Masuk Zona Rawan Tsunami, Trenggalek Siapkan Infrastruktur Pendukung

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan mengaku ada 8 kabupaten di wilayahnya rawan terjadi bencana tsunami. Polda Jatim akan melakukan pengamanan lebih ketat di 8 wilayah yang membentang di jalur Selatan Jawa Timur. Salah satunya Kabupaten Trenggalek.
Kepala Bagian Protokol dan Rumah Tangga Pemkab Trenggalek, Triadi Atmono mengatakan di wilayahnya ada 13 desa. 13 Desa itu berada di Kecamatan Watulimo, Munjungan dan Kecamatan Panggul tersebut adalah Desa Tasikmadu, Prigi, Karanggandu, Nglebeng, Wonocoyo, Besuki.

“Kemudian Desa Ngulungkulon, Ngulungwetan, Munjungan, Masaran, Craken, Tawing dan Desa Bendoroto. Seluruh desa yang berada di pesisir tersebut masuk kategori zona bahaya tinggu tsunami,” kata Triadi Atmono saat dikonfirmasi, Senin (7/1).

Terkait kondisi itu, pemerintah daerah telah melakukan serangkaian upaya antisipasi. Mulai dari infrastruktur pendukung hingga kesiap-siagaan dari masyarakat yang menghuni wilayah itu.
Di kawasan pesisir tersebut saat ini telah terpasang sejumlah sirine early warning system (EWS) yang siap dibunyikan apabila terjadi benca tsunami. Sirine tersebut terintegrasi dengan pusat pengendali BMKG.

“Keberadaan sirine itu rutin dilakukan perawatan dan pemeriksaan oleh instansi yang berwenang, bahkan setiap tanggal 26 selalu dilakukan uji coba,” ujarnya.

Dia mengatakan, BPBD Trenggalek juga telah memasang sejumlah rambu-rambu jalur evakuasi apabila tsunami di pesisir selatan. Dalam rambu-rambu itu, warga diarahkan menuju titik kumpul di lereng perbukitan yang ada di sekitar desa.

“Hanya saja keberadaan rambu-rambu ini belum terpasang ke seluruh desa yang masuk zona bahaya tersebut. Dari BPBD setiap tahun selalu melakukan penambahan rambu-rambu. Harapannya nanti seluruh desa yang masuk kawasan bahaya tinggi bisa terpasang semua,” kata Triadi.

Triadi menjelaskan, selain infrastruktur untuk antisipasi tsunami, pemerintah daerah melalui BPBD juga melakukan serangkaian pendidikan tentang kebencanaan hingga simulasi evakuasi diri pada saat terjadi tsunami.

“Sejak 2013 kami membentuk kader anti tsunami atau Katsumi yang tersebar di tiga kecamatan tersebut, nah setiap kecamatan ada 60 kader sehingga totalnya 180 kader. Dari masing-masing kader itu membentuk kelompok-kelompok lagi di wilayahnya,” imbuhnya.

Pembentukan kesiapsiagaan masyarakat dan petugas, jelas dia, telah dilakukan ujicoba melalui gladi lapang tahun 2016 lalu dengan melibatkan 1.000 warga, aparat hingga relawan kebencanaan yang ada di Trenggalek.

“Gladi lapang itu dilakukan bagaimana proses penyelamatan diri seandainya terjadi tsunami, termasuk mitigasi, proses penanganan korban hingga jalur evakuasi, semua disimulasikan,” jelasnya.

Sedangkan berbagai unsur pelajar juga tidak luput dari pembinaan tentang kesiap-siagaan bencana tsunami melalui sekolah laut yang digelar BNPB di wilayah pesisir Prigi Trenggalek pada 2017 lalu.

“Saat itu pesertanya pelajar juga termasuk para relawan. Dalam proses sekolah laut itu kami juga melakukan penanaman 5.000 mangrove, hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk antisipasi, harapannya apabila terjadu tsunami bisa memecah ombak sehingga melemah saat sampai di perkampungan,” kata Triadi.

Pihaknya berharap, dengan berbagai pembekalan yang telah dilakukan, masyarakat menjadi lebih siap dalam menghadapi risiko bencana alam tsunami. Yang lebih penting menurut Triadi adalah bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

“Karena seperti kita ketahui pesisir selatan Trenggalek di tiga kecamatan itu masuk daerah berbahaya tingkat tinggi,” imbuhnya.(ndik/ham)

WELAS ARSO