Sudah Kumuh, Pasar Tradisional Pule dan Dongko Trenggalek Butuh Perbaikan

Misran, Kasi Bina Usaha Perdagangan Bidang Perdagangan Dinas Komindag Kab Trenggalek

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Dua pasar tradisioanl yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur dengan kondisi sangat memprihatinkan yakni Pasar Pule dan Pasar Dongko. Selain kumuh, kondisi pasar yang mepet dengan jalan raya tersebut sudah tidak muat lagi menampung para pedagang pada saat hari pasaran.

“Kalau Pasar Pule pasarannya pada peanggalan jawa Wage dan Pahing,” ucap Misran, Kepala Seksi Bina Usaha Perdagangan, Bidang Perdagangan di Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Komindag) Kabupaten Trenggalek, Kamis,(9/5) di Trenggalek.

Sementara , untuk Pasar Dongko, yang berada di jantung kota kecamatan, jalan raya Trenggalek-Pacitan kilometer 35 , hari pasaran jatuh pada penanggalan Jawa , hari Kliwon.

Misran mengungkapkan kondisi pasar yang ada di Trenggalek secara umum banyak yang memerlukan perhatian semua tingkatan pemerintahan baik dari kabupaten, propinsi hingga pusat. Sebab tanpa campur tangan pemerintahan propinsi maupun pusat, pihak kabupaten sendiri terasa berat jika melihat postur Anggaran Belanja Pemerintah Daerah (APBD) setempat.

“ APBD kita berkisar Rp 2 Trilliun, sedang untuk sektor pasar kita dapat jatah Rp 80 Miliiar saja,”ungkapnya.

Hal ini menyebabkan, banyak pasar tradisional di Trenggalek, masih menurut pria yang sudah lama menangani bidang pasar itu, akhirnya seperti tidak terurus. Kendala yang terlihat jelas dari upaya pembinaan pedagang yang selalu kompalin terhadap kondisi infrastruktur lokasi aktifitas.

“Biasanya yang kita berikan pembinaan, tetapi tak jarang kita mendapat protes dari pedagang dengan kondisi pasar yang jauh dari sehat,”tukasnya.

Kondisi lingkungan pasar yang sehat, disampaikan pedagang binaannya, menjadi faktor kurang menariknya pembeli saat berkunjung di pasar tersebut.

“Banyak pedagang pasar seperti di Pule yang mengeluhkan pembelinya tidak minat membeli karena pedagangnya menjajakan daganganya di atas got saluran,”paparnya.

Tetapi, saat dagangan itu diborong penjual palen, lalu dijula kembali di palennya seperti halnya di seputaran dusun setempat, dagangan tersebut tetap laku dibeli pihak pembeli.

“Padahal dagangannya sama seperti yang dijual dan kulakannya asli dari pedagang di Pasar Pule itu,”tegasnya.

Untuk itu secara fisik kondisi kedua pasar itu , Pule dan Dongko, butuh perhatian serius dari pihak Propinsi dan Pusat agar mampu bersaing dengan banykanya ritel yang berdiri di kecamatan-kecamatan dengan menawarkan kepada konsumen jenis dagangan yang sama dengan pasar tradisional.

“Kita harus mampu bersaing dengan ritel berjaringan yang kini juga menjual sayur bahkan bumbu dapur serta hasil pertanian yang lain,”imbuhnya.

Harapan Misran, pembinaan yang dilakukan sebagai kewenangannya seimbang dengan kebijakan pemerintah agar laju perekonomian yang ditargetkan tersurat sesuai program pencanangan.

“Mungkin segera ada perhatian dari pihak Pemprov Jatim, karena jika dari pusat sementara ini telah banyak memberikan anggaran sehingga pasar yang di kelas jalan nasional telah mulai terlihat hasil dan wujudnya,”pungkas Misran.(ham)