Kisah Korban Q-Net (Part 2), Anak Rantau dan Anak Desa Salah Satu Sasaran Empuk Mereka

LUMAJANG, KANALINDONESIA.COM: Berita ini ditulis oleh salah satu anggota Grup Facebook ‘Sahabat M.A.S’ dengan nama akun ‘erwin perjaka’  yang menceritakan pengalamannya terkait penipuan Qnet, sebut saja Erwin. Dirinya menuliskan bahwa hampir saja tertipu oleh perusahaan bodong tersebut.

Erwin berangkat ke Surabaya dalam rangka mencari pekerjaan, namun sudah sebulan melanglang buana di Surabaya tetapi tidak mendapat pekerjaan juga. Karena tidak memiliki tujuan dan dilanda lelah yang amat sangat, Erwin pun duduk di bangku depan mall CITO. Tiba tiba datang seorang cewek cantik disebelah Andi “polos banget muka dia kelihatan banget kalau anak perantauan” dalam hati Erwin.

Diapun memulai pembicaraan “lagi apa mas” disini Erwin yang kegirangan mendapat perlakuan baik oleh seorang cewek cantik pun mulai luluh dibuatnya. Setelah ngobrol ngalur ngidul, si cewek tersebut menyarankan Andi untuk  datang ke PLAZA BRI Surabaya (Jl. Basuki Rahmat) katanya ada interview kerja.

Tiba tiba cewek tersebut minta tolong kepada Erwin untuk SMS ke temannya  untuk dijemput dengan alasan cewek tersebut HPnya rusak. Tanpa pikir panjang  Erwin pun mengiyakan permintaan si cewek tersebut. Disinilah keanehan mulai muncul dimana SMS tadi belum mendapat balasan tetapi si cewek tersebut bergegas pulang dengan berkata, “mungkin temen saya masih sibuk mas, “ujar cewe tersebut.

Pada malam hari, ada nomor yang tidak dikenal SMS ke nomor Erwin yang ternyata dari cewek yang tadi ditemuinya. Cewek tersebut SMS dengan penuh perhatian dan merayu Erwin agar datang ke Plaza BRI untuk memenuhi ajakannya. Dalam hati Erwin mulai muncul rasa curiga, akhirnya Erwin mengajak temannya untuk memenuhi ajakan ke Plaza BRI tersebut.

Sesampainya disana, cewek yang mengajak Erwin tersebut kaget karena Erwin datang tidak sendirian, lalu mereka berdua diajak ke suatu ruangan di Plaza BRI tersebut.

Setelah sampai di suatu ruangan, disinilah dijelaskan tentang prosedur kerja PT Qnet dan ruangan tersebut penuh dengan anak anak desa yang masih Polos. Mereka diperintahkan membayar sekian juta dengan iming-iming mobil mewah. Jika tidak memiliki uang, saran dari mereka yakni menggadaikan harta bendanya agar dapat bergabung di PT Qnet tersebut.

“Ya Allah..aku yang sudah faham dengan apa itu Q net hanya bisa diam. Aku nggak tega kalau harus bilang bahwa mereka telah ditipu, tapi aku juga takut kalau aku jujur ke mereka,” gumam Erwin dalam hati.

Kapolres Lumajang AKBP DR Muhammad Arsal Sahban yang merupakan putra daerah dari Makassar mengungkapkan, “rata rata korban dari bisnis model piramida adalah masyarakat dari desa yang pengetahuannya tidak mumpuni agar dapat dengan mudah dicuci otak. Mereka dipaksa menggadaikan hartanya agar bisa bergabung ke bisnis tersebut. Sebenarnya mereka tidak butuh barang yang dijual, tapi prospek bisnisnya yang mereka inginkan, yang hanya membutuhkan mencari 2 anggota lain sebagai kaki kanan dan kaki kiri. Setelahnya mereka percaya kalau setelah itu hanya tinggal menunggu harta berlimpah akan mereka dapatkan dari bonus-bonus penjualan dibawahnya,” ujar Arsal yang merupakan alumnus S3 Universitas Padjajaran Bandung angkatan 2010 ini.