukum. Bahwa untuk korban Rumangin ini tidak bisa diusulkan sebagai penerima di SK kedua karena namanya sudah keluar di SK pertama. Satu-satunya solusi adalah meminta kesediaan ahli waris Inaq Raminten untuk mengajukan berkas, selanjutnya saat dana cair maka uangnya akan diberikan kepada ahli waris Rumangin.

“Soalnya dalam kasus ini, hak Rumangin telah diambil oleh Raminten,” Terangnya.

Lanjutnya, jika uangnya sudah keluar, rencananya akan diberikan kepada ahli waris Rumangin. Sebab Raminten sendiri sudah mengambil. Ini nanti akan dibuatkan berita acara disertai surat pernyataan dari ahli waris masing- masing.

“Terus terang, saya tidak tahu kekeliruannya dimana, sehingga orang pusat memberi ke Raminten,” pungkasnya. (Idam).