FORKOMMAS Soroti Lelang Pembangunan RSUD KRMT Wongsonegoro

Koordinator Forum Ormas/LSM Eva Pras Sujito

SEMARANG – KANALINDONESIA.COM

Proyek lelang bangunan di lingkungan RSUD KRMT Wongsonegoro  Kota Semarang, yang dikenal sebagai Rumah Sakit Ketileng mendapat sorotan dari Forum Ormas dan LSM Semarang (Forkommas).
Eva Pras Sujito, Koordinator Forkommas mengingatkan, pihak Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Semarang harus hati-hati dalam menentukan dan mengumumkan pemenang lelang.
“Yang kami sikapi adalah sikap ULP, harus hati-hati dalam menentukan dan menetapkan pemenang lelang. Jangan sampai harga terendah ditetapkan sebagai pemenang lelang, karena kami menilai bahwa penawaran terendah itu tidak wajar,” kata Eva Pras, kamis (15/11).
Pihak Forkommas menengarai, dalam proses lelang proyek RSUD Ketileng, harga yang ditawarkan pihak pemenang lelang, yakni PT Sinar Cerah Sempurna (SCS) tidak wajar, turunnya 18 persen dari angka Rp 118 miliar turun sampai Rp 19 miliar .
“Pekerjaan ini adalah pekerjaan struktural sampai ke finising. Nilai dari kualitasnya harus benar hati-hati, karena ini bangunan dari fasilitas umum. Sebagai warga Kota Semarang kami berharap bisa menikmati fasilitas kesehatan Kota Semarang,” tuturnya.
Eva sangat berharap bangunan fasilitas yang dikerjakan bagus. Sebab kalau biaya bangunannya rendah otomatis kualitas bangunan tidak sesuai spek. Di satu sisi anggaran tidak terserap secara sempurna sesuai APBD yang telah ditetapkan. Apakah pihak ULP sudah menilai PT SCS memiliki gret tinggi, khususnya soal track record?
Forkommas mencatat, PT SCS memilki track record yang buruk. Sebagai contoh beberapa proyek bangunan yang dimenangkan, misalnya proyek Pasar Johar, Pasar Kanjengan dan proyek – proyek lainnya mengalami keterlambatan dan tidak sesuai spek sehingga diputus kontraknya dari dinas.
“Yang kami khawatirkan proyek RSUD Ketileng Semarang pun akan terbengkalai. Kami mencium indikasi dugaan konspirasi permainan lelang. Kami memandang PT SCS bermain dengan oknum politikus untuk mengatur proses tersebut,” beber Eva Pras.
Eva Pras Sujito juga menegaskan akan memimpin kawan-kawan Ormas dan LSM yang peduli untuk mengawal proses pembangunan RSUD Ketileng.
“Kami juga sudah layangkan surat kepada Pemerintah Kota Semarang dalam hal ini ULP dan pihak RSUD Ketileng, namun tampaknya mereka belum mengindahkan. Kami akan kembali mengirim surat yang terakhir, apabila tidak ada respon kami akan melakukan gebrakan menggeruduk ke kantor ULP,” tandasnya.
Perlu diketahui ‘ Kontraktor PT Sinar Cerah Sempurna (SCS) telah diputus kontrak karena tidak bisa menyelesaikan pembangunan tahap 1 di Pasar Simongan hingga batas waktu ketentuan  pada 18 Desember 2017 lalu.
Pembangunan ini menggunakan Dana Tugas Pembantuan (TP) dari APBN Kementerian Perdagangan RI dengan nilai kontrak Rp 87,5 miliar. Hanya bisa diselesaikan 81 persen dari batas waktu kontrak yang ditentukan.(yuw)