Aksi Demo Cekamp ke Kantor Bupati Pamekasan Bentrok Dengan Aparat Keamanan

PAMEKASAN, KANALINDONESIA.COM: Aksi demonstrasi aktivis yang tergabung dalam Central Kreasi Muda Pamekasan (CEKAMP ) di depan halaman kantor Bupati Pamekasan, Madura, Jawa Timur, kamis Siang 15 November 2018, berlansung ricuh dengan Aparat Kepolisian Mapolres Pamekasan. Puluhan aktivis, terlibat baku hamtam dengan petugas keamanan saat berusaha menerobos pintu Gedung Kantor Bupati setempat.

Aksi demonstrasi Aktivis Cekamp yang berlangsung ricuh dengan aparat Kepolisian itu, terjadi di depan halaman Kantor Bupati Pamekasan sekira pukul 11.00 Wib.

Kericuhan dipicu, lantaran para demonstran saat berorasi dan mau masuk ke areal halaman gedung kantor Bupati it, merasa kecewa karena tidak ditemui oleh Bupati Setempat. Bahkan, tak seorangpun dari petinggi birokrasi pemda setempat yang mewakilinya, mau menemui para demonstran. Mereka, malah dihalang-halangi dan dihadang pagar betis oleh anggota Smapta Bhayangkara (Sabhara) Polres Pamekasan. Akibatnya, mereka memaksa menerobos pintu masuk. Akhirnya, baku hantam kedua belah pihakpun terjadi.

Kendati kericuhan beberapa menit kemudian berhasil diredam, namun para demonstran tetap melakukan orasi menyampaikan tuntutannya. Bahkan, para pendemo yang merasa kecewa ini berjanji akan kembali menggelar aksi yang sama dengan membawa massa yang lebih banyak.

“Kami berjanji akan kembali menggelar aksi yang serupa dengan jumlah massa yang lebih banyak, dan kami juga akan membawa persoalan itu keranah hukum termasuk bentuk sikap anarkisme petugas keamanan polres pamekasan,”kata Indra, korlap Aksi Cekamp. Kamis (15/11).

Dalam tuntutannya, sedikitnya ada lima poin yang menjadi persoalan dasar yang menjadi kecaman tuntutan. Diantaranya, evaluasi semua pembangunan, khususnya fisik selama 2 tahun terakhir, Black list kontraktor nakal, dan reposisi pejabat terkait pembangunan.

Sementara dua tuntutan lainnya, demonstran meminta Bupati setempat bersama-sama melakukanmpemantauan hasil pekerjaan. Termasuk meminta Bupati, untuk mundur jika tidak mampu menyelesaikan persoalan Pembangunan di Kota Gerbang Salam. Usai melakukan orasi, pera demonstran kemudian membubarkan diri dengan tertip. (Nang/Ifa).