Percepatan Pembangunan Risha, Kamijo Bangun Pabrik Panel di KLU

POSE: Ketua Umum, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kamijo, Gumilar Abdullatif, (Tiga dari kiri) bersama anggota Forum Komunikasi Usaha Mikro Kecil Menengah (FKUMKM) NTB, Kamis (29/11/2018).

TANJUNG, KANALINDONESIA.COM: Kader Militan Jokowi (Kamijo) melalui Forum Komunikasi Usaha Mikro Kecil Menengah (FKUMKM) NTB, segera membuka pabrik penyediaan panel untuk pembagunan rumah instan sehat sederhana (RISHA). Hal ini dilakukan sebagai upaya membantu pemerintah untuk proses percepatan pembangunan rumah warga pascagempa.

“Kami datang kesini untuk memantau pelaksanaan dan progres pembangunan rumah Risha yang ada di NTB, khususnya di Lombok Utara,” ungkap Ketua Umum, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kamijo, Gumilar Abdullatif, Kamis (29/11/2018).

Ia menjelaskan, dalam proses pembuatan panel ini, Kamijo sudah menyewa lahan seluas 1 hektar di dusun Karang Kates, desa Gondang, Kecamatan Gangga, dan itu dikontrak selama 3 tahun untuk dijadikan lokasi pabrikannya. Rencananya akan ditambah lagi luasnya sesuai kebutuhan.

Dalam hal pembuatan panel ini, Gumilar mengaku sudah ada dua investor perusahaan yang siap menginvestasikan dananya untuk alat percetakan panel Risha ini. Yakni, perusahaan Delta Kencana dari NTT dan satunya dari Propinsi Kalimantan Timur.

“Nantinya disini akan dikelola oleh warga lokal, yang dalam hal ini akan dibina secara langsung oleh FKUMKM NTB,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dalam hal ini dirinya juga sekaligus mengawal langsung nawacita pemerintah pusat. Karena dalam proses pembangunan rumah warga terdampak gempa ini, anggarannya dikucurkan oleh pemerintah pusat.

Sebab itu, dalam rangka untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Kamijo akan segera bekerja untuk kebutuhan panel rumah masyarakat. Membantu memenuhi target yang diinginkan pemerintah pusat.

“Karena memang dalam kalender itu kan sudah ditargetkan, tapi kita akan memaksimalkan itu dalam 8 bulan bisa selesai semua di NTB ini,” katanya.

Karena dalam satu kali pesanan itu, Kamijo bisa menyiapkan panel untuk membangun 6 unit rumah perharinya. Apalagi disini (KLU) sudah memiliki banyak aplikator lokal. Hanya saja yang menjadi kendala mereka (aplikator) ini, belum mampu menyiapkan dana investasi untuk pembuatan panel.

Sebab itu, tujuan Kamijo menghadirkan investor dari luar NTB, itu adalah untuk memperlancar percepatan pembangunan ini. Walupun dalam pelaksanaannya dilapangan dilakukan oleh FKUMKM NTB. Namun untuk pengawasannya tidak terlepas dari Kamijo ini.

“Disini memang rencananya mau buat pabrik, walaupun manual tetapi disini akan produksi panel intinya,”tegasnya.

Lanjutnya, untuk para pekerja pembuat panel nanti akan diserap masyarakat lokal. Namun yang harus memiliki keahlian khusus dalam pembuatan panel. Karena yang namanya pembesian dalam pembuatan panel itu sensitif.

“Kami sudah ikuti road show dengan petugas PUPR pusat untuk soal ini, dan diharuskan tenaga yang memiliki keahlian khusus dan itu akan dilatih dulu,” imbuhnya.

Diakuinya, Pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Lombok Utara, H Najmul Akhyar sangat mendukung ini, bahkan dirinya (Najmul) sudah turun langsung untuk mengecek lokasi ini. Walaupun katanya, komunikasinya tidak secara langsung tetapi melalui jaringan dibawahnya.

Untuk mulai bekerja, secepatnya akan dilakukan, karena alat percetakan panel sudah akan didatangkan seminggu lagi dari Jawa ke KLU. Untuk kebutuhan materialpun akan dibelanjakan disini, baik itu semen maupun besinya. Namun kalau untuk kebutuhan stok yang lebih besar akan didatangkan langsung dari pulau jawa.

“Sekarang kita sudah datangkan satu kontener besi dan masih terkendala pengurusan ekspedisi di Surabaya saat ini,” pungkasnya.

Ketua umum FKUMKM NTB, Mursidi menambahkan, saat ini diakuinya, pemerintah memang masih menghadapi kendala dan arahan untuk aplikatornya. Karena menurutnya, aplikator lokal saat ini belum mampu secara tekhnis untuk membangun rumah Risha.

“Karena memang dalam aturan membagun rumah Risha itu harus memiliki syarat percetakan, harus ada SDM nya juga harus memiliki material,” ujarnya.

Sebab katanya, hal inilah yang akan menentukan aplikator itu bisa berjalan seperti yang diinginkan. Karena kalau hanya bekerja seadanya saja, tidak akan bisa mengejar waktu yang sudah ditargetkan pemerintah pusat.

Karena itu, untuk proses percepatan ini, perlu mengahdirkan inovasi baru, dengan membuat tekhnologi mesin dan itu sudah dibuatkan. Mesin inilah nanti yang akan membekokan besi dengan berbentuk gelang untuk pembuatan panel.

“Disinilah kesulitan yang dialami aplikator yang ada, dan kalaupun ingin membuat dengan manual pasti harus memiliki tenaga ahli,” tutupnya. (Idam)