Pemuda Dusun Cumpleng, Brondong Ubah PVC Bekas Jadi Barang Bernilai Tinggi

Mufid Hakim bersama dengan hasil karya-karyanya yang terbuat dari paralon bekas. Foto: omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Beberapa potongan paralon berserakan di salah satu sudut ruangan yang dibangun di teras rumah sederhana yang sengaja dijadikan bengkel kerajinan tangan yang bernilai tinggi tersebut. Biasanya, orang menggunakan pipa paralon atau kerap dikenal dengan pipa PVC (polyvinyl chloride) untuk membuat sistem pengairan di bangunan atau bawah tanah.

Namun, tidak bagi Mufid Hakim (27) warga Dusun Cumpleng Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Lamongan ini mengubah pipa paralon menjadi kerajinan tangan yang cukup menarik terutama sangat bernilai seni yang tinggi. Ada yang berbentuk lampu hias, celengan (tempat menabung) dan beberapa bentuk yang lain.

Barang-barang tersebut dihias dengan berbagai macam motif, ada yang bermotif kaligrafi, bunga, binatang bahkan wajah beberapa tokoh idola yang saat ini digandrungi oleh masyarakat. Harga perunit dipatok dari kisaran Rp. 50. 000 sampai ratusan ribu tergantung dari tingkat kesulitan ukiran dan hiasan.

Sebelum menekuni kerajinan tersebut, Mufid dulunya merupakan seorang petani tambak udang yang tentunya banyak membutuhkan pipa paralon dalam proses pengairannya. Akan tetapi usahanya tersebut gagal dan gulung tikar dengan kerugian puluhan juta rupiah.

HUTke 4 kanalindonesia.com

Sisa usaha yang tambak udang bisa dimanfaatkan sebagai cara mengurangi kerugian adalah dengan cara menjual sisa paralon yang berjumlah puluhan batang tersebut dengan berbagai ukuran.

“Paralon bekas kalau dijual langsung pasti nilainya cukup rendah, karena sudah banyak yang rusak dan tidak utuh lagi,” kata Mufid.

Tapi dia tidak patah semangat untuk mencari informasi di internet, Mufid akhirnya menemukan ide untuk mengolah paralon-paralon bekas tersebut menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual. Berbekal kenekatan akhirnya dia memulai usahanya dengan peralatan seadanya. Dia memberanikan meminjam modal pada lembaga keuangan yang ada untuk melengkapi peralatan dan bahan baku penunjang. Pada awalnya banyak orang yang mencibirnya, menganggap apa yang dia lakukan merupakan pekerjaan yang tidak ada manfaatnya.

“Sampai sekarang masyarakat di sini memandang sebelah mata, bahkan pemerintah desa pun seolah-olah tidak mau tahu apa yang saya kerjakan ini,” keluh Mufid.

Hampir setahun sudah Mufid menekuni usahanya, hasil karyanya banyak dijual ke luar kota diantaranya Surabaya, Jakarta, Semarang, Kalimantan dan bahkan pernah ke Malaysia. Penjualannya dilakukan dengan cara online. Hasilnya bisa dirasakan sekarang, modal pinjaman sudah dikembalikan dan banyak lembaga pendidikan di luar desa yang ingin belajar langsung untuk bisa membuat kerajinan tangan yang sederhana tersebut.

Kevin Adriyansah, merupakan adik kandung Mufid yang sudah bisa mengukir paralon berkat bimbingan Mufid. foto: omdik_kanalindonesia.com

Ada beberapa anak muda yang mulai bergabung dengan bengkel KNY Lamp Art dengan membawa kemampuannya masing-masing. Ada yang ahli di bidang desain grafis, ada yang mahir di bidang ukir dan yang lainnya termasuk Kevin Ardiyansah yang merupakan adik kandung Mufid.

“Pernah salah satu lembaga dari Kecamatan Paciran datang ke sini untuk belajar membuat kerajinan ini,” terang Mufid.

Saat ini Bengkel KNY Lamp Art tersebut sudah memiliki tenaga ahli dalam proses produksinya. Rata-rata mereka adalah anak-anak yang memiliki semangat tinggi untuk belajar mandiri sehingga mereka bisa mengerjakannya secara optimal.

Jurnalis : omdik/ferry
Kabiro : ferry mosses