Jadi Pembicara Indoargo Banyuwangi, Bupati Emil Beri Paparan

TRENGGALEK, KANALINDONESIACOM: Bupati Trenggalek, Jawa Timur, Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc, menegaskan memasuki Era Agribisnis 4.0, harus siap menyiapkan empat hal, yakni teknologi, regulasi, obat dan bahan baku.

Hal ini diungkapkan saat salah satu pembicara Indonesia Agriculture, Fishery, Livestock and Plantation Internasional Expo 2018 (Indoagro) di Banyuwangi, Senin (15/10/2018).

Pria yang terpilih menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Kofifah Indar Parawansa ini banyak berbagi ilmu pengetahuan dengan para penggerak UMKM dari seluruh Kabupaten di Jawa Timur.

Emil Dardak menegaskan, memasuki era agribisnis 4.0 berlangsung sangat interaktif, tak segan bapak dua anak ini mendengarkan keluh kesah pelaku UMKM mengenai kendala yang dihadapi.

“Ada empat isu tadi yang saya tangkap,” terang suami Arumi Bachsin ini.

Isu yang pertama mengenai teknologi yang sesuai dengan sertifikasi atau persyaratan food greatest yang ada. Sedangkan yang kedua banyak permasalahan ada seperti masalah konsinyasi masalah aturan ekspor, regulasi yang diterapkan sangat berat.

Yang selanjutnya mengenai regulasi lain seperti BPOM, untuk pertanian seperti produk-produk seperti pestisida alami. Sedangkan yang ke empat mengenai masalah hulu-hilir, masalah bahan baku kontinuitas dimana kita ini justru banyak menyuport keluar juga, artinya masyarakat kita tinggi mengolah.

“Inilah realita kendala yang dihadapi Jawa Timur,” tegas Emil Dardak.

Bahkan ditekankan oleh Emil Dardak sesuai data yang ada 35 persen penduduk Jawa Timur bekerja, namun hanya 12 persennya saja yang berkontribusi pada ekonominya.

“Kemandirian usaha masih kecil prosentasenya,” tandasnya.

Dikatakannya, banyak ruang untuk efisiensi yang bisa dilakukan, seperti halnya generasi milenial masuk ke pertanian namun harus dengan teknologi dengan syarat harus ada konsolidasi managemen terlebih dahulu.

“Kita gerakkan milenial untuk berperan di sektor pertanian,” katanya.

Di hilir, Doktor lulusan Jepeng ini melihat banyak sekali inovasi yang dihasilkan oleh tangan-tangan kreatif. Makanya untuk memperkuat inovasi ini Pemprov kedepannya dapat mencoba menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) inovasi dengan program Belanova (belanja inovasi daerah).

“Dengan belanja inovasi daerah ini, inovasi-inovasi yang dihasilkan dapat dibeli oleh pemerintah dan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian yang ada,” ungkapnya.

Menurut Bupati Trenggalek tersebut, Pemprov perlu juga menerapkan strategi pra outsoursing pasalnya teman-teman yang mengolah produk pertanian butuh akses pakar packaging, pakar legal, pakar pemasaran atau pakar yang lainnya untuk menyempurnakan inovasi yang dihasilkan.

Sedangkan saat ini tenaga tersebut belum ada atau bingung carinya kemana. Kalau ke perusahaan-perusahaan bayar konsultan mahal.

“Nah untuk menangani hal ini kita menyiapkan, kita mau bikin milenial job center yang menyediakan profesional freelance,” terangnya.

Lalu, orang-orang yang punya kemampuan disain, packaging, marketing itu nanti dimentor, dibimbing seiring dengan jam kerja.

“Tentunya dia akan punya rate yang akan semakin tinggi,” tandasnya.

Dengan Milenial Job Center ini, masih penjelasan Emil Dardak, starup-starup nantinya tidak akan kebingungan mencari tenaga ahli yang dibutuhkan. Sedangkan teman-teman yang jiwanya bukan pelaku wira usaha tetapi punya keahlian profesionalisme.

“Dengan Milenial Job Center ini menjadi tidak kebingungan mencari kerja ke kantor-kantor. Bisa datang ke milenial job center, untuk mencari klien dan menambah jam terbang,” jelasnya.

Selain Milenial Job Center juga ada program lain yang dipersiapkan, Permaisuri (Pelayanan Informasi Super Koridor), yaitu bagaimana kita membangun informasi yang akurat kepada masyarakat untuk mencegah over stock yang bisa mengakibatkan harga jatuh ketika stock yang melimpah dipasaran.

“Jangan ketika lagi menyebar lele, semua orang juga ingin mencoba menyebar lele di berbagai daerah, karena saling tidak tahu,” imbuh Emil.

Emil juga berpendapat, harus ada agregasi informasi dalam sebuah bigdata yang diolah. Pemprov punya peran disitu, sehingga dapat memberikan advis. Sementara di sini sudah ada yang menanam ini, seperti bawang merah di Nganjuk dan di Ngawi misalnya. Mungkin di Probolinggo ada tanaman yang lain sehingga tidak over suplay.

“Coba di Probolinggo dibikinkan ada tidak konfersi dibikinkan yang lain, misalnya holtikultura apabila di Nganjuk dan Ngawi lagi tanam bawang merah sehingga tidak over suplay,” pungkasnya.(ham)