Datang ke Desa Mungli, Tiga Warga Belanda Belajar Mina Padi

Tiga warga Belanda saat di persawahan Desa Mungli, Kecamatan Kalitengah, Lamongan mengadakan studi tentang sistem mina padi pada gapoktan setempat. foto: omdik_kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Lamongan siang itu sepertinya tidak menyurutkan warga Desa Mungli, Kecamatan Kalitengah, Lamongan untuk datang ke persawahan yang berada di pinggiran desa. Semangat mereka siang itu karena di desa tersebut kedatangan tiga orang tenaga pengajar dari  Universitas dan Research Wageningen, Den Haag, Belanda, Senin (14/10/2019).

Mereka bertiga ingin melaksanakan kegiatan studi tentang penggunaan sistem mina padi di desa yang sering mendapat penghargaan tentang desa berprestasi di bidang pertanian dan penataan desa tersebut. Mina padi merupakan sistem pertanian padi sembari budidaya ikan. Pertanian kombinasi perikanan ini sudah banyak diterapkan oleh petani di Desa Mungli  dan terbukti berhasil.

Mereka yang datang dari negeri Belanda tersebut terdiri dari Dr. Annemiek Pas Schrijver, Mariette MC. Campbell dan Elizabeth Freed sangat tertarik dengan cara bertani masyarakat di Indonesia terutama di Desa Mungli, Kecamatan Kalitengah. Berkaca dari pengalaman negeri Belanda yang juga hidup dari sektor pertanian, mereka juga ingin mengajak para petani di Desa Mungli untuk menyadari bahwa industri pertanian bisa dijadikan pendorong utama perekonomian.

Annemiek Pas Schrijver mengatakan bahwa sistem pertanian di Indonesia sangat beragam dan memiliki ke khasan tersendiri menyesuaikan dengan kondisi alamnya masing-masing. Cara tanam petani di lereng gunung akan berbeda dengan dengan sistem pertanian yang dianut masyarakat yang berada di daerah kering.

“Kalau pola tanam dengan sistem mina padi bagi masyarakat Desa Mungli dan sekitarnya mungkin sudah biasa, akan tetapi bagi kami di Belanda sangat unik dan baru. Karena sistem ini memadukan proses menanam padi dan memelihara ikan dalam satu lahan,” kata Annemiek.

Universitas Wageningen, sebagai pusat studi dan juga pusat riset pertanian Belanda, turut memainkan peran kunci dalam kemajuan pertanian yang dicapai negeri berpenduduk sekitar 17 juta jiwa ini (dibandingkan Indonesia yang 240 juta jiwa). Universitas Wageningen menjadi salah satu pusat riset dengan hasil risetnya diterapkan Pemerintah Belanda dalam menjalankan roda pertanian Negeri Kincir Angin itu.

Gatot Sunyoto, Ketua Gapoktan Sri Rejeki Desa Mungli memberikan penjelasan kepada warga Belanda tentang mina padi. foto: omdik_kanalindonesia.com

Sementara itu, ketua Gapoktan Sri Rejeki Desa Mungli, Gatot Sukamto menjelaskan, pengembangan pertanian mina padi di Desa Mungli berawal dari keresahan petani, karena masa panen padi dalam musim penghujan sering terganggu dengan datangnya air yang melimpah dan susah surutnya. Wilayah lahan pertanian Desa Mungli merupakan daerah yang sering terendam air apabila memasuki musim penghujan. Permukaan lahan pertanian yang sejajar dengan aliran Sungai Bengawan Jero menyebabkan sawahnya tidak dapat dimanfaatkan untuk menanam padi di musim penghujan.

“Musim hujan airnya susah surut. Sehingga sawah terendam air lebih lama dan tanamam padi tidak dapat berkembang. Akhirnya warga berfikir, bagaimana jika memanfaatkan air banjir untuk perikanan dengan menerapkan program pertanian mina padi,” kata Sutrisno.

Gatot juga menambahkan Ikan yang dikembangkan dalam sistem pertanian mina padi tumbuh lebih cepat. Selain itu, kebutuhan pakan ikan jauh lebih sedikit dibanding dibudidayakan di kolam (tambak). Jika dikalkulasi secara matematik, kebutuhan pakan dari pabrikan hanya setengahnya dari kebutuhan saat dibudidayakan di kolam.

Dalam kesempatan yang sama, Sutrisno, yang akan menjabat sebagai Kepala Desa Mungli untuk kali ketiga turut bangga atas keberhasilan petani di Desa Mungli, sehingga mendapat perhatian dari ilmuwan pertanian dari negeri Belanda untuk datang ke Desa Mungli. Wageningen, sebagai salah satu pusat studi dan pusat riset pertanian, pada akhirnya tidak hanya menampung mahasiswa-mahasiswa domestik untuk gelar doktor (PhD), tetapi juga menjadi semacam pusat riset yang lebih internasional.

”Menurut informasi, mereka tak hanya melakukan riset di sini, tetapi juga riset di beberapa negara lain. Jadi sebuah kebanggan bagi Desa Mungli bisa dijadikan sebagai salah satu perwakilan yang ada di Indonesia,” ungkap Sutrisno.

Sutrisno juga akan mencontoh bangsa Belanda yang mau belajar dari pengalaman selama perekonomian sulit di masa Perang Dunia ke-2, Belanda pun melakukan investasi di bidang riset. Dari riset-riset ini kemudian digulirkan inovasi-inovasi, di antaranya untuk industri pertanian. Untuk itu dalam masa jabatan yang memasuki periode ketiga nanti, dia akan mewujudkan terobosan baru dengan mewujudkan desa wisata dengan mengandalkan keunggulan dalam sektor pertanian.

Jurnalis  : omdik

Kabiro   : ferry mosses