Bupati Emil Dardak : Tekhnologi Bisa Menjawab Keterbatasan

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Bupati Trenggalek,Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menjadi keynote speaker dalam acara “UK Alumni Thematic Dinner 2018: Unlocking East Java Smart Vision” yang digelar Kedutaan Besar Inggris di Surabaya, Selasa (30/10/2018).

Bersama para alumni dari berbagai universitas di Inggris (United Kingdom/UK), Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia, Bupati Trenggalek yang sekaligus Wakil Gubernur Jatim terpilih ini menegaskan pentingnya menerapkan kebijakan publik yang tepat di era digital ini dengan berintikan bagaimana tehnologi bisa menjawab keterbatasan.

“Saya datang ke rumah sakit dan membawa kue ulang tahun. Tujuan saya, saya ingin menyampaikan pesan kepada kedua pihak, baik kepada dokter maupun konsumen dalam hal ini masyarakat,” terang Emil kala itu.

Kenapa ini kita lakukan, menurutnya karena masyarakat sering mengeluh atau komplain tentang dokter, sedangkan bertemu dengan dokter, malah mendapatkan komplain dokter tentang masyarakat yang jadi pasiennya.

Komplainnya dokter, mengenai keberadaan masyarakat yang  terkadang tidak mau mengerti bahwasannya dokter juga punya waktu yang terbatas.

“Kita ini waktu juga terbatas  dan tangan yang cuma dua,” terang Emil menirukan keluhan dokter di Trenggalek.

Menurutnya, disini ada dua komunikasi yang tidak saling ketemu dan sering kali sebagai kepala daerah mendapatkan keluhan ini.

“Bukannya membela salah satu pihak, tapi perlu saya tekankan dokter juga seorang manusia yang juga memiliki keterbatasan, dan perlu pengembangan profesinya,” ungkapnya.

Akhirnya dalam perkara ini , dia mengambil kebijakan dengan meningkatkan jam pelayanan Senin sampai dengan Jum’at, sedangkan hari Sabtu mereka free untuk pengembangan profesinya.

“Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah sakit harus menunggu hari biasa, sedangkan Sabtu atau weekend tidak boleh sakit?” tanyanya.

Mengaca kepada Kabupaten tetangga, Tulungagung, masih keterangan Emil,  yang rumah sakitnya menjadi rumah sakit rujukan. Tulungagung menjadi salah satu dari 27 Kabupaten/ Kota se-Indonesia yang akan menerapkan call center 119 Emergency medical servis yang terintegrasi secara nasional sebagai program publik servis center dari Kementrian Kesehatan.

27 ini terdiri dari Kota-kota besar, seperti Surabaya, Denpasar dan kota-kota besar lainnya dan Trenggalek menjadi salah satunya.

“Kenapa kok bisa, karena saya bilang kepada Pimpinan Telkom di Surabaya waktu itu bahwasannya Trenggalek punya problem kadang-kadang ada yang WA atau mengunggah di media sosial panik karena keluarganya atau kerabatnya sakit dan harus ditangani akan tetapi tidak tahu harus menghubungi siapa,” terang Emil.

Telepon Puskesmas mungkin tidak ada yang ngangkat atau telepon dokternya mungkin saja sudah tidur. Tidak ada yang stanby 24 jam, padahal orang sakit tidak kenal waktu.

“Pas banget pada waktu itu, Pimpinan Telkom ini menyampaikan kita akan meluncurkan program 119. Walaupun sarananya masih terbatas, kita sampaikan untuk ikutan program ini,” lanjutnya.

Apa yang kita pelajari dalam sistem ini, lanjut Emil, bila Sabtu tidak ada dokter spesialis yang stanby, konsekuensinya orang tidak lagi takut sakit di hari Sabtu, Minggu atau hari libur.

“ Tidak perlu harus bertatap muka langsung face to face dengan para dokter spesialis, karena ada dokter emergency,” tandasnya.

Menurut suami Arumi Bachsin, ini hanyalah sebuah snapshot, yang terpenting bagaimana tekhnologi bisa menjawab keterbatasan kita.

“Para dokter ini stanby pada hati Senin hingga Jumat, terus bagaimana dengan hari Sabtu, weekend maupun saat emergency, tentunya kita harus cari tekhnologi yang bisa menyelesaikan permasalahan ini, tegasnya.

Pria jebolan Oxford University ini juga berbagi banyak pengalaman ketika mengenyam pendidikan di universitas kenamaan ini. Termasuk juga dengan salah satu program yang akan diterapkan dalam pemerintahan Provinsi Jawa Timur nantinya mengenai Informasi Super Koridor.

“Kebijakan publik ini nantinya dapat membantunya daerah mengenai informasi super koridor sehingga antar satu daerah dengan daerah lain tidak mengembangkan hal yang sama,” harapnya.

Dicontohkan oleh Emil kalau di Nganjuk sedang menanam bawang merah, tentunya di daerah lain jangan menanam hal yang sama.

“Jika ini dilakukan membuat stock bawang merah melimpah dan membuat harga bawang merah menjadi anjlok,” pungkasnya.(ham)