Drama Tari Prahara Mustikaning Tumpuk yang Tampil di GSBD Merupakan Cikal Bakal Desa

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Drama Tari Prahara Mustikaning Tumpuk menjadi suguhan utama pada Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Trenggalek, jawa Timur, di Taman Budaya Surabaya, Jum’at (15/4).

Menurut Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Sunyoto, M.M., drama tari ini menceritakan sebuah kisah asal-usul Desa Tumpuk, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.

Dikisahkan, dari berbagai sumber, Sunyoto menceritakan, tempo dulu hidup seorang kepala rumah tangga bernama Romo Sentono yang mempunyai dua orang anak gagah perkasa juga rupawan bernama Barat Ketigo dan adiknya Joko Maruto.

“Asalnya dari kedua anak yang memang pemuda yang tanguh-tangguh,”ungkapnya, Senin,(18/3) di Trenggalek.

Tumbuh dan beranjak dewasa, Barat Ketigo anak sulung Romo Sentono, meminta kepada orang tuanya untuk dikawinkan. Mendengar permintaan anaknya tersebut, Romo Sentono teringat lagi dengan teman lamanya Mbok Rondo Krandon yang mempunyai anak perempuan dan berniat menjodohkan dengan Barat Ketigo.

“Kini Mbok Rondo Krandon itu konon dimakamkan di Desa Kerjo Kecamatan Karangan tepatnya di pinggir jalan menuju pemandaian Tapan,”terangnya.

Namun Barat Ketigo menolak keputusan bapaknya tersebut, karena mengetahui Anjar Anggraeni, putri Mbok Rondo Krandon, kondisinya pincang dan keadaannya awut-awutan karena terlalu lama duduk menenun.

“Anjar anggraeni itu juga suka bertapa seperti ibunya,”lanjutnya.

Tidak mau dikawinkan dengan Anjar Anggraeni, Barat Ketigo meminta adiknya Joko Maruto untuk menggantikan dirinya. Keanehan muncul, karena ketulusan Joko Maruto mau menikahi Anjar Anggraeni dan menerima kondisinya apa adanya, ketika menikah Anjar Anggraeni berubah wujud menjadi gadis yang cantik jelita.

“Tiba-tiba Anggraeni bisa berubah wujudnya menjadi wanita yang berparas cantik,”tegasnya.

Kencantikan yang berubah dari Anjar Anggraeni ini membuat kegundahan Barat Ketigo. Hal ini membuat dirinya marah dan tidak terima terhadap adiknya.

“Seketika itu dirinya mencabut sebilah keris yang dibawanya dan menusukkan ke punggung Joko Maruto dan berakhir nyawa Joko Maruto melayang,”katanya.

Melihat keadaan saudaranya yang tidak bernyawa Barat Ketigo menyesal. Dicabutnya kembali keris yang menancap di punggung adiknya kemudian dihunuskan ke dadanya sendiri.

“Keduanya mati berpelukan dan jasadnya bertumpuk dan hikayah ini yang melatar belakangi lahirnya Desa Tumpuk yang berada di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek,” imbuhnya.

Sementara, gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) mempunyai arti penting untuk melestarikan budaya daerah. Hal ini disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jawa Timur Dr. Ir. Wahid Wahyudi.

 

Manurutnya, acara GSBD mempunyai multiplayer effect karena ada unsur promosi wisata, seni budaya, bahkan ada pameran produk-produk UMKM. Salah satunya, seperti yang digelar pada Jumat (15/3) lalu di UPT Taman Budaya Jawa Timur, Jl Gentengkali Surabaya.

“GSBD tujuan utamanya untuk mempromosikan potensi daerah,” pungkasnya. (dik/ham)

pemimpin umum kanalindonesia.com, caleg provinsi no urut 2, dapil jatim 9, Partai Perindo
WELAS ARSO