Kesbangpol Kendal Gelar Lomba Thek-thek Tanda Bebaya

Lomba tek-tek tanda Beboyo.

KENDAL, KANALINDONESIA.COM: Meski sempat diguyur hujan, final Lomba Musik Tradisional Thek-thek Tanda Beboyo tingkat Kabupaten Kendal pada Jumat kemarin (5/7/2019) malam tetap meriah.

Final yang diikuti 6 grup terbaik, yaitu grup dari Desa Pagertoyo Limbangan, Desa Getas Limbangan, Desa Tlogopayung Plantungan, Desa Sukorejo, Desa Penyangkringan Weleri dan Desa Margomulyo Pegandon.

Lomba dibuka oleh Bupati Kendal Mirna Annisa dan disaksikan oleh anggota Forkopimda dan para pejabat Pemkab Kendal. Lomba yang diadakan oleh Kesbangpol Kendal ini untuk memeriahkan Hari jadi Kabupaten Kendal ke-414 dan HUT Bhayangkara ke-73 tahun 2019. Enam finalis merupakan peserta terbaik se Kabupaten Kendal hasil seleksi di tiap-tiap kecamatan yang dilakukan pada tanggal 15 sampai 28 Mei 2019.

Kepala Kesbangpol Kendal, Marwoto mengatakan, lomba Thek-thek ini satu rangkaian dengan lomba siskamling. Tujuannya untuk menggerakkan kembali partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, sehingga tercipta kondisi yang aman, tenteram dan damai.

Lomba musik tradisonal Thek-thek bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Jawa Tengah supaya tetap digemari anak-anak muda.

“Para juara selain mendapatkan piala, piagam dan uang pembinaan juga mendapatkan alat pengeras suara yang bisa digunakan untuk siskamling di pos ronda,” Ungkapnya.

Sementara itu Bupati Kendal, Mirna Annisa meminta agar hadiah alat pengeras suara agar dipasang di poskamling yang setiap hari bisa digunakan untuk memutar lagu-lagu nasional.

Bupati Kendal sudah mengeluarkan Surat edaran yang menginstruksikan kepada semua kecamatan dan desa/kelurahan supaya memutar lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional sesuai jadwal yang telah ditentukan.

“Nanti alat pengeras suaranya dipasang di poskamling ya,” Pinta Mirna Annisa kepada pemenang lomba.

Bupati berharap lomba ini dapat menginspirasi masyarakat dalam melestarikan dan nguri-nguri seni budaya tradisional bangsa. Kesenian musik thek-thek harus dilestarikan dengan cara mempraktekannya secara rutin setiap ronda malam di pos keamanan lingkungan yang ada di desa-desa.

“Dengan memainkan lagu-lagu tradisional yang bervariasi, maka petugas keamanan tetap semangat dalam menjaga lingkungan sekitar,” katanya.

Dijelaskannya, kegiatan siskamling merupakan media paling efektif untuk meredam tindak kejahatan. Selain itu juga bisa mengantisipasi adanya penyebaran radiakalisme dan terorisme serta tindak kejahatan lainnya yang terjadi di wilayah pedesaan.

“Makanya, siskamling di masing-masing desa harus dilaksanakan dan dihidupkan kembali, sehingga akan tercipta situasi dan kondisi lingkungan yang aman, nyaman, damai dan tenteram serta terhindar dari tindak kriminalitas,” harapnya.(eko)