Perkuat Sinergitas Perang Melawan Radikalisme, Polres Trenggalek Mou dengan Kemenag

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Kapolres Trenggalek, Jawa Timur, AKBP Didit Bambang W.S, SIK, menandatangani Memorandum  of Understanding (Mou) dengan pihak Kementrian Agama (Kemenag) kantor Trenggalek dalam upaya menangkal paham radikalisme di wilayah ini.

Berlangsung di pendopo Manggala Praja Nugraha, keduanya sepakat untuk bersama menciptakan kondusifitas serta keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) menjelang pemilu 2019 mendatang.

Dalam penuturannya, AKBP Didit menjelaskan, bahwa tantangan bangsa Indonesia saat ini adalah banyak munculnya paham radikalisme yang perlu ditangkal dan dicegah sejak dini.

“Kita menginginkan lingkungan ini aman, karena keamanan lingkungan mahal harganya,” tutur Kapolres Trenggalek, Jum’at, (23/11).

Pihaknya bersama aparat keamanan yang lain dan tokoh-tokoh masyarakat serta agama memandang perlu melakukan pemetaan yang konkrit akan situasi wilayah.

“Empat pilar garda terdepan kita untuk bisa mendeteksi dini munculnya gerakan radikalisme di tengah-tengah masyarakat. Empat pilar ini meliputi peran aparat keamanan TNI-Polri, Aparatur Pemerintah dan peran serta dari semua lapisan masyarakat yang menginginkan lingkungan ini aman,” imbuhnya.

Ditambahkan oleh AKBP Didit, momentum pesta demokrasi merupakan momentum yang sangat rawan untuk dibenturkan antar pihak. Selain itu banyak konten atau pemberitaan yang muncul di media sosial yang dapat menggiring seseorang kedalam pemberitaan subyektif.

“Jangan mudah terhasut maupun terprovokasi dengan pemberitaan seperti ini,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut Polres Trenggalek dan Kemenag menandatangani nota kesepakatan bersama, tangkal paham radikalisme di Kabupaten Trenggalek.

AKBP Didit mengatakan pendidikan merupakan faktor penting pembentuk karakter bangsa. Karenanya, infiltrasi paham menyimpang dan perubahan nilai dalam lingkungan pendidikan perlu diantisipasi.

“Radikalisme yang negatif itu yang anti NKRI, anti Pancasila, intoleransi serta takfiri. Ini ada dan mulai memasuki dari pendidikan dasar, SMP, dan SMA. Anak-anak sebagai bibit bangsa harus diperkaya dengan akhlak baik dan pengetahuan,”pungkasnya. (ham)