Sambut HTBS 2019, NU Ajak Nahdiyin Berantas TBC

Foto bersama usai Temu Wicara “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya – Nahdiyin” yang digelar di PBNU, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM — Organisasi Islam terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Kesehatan NU (LKNU) mengajak masyarakat NU, Nahdiyin, untuk ikut serta dalam upaya pemberantasan penyakit menular dan mematikan yakni Tuberkulosis atau TBC.

Hal tersebut terangkum dari temu wicara “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya – Nahdiyin” yang digelar di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Slogan temu wicara ini diadopsi dari tema Hari Tuberkolosis Sedunia (HTBS) 2019 yakni “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya”.

Wakil Ketua PBNU Prof. Dr. Ir. Mochammad Maksum Mahfoedz, MSc mengatakan NU memiliki komitmen tinggi dalam membantu pemerintah dalam mengeliminasi TBC di Indonesia.

“Sebagai bagian dari bangsa ini dan memiliki massa terbanyak, setiap Nahdiyin wajib memulai dari dirinya sendiri untuk melawan TBC. NU sudah menyatakan berjihad melawan TBC,” ujar Moch. Maksum Mahfoedz kepada Kanalindonesia.com di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta, Kamis ((21/3/2019).

Menurutnya, jika seluruh rakyat Indonesia menyatakan hal yang sama, ia yakin Indonesia pasti akan segera terbebas dari penyakit TBC. “Tak ada jalan lain bahwa seluruh anak bangsa dari berbagai sektor, harus memiliki komitmen untuk melawan TBC,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua LKNU Hisyam Said Budairy menuturkan terkait dengan penanggulangan TBC, pihaknya sudah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam hal ini Subdirektorat TBC yang didanai Global Fund sebagai Sub-Recipient Khusus (SRK) pada periode 2018-2020.

Kegiatan LKNU sebagai SRK antara lain melakukan kegiatan penemuan kasus, pendampingan pasien TBC, memberikan edukasi kepada masyarakat luas, dan melakukan advokasi kepada setiap level kebijakan. Kegiatan tersebut, menurutnya, merupakan peran nyata LKNU dalam mendukung pemerintah menuju pemberantasan TBC.

“Kami ingin agar semua kegiatan LKNU bisa juga tersosialisasikan kepada publik, terutama kampanye terkait TBC bisa dengan mudah terpapar di tengah masyarakat,” kata Hisyam.

Menurutnya, pihaknya akan menelusuri orang yang terkena TBC biasa dan TBC yang kebal obat di banyak provinsi serta menelusuri orang terdekat yang dekat si penderita TBC tersebut.

“Target kita mendekati pesantren untuk sosialisasi santri tentang bahaya TBC. Saat ini belum ada edukasi ke pesantren tentang bahaya penyakit TBC dan cara pencegahannya,” jelas Hisyam.

Ditambahkan oleh TB Technical Advisor LKNU yang juga Co-founder Global Health Initiative Indonesia dr. Esty Febriani bahwa Indonesia berada di posisi ketiga di dunia, setelah India dan Cina sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak.

“Sebelumnya sesuai laporan WHO Global Report 2018, Indonesia masih berada di urutan kedua. Ini artinya upaya kita semua membuahkan hasil dan kita optimis bahwa semua pemangku kepentingan, termasuk LKNU bersama pemerintah akan mewujudkan Indonesia bebas TBC,” tutur dr. Esty.  @Rudi