Puskas Baznas dan FEM-IPB Gelar The Islamic Economics Winter Course 2019

BOGOR, KANALINDONESIA.COM — Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Puskas Baznas) bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (FEM-IPB) menggelar acara The Islamic Economics Winter Course (IEWC) 2019.

Event ini dilaksanakan hari Senin hingga Sabtu (14-19/10/2019) di Gedung Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB Bogor.

Ketua Baznas, Prof. Bambang Sudibyo MBA, CA.

Beberapa tokoh regulator, praktisi, peneliti dan akademisi hadir sebagai pembicara, antara lain Ketua Baznas, Prof. Bambang Sudibyo MBA, CA; Prof. Dato’ Mohd. Azmi Omar selaku President International Centre For Education In Islamic Finance (INCEIF) Malaysia;

Prof. Mehmet Asutay selaku Direktur Badan Ekonomi dan Keuangan Islam Durham, Inggris; Prof. Hasanudden Abd. Azis dari International Islamic University Malaysia (IIUM); Prof. Mustafa Omar Mohammed dari IIUM;

Prof. Raditya Sukman dari Universitas Airlangga Surabaya; Dr. Irfan Syauqi Beik selaku Direktur Pendistribusian & Pendayagunaan Baznas; Prof Aslam Haneef dari IIUM;

Dr. Dadang Muljawan selaku Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia; Dr. M. Hasbi Zaenal selaku Direktur Puskas Baznas; dan Prof Dr Yusman Syaukat dari IPB Bogor.

Ketua Baznas, Prof. Bambang Sudibyo MBA, CA mengatakan para peserta merupakan pelaku industri, akademisi dan peneliti yang datang dari berbagai negara seperti Nigeria, Bangladesh, Thailand, Malaysia dan Indonesia.

“Acara ini membahas isu-isu global terkini terkait perbankan dan keuangan syariah baik dari aspek ekonomi maupun hukum syariah serta isu-isu keuangan inklusif dan sosial syariah,” ujar Prof. Bambang Sudibyo.

Mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurrahman Wahid ini menjelaskan berbagai data menguatkan optimisme akan masa depan ekonomi islam, termasuk pengelolaan zakat nasional yang cerah, sehingga penting untuk menyiapkan layanan yang terbaik bagi muzaki dan mustahik.

Dengan layanan terbaik ini, zakat akan makin tumbuh dengan baik dan memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia islam masa kini.

“Populasi Muslim saat ini sekitar 22 persen dari populasi dunia, dan di antara semua agama di dunia pertumbuhan pemeluk Islam adalah yang terbesar. Dengan pertumbuhan populasi tercepat ini, diperkirakan pada tahun 2050 Muslim sudah menjadi yang terbesar,” jelas Bambang yang juga menyampaikan materi berjudul The Role of Zakat in the Contemporary Development of Islamic World.

Ia menambahkan, tren perkembangan demografi ini tentu berdampak besar pada potensi dan perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk di dalamnya zakat.

“Misalnya, sistem keuangan syariah dunia yang pada 2017 nilainya hanya 2,438 Miliar dolar ASpada 2023 diperkirakan akan menjadi 3,809 miliar dolar AS. Bisnis makanan halal yang nilainya hanya 1,303 miliar dolar AS pada 2017, pada 2023 diperkirakan akan menjadi 1,863 miliar dolar AS,” kata Prof. Bambang Sudibyo.

“Begitu pula dengan wisata perjalanan halal yang pada 2017 nilainya hanya 177 miliar dolar AS, kelak pada 2023 diperkirakan akan naik menjadi 274 miliar dolar AS,” imbuhnya.

Press conference The Islamic Economics Winter Course (IEWC) 2019 di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Bogor. 

Ditambahkan oleh Irfan Syauqi Beik mengatakan, sektor ekonomi syariah menjadi salah satu sektor yang memiliki tren pertumbuhan yang cepat dibandingkan sektor yang lain. Perkembangan yang dinamis ini tentunya harus didukung dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk memberikan dukungan bagi industri-industri yang bergerak dalam sektor ekonomi syariah.

“Dalam rangka memenuhi tuntutat pasar tersebut, maka diperlukan suatu pelatihan dan kursus untuk meningkatkan skill dan juga kemampuan SDM dalam bidang ekonomi syariah. Karena itu Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS dan Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM IPB menginisiasi kegiatan IEWC ini,” ucap Irfan.

Menurutnya, IEWC merupakan kursus singkat ekonomi syariah secara komprehensif. Tidak hanya itu, IEWC juga memfasilitasi para peserta untuk dapat mengunjungi secara langsung industri-industri kunci dalam sektor ekonomi syariah.

Kemudian melihat secara langsung Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan mengelola dan mengatur industri keuangan syariah di Indonesia serta berkunjung ke kantor pusat Baznas untuk melihat bagaimana pengelolaan zakat nasional dilakukan secara profesional.

Para peserta juga difasilitasi untuk dapat melihat langsung bagaimana kegiatan ekonomi syariah masyarakat seperti di kampung Batik Cibuluh dan Tegal Waru Bogor yang menjadi desa binaan Baznas.

“Semoga para peserta IEWC mendapatkan wawasan dan keilmuan pada bidang ekonomi syariah secara komprehensif baik dari aspek teoritis maupun dari aspek praktek,” harap Irfan.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB Asep Nurhalim mengapresiasi kerjasama antara Baznas dan IPB sebagai upaya untuk memperkuat sosialisasi dan edukasi ekonomi syariah, termasuk ekonomi dan keuangan sosial syariah.

“Diharapkan kegiatan ini memberi dampak positif dalam memperkuat literasi ekonomi syariah,” tutur Asep Nurhalim kelahiran tahun 1973 ini mengakhiri. @Rudi