Sering Memakan Korban Jiwa, Jebakan Tikus Harus Ada Regulasinya

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; DPRD Lamongan mewacanakan regulasi tentang penanganan hama tikus di Kota Soto ini. Sebab, penanganan hama tikus selama ini hanya ditangani petani dengan memasang jebakan kabel listrik atau strum tikus. Padahal, alat yang dialiri listrik saat malam hari itu sering mengakibatkan korban jiwa.

“Penanggulangan hama tikus harus diatur dalam regulasi khusus, karena dengan strum listrik itu sering menelan korban jiwa terutama manusia,” Kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Lamongan, Okta Rosadinata, Kemarin (28/10/2018).

Dia menuturkan, dalam menangani hama tikus, petani selama ini hanya bergerak sendiri tanpa pendampingan khusus dari pemerintah. Sehingga, bentuk penanganan hama tikus tersebut bervariasi. Ada yang menggunakan racun, jebakan listrik dan memasang burung jenis Tyto Alba (burung hantu) sebagai predator tikus.

Untuk racun tikus mulai ditinggalkan petani karena penanganan model tersebut belum belum bisa memakan hama tikus secara maksimal. Mayoritas petani menggunakan kabel listrik yang dipasang dipinggir sawah.

“Jebakan listrik itu harus dilarang, karena sering memakan korban jiwa, akan tetapi pemerintah harus menawarkan solusi, jangan hanya melarang saja,” bebernya.

Dia juga menambahkan, cara yang lebih efektif untuk mengendalikan hama tikus sebenarnya dengan menyediakan burung Tyto Alba. Sebab, semalam burung tersebut bisa memangsa sekitar 15 tikus. “Lebih efektif dan tidak tidak akan memakan korban jiwa,” tuturnya.

Sementara itu, Pemkab Lamongan melakukan sosialisasi kepada petani agar menyediakan predator tikus yakni burung Tyto Alba. “Sudah disosialisasikan oleh dinas terkait,” kata Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan Agus Hendrawan.

Jurnalis : omdik/ferry/bisri
Editor : Arso