Sebut Mantan Ketua PWNU Jatim, Saksi Ungkap Dalam Sidang Kasus Penipuan Haji

Saksi memberikan keterangan di depan hakim dalam sidang penipuan haji. foto: istimewa_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Sidang lanjutan kasus penipuan perjalanan haji kembali digelar di Pengadilan Negeri Lamongan,  Selasa (07/05/2019). Kali ini sidang dilanjutkan dengan agenda mendengarkan keterangan dari saksi. Dalam sidang itu saksi bernama Agus Haryanto menyebut jika terdakwa dugaan kasus penipuan perjalanan haji plus, yakini Nurul Faizah kerap mengaku sebagi istri sah dari mantan Ketua PWNU Jawa Timur Prof. Dr. KH. Ali Maschan Musa dalam memperdaya korbannya.

Selain mengaku sebagi istri pimpinan PWNU Jatim, terdakwa juga pernah mengaku mempunyai kenalan orang dalam di Kementerian Agama di Jakarta. Atas dasar itu sehingga para korban tidak menaruh rasa curiga dan mau berangkat ke tanah suci melalui travel perjalanan haji plus milik dirinya. “Karena terdakwa ini mengaku sebagi istri dari mantan ketua PWNU Jatim. Kami tidak menaruh curiga dan menuruti semua yang diperintahkan oleh terdakwa,” kata saksi Agus Haryanto yang juga anak korban.

Korban penipuan perjalanan haji plus bernama Kastona (62) warga Desa Kaswistolegi, Kecamatan Karangeneng, Lamongan ditipu akan diberangkatkan ke Mekah melalui haji plus miliknya. Asal membayar uang sebesar Rp 170 juta. Namun korban hanya sanggup membayarnya senilai Rp 1, 306 juta. Itupun dibayar secara bertahap. “Jadi ibu saya diminta untuk membayar uang 170 juta kalau mau berangkat. Tapi saya bilang tidak sanggup kalau bayar semuanya, kemudian saya angsur,” jelas Agus.

Usai membayar biaya perjalanan haji plus ke kota Mekah. Kemudian korban Kastona diberangkatkan ke Mekah pada tanggal 13 Agustus 2018 melalui penerbangan ke Tanggerang terlebih dahulu. Sesampainya di Tanggerang Banten korban dan delapan rekannya menginap di salah satu hotel di sana selama tiga hari. Kemudian korban dititipkan di salah satu warga pemilik Catering makanan. “Ternyata ibu saya malah dititipkan di rumah salah satu warga, yang mulia. Kemudian beliau menghubungi saya dan kami berangkat menjemput ibu saya,” ujarnya.

Saat di tempatkan di rumah Cetring. Handpone korban juga diambil oleh terdakwa secara diam-diam. Kemudian SIM kartu dibuang oleh terdakwa. Secara terpisah terdakwa kasus penipuan perjalanan haji plus, Nurul Faizah, tak menampik kesaksian yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum pada saat persidangan. Jika apa yang disampaikan oleh para saksi itu benar. Dan terdakwa berkeinginan untuk mengembalikan uang yang sudah ia gunakan. “Apakah terdakwa keberatan dengan keterangan dari saksi. Tidak yang mulai,” kata Nurul Faizah.

Sementara itu terpisah Jaksa Penuntut Umum JPU Kejari Lamongan yang terlibat menangani kasus tersebut. Juga akan menghadirkan nama-nama yang disebut dalam persidangan. “Tentunya ada beberapa nama yang disebut tadi dalam sidang, mas juga sudah dengar sendiri. Jadi tidak menutup kemungkinan kita juga akan panggil pihak yang disebut dalam persidangan. Dan menurut BAP terdakwa jika terdakwa ini adalah mantan istrinya dari yang bersangkutan,” tandas JPU Andhika.

Jurnalis : omdik/ferry

Kabiro : ferry mosses