Jamasan Pusaka Pemkab Trenggalek Dibikin Ala Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

TRENGGALEK, KANALINDONESIA.COM: Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, melakukan prosesi jamas pusaka menjelang Hari Jadi ke-825 Trenggalek tahun 2019, Kamis (29/8).

Jamasan pusaka atau siraman pusaka merupakan upacara adat Jawa yang dilaksanakan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pemkab Trenggalek juga melaksanakan upacara adat ini untuk membersihkan beberapa pusaka Kabupaten, diantaranya dua Tombak Korowelang, Songsong Tunggul Projo, Songsong Tunggul Nogo Panji Lambang Kabupaten dan Parasamya Purna Karya Nugraha.

Prosesi jamasan ini biasa dilakukan di pendopo Manggala Praja Nugraha Kabupaten Trenggalek sebelum pelaksanaan hari jadi.

Tidak hanya upacara jamasan yang bernuansa Kraton Ngayogyakarta, pakaian yang dikenakan segenap tamu undangan juga gagrak Yogya mulai ikat di kepala sampai dengan jarik yang digunakan.

Untuk ikat kepala menggunakan Blangkon khas Yogya dengan mondolan di belakang.

Mengutip dari sebuah artikel Martinrecord.com, blangkon bukan hanya sebagai alat untuk melindungi kepala. Selain bisa melindungi dari terik panas dan hujan penutup kepala ini diharap mampu memancarkan keindahan dan kegagahan.

Blangkon juga memiliki filosofi transcendental antara mahluk dengan pencipta-Nya. Bila diperhatikan maka blangkon akan memiliki dua ujung kain yang mana satu mensimbolkan syahadat Tauhid dan satu lagi mensimbolkan syahadat Rasul.

Bila dua syahadat tersebut disatukan maka akan menjadi syahdat ‘ain. Bila pertemuan dua syahadat tersebut diletakan diatas kepala artinya berada di tempat yang terhormat.

Ciri Blangkon Yogya mempunyai mondolan, mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-onde. Pada waktu itu, awalnya laki-laki Jogja memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas (seperti Patih Gajah Mada) kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.

Kemudian menjadikan salah satu filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa. Dia pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, dia akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagai mana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.

Selain itu dua ujung kain dijahit dengan blangkon sehingga berbentuk sayap kupu-kupu yang cantik, dan menambah keindahan blangkon itu sendiri.

Untuk baju mengenakan pakaian Sorjan dilengkapi bebatan kain jarik wiron Yogya. Kain jarik diwiru atau dilipat lipat seperti kipas sesuai dengan pakem. Lipatan jumlahnya ganjil, 3, 5, 7, 9 dan seterusnya, semakin banyak lipatannya akan semakin baik.

Untuk gaya Yogya, pinggiran kain atau yang disebut tumpal dilipat keluar atau garis putih jarik diperlihatkan sebagai simbol historis Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sangat dekat dengan rakyat.

Kekentalan juga terlihat pada prosesi penjamasan yang didahului dengan selamatan sebagai simbol wujud syukur atas limpahan keberkahan dari Allah SWT.

Dalam jamasan ini pusaka kabupaten, dua Tombak Korowelang, Songsong Tunggul Projo, Songsong Tunggul Nogo, Panji Lambang Kabupaten dan Parasamya Purna Karya Nugraha dibersihkan dengan air yang berasal dari 14 sumber air di 14 Kecamatan yang ada di Trenggalek.

Sebelum dibersihkan, pusaka-pusaka Kabupaten Trenggalek ini terlebih dahulu diserahkan orang nomor satu di Trenggalek ini kepada juru jamas KRT. dr. Sarjono Baskoro.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menegaskan jamasan pusaka merupakan momentum yang sangat penting dalam prosesi Hari Jadi ke-825 Trenggalek.

“Ini prosesi sacral tiap menjelang hari jadi,” ungkapnya saat memberikan sambutan.

Prosesi adat jamasan merupakan warisan budaya leluhur dengan berbagai ritual dan ketersediaan bahan yang dipakai untuk membersihkan pusaka seperti cuka dan buah jeruk nipis.

“Upacara adat jamasan pusaka ini dalam rangka meneruskan adat yang diwariskan oleh para leluhur pendahulu Trenggalek,” imbuhnya.

Jamasan pusaka bukannya karena kesaktiannya melainkan sebagai simbol dalam adat Jawa selalu ada pusaka yang dulu digunakan untuk berjuang, sedangkan sekarang digunakan sebagai simbol untuk mengenang perjuangan tersebut.

Diharapkan dengan terus dilestarikan dapat menggugah hati dan semangat kita semua untuk meneruskan perjuangan pendahulu.

Mengakhiri sambutannya, Mochamad Nur Arifin tidak lupa mengucapkan ucapan selamat hari jadi Trenggalek ke-825. (ham)