Festival Balon Udara Trenggalek Dilirik Disparbud

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Festival balon udara yang digelar jajaran pengurus cabang, (PC)  GP Ansor Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dalam rangka memeriahkan Lebaran Ketupat 1440 Hijriyah Tahun 2019 mendapat apresiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) setempat.

Kegiatan sehari ini  berlangsung Kamis pagi,(13/6) bertempat di Stadion Menak Sopal, Kelutan Trenggalek.

Sedikit berbeda pelaksanaan festival ini, secara umum berlangsung meriah dengan berbagai corak balon kreasi berbahan plastik warna-warni, namun balon-balon itu tidak dilepas liar terbang diterpa angin.

“Jadi ini tidak kita lepas terbang ke langit secara bebas, tapi itu di ikat dengan tali seperti laying-layang,”ucap, Sunyoto Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Trenggalek,Jumat,(14/6).

Dikatakannya, acara yang digelar di dalam Stadion Menak Sopal bekerja sama dengan jajaran Pemkab dan Polres Trenggalek mulai pukul 06.00 WIB itu diikuti oleh belasan kelompok peserta dari berbagai penjuru desa di Trenggalek.

“Yang jelas walaupun tujuan utamanya agar pelepasan balon udara saat lebaran Idul Fitri maupun ketupat tidak terjadi lagi dilakukan warga,”katanya.

Warga terfasilitasi dengan kegiatan perlombaan yang bernuansa hadiah itu.

“Balon-balon berisi gas karbonmonoksida dari asap pembakaran kertas dan daun kelapa yang sudah kering itu mengudara tanpa menggunakan sumbu api. Balon mengudara tenang dan tidak terbang liar karena ditambat tali,”imbuhnya.

 

Sunyoto menerangkan, festival ini untuk mengedukasi warga agar tidak menaikkan balon udara sembarangan karena bisa membahayakan keselamatan,” katanya .

Dijelaskannya, pihaknya sedang mempertimbangkan event ini bisa didorong pelaksanaannya agar bisa berlangsung rutin tiap tahun.

“Kalau bisa ini bisa dijadikan even wisata. Apalagi momennya pas bareng lebaran,”tandasnya.

Sementara, Izzuddin Zakki Hafla, Ketua Panitia Festival Balon Udara 2019,  pihaknya memastikan balon-balon udara tersebut aman untuk lalu lintas udara (jalur penerbangan) dan risiko-risiko miring akibat balon udara yang selama ini menghantui.

Zakki menyebutkan bahwasanya festival diselenggarakan karena melihat antusias masyarakat yang mempertahankan tradisi melepas balon udara setiap hari raya.

“Tradisi ini sekarang bertentangan dengan peraturan udara yang bisa mengganggu penerbangan, maka dari itu kita fasilitasi bagi masyarakat yang hobi membuat balon untuk membuat balon bukan secara liar melainkan kita tandingkan di sini,” pungkasnya.(ham)