Intensitas Hujan Rendah, Budidaya Ikan Tambak di Lamongan Belum Normal

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Panen sawah tambak diprediksi akan mundur. Sebab kebutuhan air di kawasan sawah tambak belum terpenuhi, akibat intensitas hujan masih rendah. Sehingga proses budidaya ikan belum normal.

Petani tambak dari Kecamatan Karanggeneng, Hanafi menuturkan, sejak akhir November petani tambak sudah menabur benih ikan. Dengan memanfaatkan air yang dibeli dari Bengawan Solo. Selanjutnya pasokan airnya tambak diharapkan dari hujan yang mulai turun. Ternyata intensitas hujan masih rendah, sehingga perkembangan ikannya masih kurang baik.

“Baru beberapa hari ini hujan lumayan deras, sehingga tambak baru mulai bisa terisi,” ujarnya hari ini (26/12/2018).

Dia menjelaskan, kebutuhan air tambak bukan hanya saat tabur benih saja, akan tetapi juga saat pemeliharaan. Sehingga, ketika tidak ada hujan petani menjadi kelimpungan karena volume air kurang. Akibatnya, ikan tidak bisa tumbuh besar. Kalaupun bisa waktunya sangat lama. “Sehingga masa panen diprediksi mundur,” tukasnya.

Menurut dia, biasanya akhir Desember petani bisa melakukan panen pertama. Sedangkan tahun ini, akhir November bahkan sebagian besar Desember, baru tabur benih. Sehingga, panen diprediksi mundur dari jadwal.

Dia juga mengatakan, usia ikan siap panen minimal 60 hari. Sekarang rata-rata masih kurang dari 30 hari. Idealnya, ikan usia 25 hari sudah agak besar, tapi sekarang masih sangat kecil.

“Kemungkinan panennya Januari akhir, kalau tidak Pebruari,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Perikanan Tawar Dinas Perikanan Lamongan, Tri Wahyudi, mundurnya masa panen ikan saat ini disebabkan musim kemarau tahun ini lebih lama. Sehingga Nopember baru 30 persen tambak baru terisi benih. Apalagi intensitas hujan baru normal beberapa hari terakhir. “Sehingga belum berpengaruh signifikan terhadap volume air tambak,” ujarnya.

Jurnalis :omdik/ferry

Editor : Arso

WELAS ARSO