Nyadran Dam Bagong Trenggalek Ucap Syukur Petani

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Upacara ‘Nyadran’, ritual sembelih hewan kerbau di Bulan Selo (penanggalan Jawa-red) atau bulan pasca bulan puasa, tepatnya di lokasi Dam Bagong, RT 15 RW 5 Dusun Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan/Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dilaksanakan warga dan petani setempat, Jumat,(19/7).

Bupati Trenggalek, Moch Nur Arifin mengatakan, tradisi Nyadran Dam Bagong yang identik dengan sesaji berupa kepala kerbau merupakan ungkapan terima kasih dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil bumi selama setahun.

“Petani yang mendapat aliran air dari sungai Bagong urunan tiap kali panen padi untuk kemudian nantinya disiapkan guna acara nyadran di dam Bagong ini pada tiap Bulan Jawa tepatnya Bulan Selo,”katanya.

Sungai Bagong, menurutnya mengaliri air mulai hulu, seperti Desa Sumurup dan Desa Sengon , keduanya berada di wilayah Kecamatan Bendungan, lalu masuk ke Desa Ngares Kecamatan Trenggalek kemudian di bendung di Bagong oleh Ki Ageng Menak Sopal, utusan Kerajaan Mataram zaman sebelum Masehi.

“Jadi petani itu syukuran sekaligus mengenang jasa Menak Sopal sebagai Pahlawan Pertanian,”tuturnya.

Sedangkan, dari dibendungnya Sungai Bagong tersebut, kini ribuan hektar sawah yang berada di hilir , seperti Kelurahan Surodakan dan Sumbergedong di Kecamatan Trenggalek, dan sebagian ada di desa yang berada di Kecamatan Pogalan.

HUTke 4 kanalindonesia.com

“Kini aliran sungai yang sudah dibendung itu mampu membawa berkah hingga petani setempat bisa memanen sawahnya sebanyak tiga kali,”tegasnya.

Kenapa yang dilarung Kepala Kerbau? Konon masih keterangan Bupati Arifin, pada zaman Menak Sopal untuk membendung Dam Bagong, sang penunggu meminta tebusan Gajah yang berwarna putih. Namun adanya hewan langka itu hanya ada di tempatnya Mbok Rondo Krandon yang bermukim di Desa Kerjo Kecamatan Karangan.

“Gajah Putih itu yang akhirnya dijadikan tumbal oleh Menak Sopal dimana kepalanya dibuang di kubangan air yang dibendung pada sungai Bagong itu,”terangnya.

Seiring perkembangan zaman, entah yang memulai siapa, akhirnya persembahan ritual tersebut tidak lagi dengan kepala Gajah Putih namun terganti dengan kepala kerbau.

“Kini selalu dengan kerbau dimana kepalanya berserta beberapa daging dibuang di Dam , sedangkan dagingnya dimasak warga sekitar untuk konsumsi saat digelarnya wayang,”imbuhnya.

Pagelaran wayang yang digelar usai pelaksanaan Nyadran itu bentuknya wayang yang telah dikemas dalam peruntukan Ngruwat atau istilah bahasa, ruwatan agar terbebas dari marabahaya dan terlimpahkan berkah rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Usai ruwatan langsung digelar wayang kulit di balai setempat,”ungkapnya.

Dari pantauan, upacara adat tersebut terlihat sakral, sebab sebelum kepala kerbau dilarung, terlebih dahulu diarak hingga berjarak sekitar 1 kilometer dan seluruh pengiring memakai pakaian adat Jawa.

“Kita semua, khusus masyarakat Trenggalek harus bangga dan bersyukur. Dimana Trenggalek memiliki warisan legenda Dam Bagong yang dibangun oleh Ki Ageng Menak Sopal,’’ pungkasnya.(ham)