Sidang Kongsi Pasar Turi Ungkap Fakta Henry Gunawan Tak Punya Modal Bangun Pasar Turi

KANALINDONESIA.COM, Surabaya Dua saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis dan Harwaedi, yakni Totok Lusida dan Paulus Weily Affandi alias Weifan mengungkap fakta kekisruhan yang terjadi dalam kasus penipuan kongsi pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi yang menjerat bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Henry Jocosity Gunawan.

Penyimpangan tersebut, menurut saksi Totok mendapat giliran pertama, terkait kerjasama pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi dengan perusahaan joint operation.

Totok sendiri merupakan anggota Gala Megah Investment Joint Opertation (GMI- JO), perusahaan pemenang tender pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi.

Menurut dia, terdakwa Henry saat itu telah menyingkirkan semua peserta JO, termasuk saksi. Tujuannya untuk menguasai semua hasil penjualan kios yang telah tercatat sebesar Rp 1,7 triliun dengan mengalihkan rekening penjualan kios ke rekening PT GBP.

“Henry berjalan di luar aturan, serta tidak pernah ada laporan ke para anggota JO, termasuk hasil penjualan stand (kios),” terang Totok saat bersaksi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (15/2/2018).

Totok menjelaskan, saat memenangkan tender pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi ini, Henry masuk dalam JO dengan mengatakan akan menjamin semua biaya pembangunannya.

Namun hal ini dibantah saksi. Sebab Henry diketahui tidak mempunyai cukup dana untuk membangun Pasar Turi. Sehingga solusinya, terdakwa mencari investor untuk membantu proyek tersebut.

Di tengah jalan, ada masalah muncul antara Henry dengan para investor dari PT Graha Nandi Samporna (GNS) yang juga sebagai pelapor dalam perkara ini.

“Saat terjadi masalah itu, ada upaya mediasi dengan anggota JO dan para investor lainnya melalui Weifan dan La Nyalla,” jelas Totok.

Dalam mediasi tersebut, lanjut Totok, akhirnya menghasilkan kesepakatan antara terdakwa Henry dengan para investor yakni Teguh Kinarto, Sindo Sumidomo alias Asoei dan Widjojono Nurhadi.

“Tapi saya tidak tau apa isi kesepakatan antara terdakwa dengan investor,” sambung Totok di akhir persidangan yang keterangannya ditolak oleh terdakwa Henry.

Sementara saksi kedua, yakni Weifan membenarkan telah menjadi mediator saat terjadi perselisihan tersebut.

“Iya saya yang memediasi bersama pak Nyalla (La Nyalla Mattaliti),” terang Weifan.

Dalam mediasi tersebut, lanjut Weifan, para pihak telah membuat notulen kesepakatan yang telah ditandatangani, antara lain Henry Gunawan, Teguh Kinarto, Widji, Weifan dan La Nyala.

“Notulen kesepakatan itu tidak langsung saya bawa, baru diserahkan ke saya tahun 2014.  Notulen kesepakatan ini yang saya bawa dan saya tunjukkan kepada majelis Hakim,” ujar Weifan.

Namun keterangan Weifan sempat mendapat sanggahan dari terdakwa Henry maupun tim pembelanya. Adanya perbedaan tambahan  kalimat dalam notulen perdamian itu menjadi pemicu debat kusir. Perbedaan itu terkait adanya tambahan kalimat yang tidak pernah ada didalam notulen yang ditanda tangani para pihak.

Tulisan tangan yang dipersoalkan adalah mengenai permintaan Henry untuk tidak mencairkan dulu giro yang diserahkan ke Teguh Kinarto sebelum dibuatkan dulu aktenya. Dimana menurut Weifan tulisan itu tidak tercantum di notulen kesepakatan.

Debat mengenai keaslian notulen kesepakatan yang dipegang Weifan pun terus terjadi. Mengingat pihak terdakwa bersikukuh bahwa notulen asli sudah ada isi tulisan tersebut.

“Seingat saya tidak ada tambahan tulisan yang di bawah itu selain tulisan yang ditulis tangan oleh Henry,” ujar saksi.

Terkait permintaan terdakwa Henry yang meminta saksi Weifan untuk menyampaikan ke Teguh Kinarto agar tidak mencairkan dahulu bilyet giro sebagai kompensasi PT GNS dikeluarkan dari PT GBP tidak dibantah saksi Weifan.

Permintaan penundaan pencairan beberapa BG tersebut diminta Henry karena tidak ada dana dalam rekeningnya. “Permintaanmu sudah saya sampaikan,” ujar Weifan menjawab pertanyaan terdakwa Henry.

Di akhir kesaksian Weifan, Yusril selaku ketua tim pembela terdakwa Henry meminta majelis hakim untuk menghadirkan saksi penyidik ke persidangan untuk memperjelas mengenai alat bukti pemeriksaan.

“Mohon saksi penyidik dihadirkan demi keadilan,” pinta Yusri pada majelis hakim.

Di akhir persidangan, Yusril menanyakan tentang permohonan pengalihan tahanan kliennya dari tahanan negara menjadi tahanan kota. Namun permohonan itu belum dikabulkan oleh majelis hakim pemeriksa perkara ini.

“Kami belum selesai mempelajari permohonan saudara,” ucap Hakim Anggota Dwi Purwadi yang disambut ketukan palu hakim Anne Rusiana sebagai tanda berakhirnya persidangan.

Henry Gunawan dilaporkan oleh tiga pengusaha asal Surabaya. Mereka adalah Shindo Sumidomo alias Asoei, Teguh Kinarto dan Widjojono Nurhadi atas dugaan penipuan dan penggelapan senilai Rp 240 miliar.

Dalam perkara ini, terdakwa Henry telah didakwa melanggar pasal 378 KUH Pidana tentang penipuan dan 372 KUH Pidana tentang penggelapan.

Kasus tipu kongsi ini merupakan pidana ketiga yang dilakukan  Henry. Kasus pertama, Henry terlibat penipuan jual beli tanah di Celaket Malang dan dihukum oleh Hakim PN Surabaya dengan vonis  8 bukan dengan massa percobaan 1 tahun.

Tapi vonis kasus ini ditambah oleh Hakim Pengadilan Tinggi Surabaya saat Henry melakukan banding. Hukuman bos PT GBP ini diperberat menjadi 2 tahun penjara.

Sedangkan di perkara pidana kedua, Henry divonis 2,5 tahun penjara karena dianggap bersalah melakukan penipuan terhadap 12 pedagang Pasar Turi.ria