Baznas Kembangkan Mustahik Data Center Guna Tajamkan Sasaran Zakat

JAKARTA, KANALINDONESIA — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengembangkan Sistem Database Mustahik Nasional (Mustahik Data Center). Sistem ini nantinya terintegrasi dalam upaya menajamkan sasaran penerima zakat dengan memanfaatkan data kemiskinan.

Direktur Operasi Baznas Wahyu TT Kuncahyo, mengatakan Mustahik Data Center perlu disampaikan kepada masyarakat untuk lebih maksimal dalam pemanfaatan system digital dalam pengelolaan zakat nasional.

“Sistem digital dimanfaatkan dalam tiga bagian utama pengelolaan zakat yakni penghimpunan untuk kemudahan menunaikan zakat, digunakan juga dalam tata kelola untuk menjamin transparansi serta dimanfaatkan dalam penyaluran zakat,” kata Wahyu dalam diskusi Sistem Data Mustahik Nasional di Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Hadir dalam diskusi tersebut, Direktur Operasi Baznas Wahyu TT Kuncahyo, Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi Baznas Efri Syamsul Bahri, dan Kepala Pusat Kajian Strategis Baznas Muhammad Hasbi.

Diskusi “Sistem Data Mustahik Nasional” yang diselenggarakan Baznas di Plaza Semanggi, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, Ketua Baznas Bambang Sudibyo mengatakan, sistem ini akan mengintegrasikan data para mustahik baik dari data yang dimiliki Baznas Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, serta para Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZ).

“Dengan pemanfaatan data ini, kami berharap penyaluran zakat bisa lebih menyebar luas dan tepat sasaran. Database mustahik yang dikembangkan Baznas ini berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang disingkronkan dengan data kemiskinan Basis Data Terpadu (BDT) Kemensos, dan juga data kependudukan dari Ditjen Dukcapil Kemendagri,” katanya.

Bambang menambahkan pihaknya juga mengenalkan sebuah aplikasi berbasis android yang diberi nama Indeks Zakat Nasional (IZN).  Aplikasi ini merupakan sebuah aplikasi yang dapat mengukur performa pengelolaan zakat di setiap daerah dari 34 provinsi di Indonesia.

Menurutnya, selama ini dalam pengukuran IZN kapasitas yang dilakukan adalah dengan cara manual, yakni para amil zakat dari Baznas datang langsung mengambil data ke Kantor Baznas daerah dan menghitungnya. Namun, setelah diluncurkannya aplikasi IZN ini, para lembaga zakat bisa secara aktif menginput datanya secara online melalui aplikasi ini. Sesaat kemudian dengan cepat bisa diketahui berapa score IZN beserta kaji dampak zakatnya.

“Dari IZN ini dapat diukur bagaimana kinerja kelembagaan, kualitas database regional muzaki dan mustahik, data pertumbuhan penghimpunan dan serapan penyaluran, lalu bagaimana dampak zakatnya kepada masyarakat. Dua aplikasi ini adalah upaya peningkatan kredibilitas, dan profesionalitas para lembaga dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah,” tutur Bambang. @Rudi