Muslimat NU dan YAICI  Sosialisasikan Bijak dalam Penggunaan SKM 

SEMARANG, KANALINDONESIA.COM: SKM adalah produk tambahan yang bisa digunakan sebagai topping makanan dan minuman dikonotasikan sebagai susu. Padahal, itu keliru, SKM  bukan susu.  Selama puluhan tahun iklan SKM yang ditayangkan baik di televisi, radio, media massa, hingga media online menyesatkan karena menyebutkan SKM sebagai produk susu.

Itulah kesimpulan diskusi  bertema “Mewujudkan Indonesia Emas 2045, Bijak Menggunakan SKM yang digelar oleh Pengurus Pusat Muslimat NU,  Yayasan  Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia (YAICI), di Semarang (30/10) lalu.  YAICI menggandeng Pengurus Pusat Muslimat NU untuk mengampanyekan SKM bukan susu di Semarang.  Acara ini dihardiri oleh 200-an  orang anggota Muslimat NU.

Setelah dipaparkan bahwa Susu Kental Manis (SKM) bukan susu, kandungan gulanya tinggi, dan sedikit kandungan susu. Jika diberikan secara terus menerus kepada anak dapat meneyebabkan penyakit tidak menular, seperti obesitas dan diabetes, para anggota Muslimah terkejut.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kota Semarang Endah Emayanti, narasumber pada cara ini menyatakan bahwa, tidak ada nutrisi paling lengkap  selain ASI (Air Susu Ibu). SKM bukan susu, hanya topping pelengkap untuk makanan dan minuman. Karenanya jangan diberikan kepada bayi dan balita karena dapat menyebabkan stunting alias gagal tumbuh dan perkembangan otaknya dapat terganggu.

“Nutrisi paling baik dan lengkap buat bayi adalah ASI. Kekurangan asupan nutrisi menyebabkan stunting dan kurang gizi, padahal di 2045 kita tengah menyiapkan generasi emas, “ kata Endah.

Menurut dia, SKM banyak mengandung lemak, gula, karbohidrat, yang menjadi sumber penyakit tidak menular. Sumber masalah penyakit tidak menular ada pada pola hidup dan gaya hidup. Agar kita mampu menciptakan generasi emas pada 2045, kita harus perhatikan nutrisi pada masa golden period yaitu masa ibu hamil dan masa  pertumbuhan bayi 1000 hari.

Ketua YAICI Arif Hidayat menambahkan, selama ini, kesehatan masyarakat terganggu akibat iklan yang menyesatkan. Salah satu iklan yang mengecoh para ibu adalah produk SKM yang disebut sebagai susu.  Sejak 1922, produk SKM sudah ada dan iklannya diedarkan  sebagai susu.

“Jadi, tak salah jika sampai saat ini ibu-ibu tahunya SKM adalah susu. Untuk meluruskan persepsi  itu, kami meminta pemerintah dalam hal ini BPOM tegas menegur produsen yang menyalahi aturan cara beriklan maupun membuat label pada kemasan,” kata  Arif.

Sebelumnya, SKM diiklankan sebagai susu dengan bintang iklan anak-anak yang sedang minum susu. Atau menampilkan keluarga bahagia sedang minum susu. Kini, iklan tersebut memang sudah ditarik dari peredaran atau tayangan di televisi, namun hingga kini, masih terdapat tayangan iklan SKM yang menampilkan anak-anak di media social seperti youtube.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Penindakan BPOM Jateng Zeta Rina Pujiastuti menyatakan bahwa pengawasan terhadap produk pangan, dalam hal ini SKM menjadi tanggung jawab Bersama. Pemerintah, dalam hal ini BPOM hanya bisa mengawasi 30 persen. Sisanya 70 persen menjadi kewajiban  produsen, NGO, komunitas, Yayasan, dan masyarakat.

“Mari kita sama-sama mengawasi produk pangan yang beredar di pasaran. Jika ada ketidaksesuaian kandungan dengan iklan, maka laporkan ke BPOM, kami akan menindaklanjutinya,” kata Zeta.

Saat ini BPOM telah mengeluarkan peraturan badan No.31tahun 2018 tentang label pangan Olahan, untuk menggantikan Surat Edaran (SE) No. HK.06.5.51.511.05.18.200 tahun 2018 tentang label dan iklan pada  produk susu kental dan analognya. SE tersebut mengatur tentang visualisasi iklan, label, dan waktu tayang iklan.

Selanjutnya, pada 19 Oktober, BPOM menguatkan SE tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Badan POM NO. 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Dalam peraturan yang ditandatangani oleh Kepala BPOM ini salah satunya mengatur tentang SKM.

Pada asal 54 butir 1, menyebutkan, pada kemasan atau label harus tertulis kalimat: “Perhatikan!”, “Tidak untuk menggantikan  Air Susu Ibu”, “Tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan”, “Tidak dapat digunakan sebagi satu-satunya sumber gizi”.

Seedangkan pasal 67 mengatur larangan bahwa susu kental dan  analognya disajikan sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu dan  sebagai satu-satunya sumber gizi. Tak hanya itu, atura lainnya adalah melarang visualisasi yang semata-mata menampilkan anak dibawah usia 5 (lima) tahun pada SKM.  (KI-01)