LDII Ajak Semua Pihak Memiliki Kematangan Dalam Budaya Demokrasi

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM — Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), organisasi social independen untuk studi dan penelitian tentang Hadits dan Al-Quran, kembali menggelar diskusi bulanan untuk menggali aspek strategis dalam upaya strategis pendayagunaan energi baru terbarukan.

Karena masih dalam suasana menunggu hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum, maka yang diangkat diskusi adalah kematangan dalam budaya demokrasi, terutama dinamika dari simpatisan dua kubu pemilihan presiden 2019.

Ketua DPP LDII, Ir. H. Prasetyo Sunaryo, MT, mengatakan rakyat masih terpengaruh perseteruan di kalangan elit. Padahal negara-negara lain seperti India atau Jepang, bisa menjalankan pemilihan umum dengan damai dan bebas, jujur dan rahasia walaupun elit politiknya bersitegang.

“Kedewasaan politik itu harus ditunjukan dengan masyarakat yang memilih. Masyarakat saat ini lebih pandai, sekiranya dari pemilih misalnya ada yang menerima uang dari para peserta, namun pada akhirnya pemilih berkecenderungan memlih sesuai dengan aspirasi mereka,” ujar Prasetyo di Kantor Pusat LDII, Patal Senayan, Jakarta, Rabu (1/5/2019).

Ia mengungkapkan, selain pendewasaan politik, masyarakat harus didorong kreatifitas dan inovasi untuk menaikkan kapasitas kemandirian bangsa.

Menurutnya, stabilitas sosial politik harus berasal dari tingkat kesadaran demokratis yang semakin tinggi, yang ditandai dengan semakin banyaknya tokoh masyarakat yang memahami arti amanah atau keterwakilan.

Ia mencontohkan Abdul Haris Suhud selaku Kepala Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang sukses membangun desanya dengan memadukan sektor pertanian dan pariwisata atau biasa disebut pariwisata berbasis agrobisnis.

Dengan luas lahan sekitar 4 hektar, Kades ini menanam sekitar 9 jenis varietas padi yang hasilnya dapat meningkatkan hasil padi dari sisi peningkatan produktifitas dan ketahanan terhadap hama.

“Abdul Haris asal Lamongan ini unik menanam padi tapi diselingi menanam bunga matahari dan hortikultura. Tanaman bunga ini ternyata menciptakan ekosistem tersendiri yang mengundang biota-biota yang kemudian menjadi makanan padi. Selain menanam bunga matahari, kades ini membuat sarang burung Hantu di sekitar tanaman padi. Burung Hantu ini sebagai predator memakan tikus yang menjadi hama padi,” jelas Prasetyo.

Ia menyatakan dari hasil kerja keras Kades Besur ini, area di desa tersebut dijadikan agrowisata untuk meningkatkan nilai jual pertanian dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, masyarakat sekitar lahan dapat menjual makanan bagi wisatawan hingga menyediakan berbagai kebutuhan wisata.

“Bila 72.000 desa se-Indonesia memiliki 20 persen kepala desa yang mempunyai leadership dan inovatif seperti ini, maka bisa meningkatkan kemakmuran desa,” katanya.

Selain Abdul Haris Suhud, lanjut Prasetyo, Indonesia mempunyai orang-orang yang  leadership dan inovatif diantaranya Khofifah Indar Parawansa. Gubernur Jawa Timur ini dianggap memiliki leadership dalam pembangunan pemberdayaan kaum perempuan.

“Ibu Khofifah ini mengajarkan ketahanan nasional itu dimulai dari keluarga. Bilamana keluarga itu baik, diajarkan sopan santun dan etika baik maka akan memiliki ketahanan di lingkungannya yang pada akhirnya pada ketahanan nasional,” ucapnya.

Ia menambahkan, para leadership dan inovatif seperti Abdul Haris Suhud ini yang mampu mengatasi kesulitan-kesulitan di lapangan kiranya dijadikan panutan pemimpin di negeri ini yang tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi ataupun partai yang mengusungnya, melainkan pemimpin harus mementingkan rakyatnya.

“Demokrasi tidak hanya agenda lima tahunan, tetapi bagaimana menyatakan pendapat yang baik itu baik, yang buruk itu buruk yang harus dilaksanakan sepanjang tahun,” tutur Prasetyo. @Rudi