Bingung Hasil Asesmen UB dan PUPR, Bahrudin Minta Asesmen Ulang

Direktur RSUD Tanjung, H. Lalu Bahrudin, saat di wawancarai diruangan kerjanya, kemarin.

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Direktur RSUD Tanjung, H. Lalu Bahrudin,mengaku bingung dengan hasil asesmen yang dilakukan oleh dua lembaga yang berbeda ini, yakni Universitas Brawijaya (UB) dan Kementeian PUPR. Hal ini diakuinya karena hasil asesmen yang diberikan berbeda.

“Dari 6 gedung RSUD yang di asesmen, memang hasilnya baru kita terima dari 2 lembaga saja, yakni Kementerian PUPR dan Universitas Brawijaya,” ungkapnya, Selasa (23/10/2018).

Ia menjelaskan, saat ini pelayanan pasien RSUD dipindah ke tenda-tenda darurat yang berada dihalaman rumah sakit. Hal ini dilakukannya karena semua gedung A sampai F rusak, dan perlu dilakukan perbaikan.

Sementara, berdasarkan hasil laporan kegiatan forensik bangunan yang dilakukan oleh UB tanggal 11 Agustus 2018, mengatakan bahwa gedung A dan C rusak berat, jadi harus dirobohkan. Namun setelah Kementrian PUPR turun memeriksa juga, hasilnya berbeda, bahkan mereka (PUPR) mengatakan bahwa gedung A dan C masih layak untuk digunakan, tinggal diperbaiki saja.

“Kami juga bingung dengan hasil itu, tapi kita jadikan aja hasil asesmen mereka sebagai panduan,” katanya

Diakunya, memang perbedaan hasil asesmen gedung ini membuat pihaknya selaku pengambil kebijakan bingung. Karena bingung harus memilih hasil asesmen yang mana paling relevan dengan melihat kondisi saat ini.

Tidak hanya soal bangunan, Bahrudin juga mempertimbangkan psikologis pegawainya, juga masyarakat yang akan berobat. Sebab beberapa jumlah tenaga medis dan tenaga adminaitrasi yang sebelumnya berkantor di gedung utama (A dan C) tidak berani menepati tempat itu karena trauma.

“Kita lihat kondisi saja dulu, jangankan orang lain, saya saja yang disuruh berkantor disitu tidak berani,” katanya.

Adanya perbedaan hasil asesmen inilah yang membuat dirinya, berharap kepada pemerintah KLU supaya melakukan asesmen ulang melalui Dinas PUPR KLU. Namun untuk keputusan akhirnya, Bahrudin menyerahkan sepenuhnya kepada kepala daerah.

“Sekarang tergantung Pemda, kalau kitakan hanya tunggu hasil saja. Walaupun 2 lembaga sudah mengeluarkan hasil yang berbeda” imbuhnya.

Lanjut Bahrudin, diakuinya nampak kondisi bangunan saat ini jelas mempengaruhi turunya kualitas pelayanan terhadap pasien. Sehingga saat ini, pihaknya tidak berani melakukan beberapa operasi besar, terkecuali operasi ringan saja.

Karena saat ini pelayanan hanya dilakukan dibawah tenda, dan itu sangat berpengaruh sekali terhadap kondisi pasien. Sebab cuacanya panas dan berdebu saat ini, meskipun secara pelayanannya tetap diutamakan sesuai standar operasionalnya (SOP). Diakuinya juga, saat ini masih ada beberapa unit layanan yang belum berjalan maksimal, seperti melakuakan operasi, karena memang belum ada ruangan yang resprentatif.

“Karena itu, jika pasien selesai dioperasi dikhawatirkan timbul hal-hal yang tidak kita inginkan. Makanya setelah operasi, kita putuskan untuk dirujuk ke provinsi,”pungkasnya. (Idam)