Fahri Hamzah : Kunjungan Raja Salman ini Lebih Merupakan Sejarah

wakil DPR RI Fahri Hamzah ( istimewa)

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA : Di era kepemimpinan Soeharto, pada tanggal 10 Februari hingga 13 Juni 1970 atau pada 47 tahun silam Raja Faisal mengunjungi Indonesia, dan kini di era pemerintahan Joko Widodo, Raja Faisal juga akan berkunjung ke Indonesia, pada tanggal 1 Maret 2017 mendatang. Untuk itu DPR RI berharap pemerintah dan MPR/DPR RI mesti menyiapkan diri semaksimal mungkin.

Dimana kunjungan itu akan ada dua tahap, yang diawali dengan kedatangan  Majelis Syura  Arab Saudi, atau semacam DPR/MPR-nya Arab Saudi. Dalam pertemuan tanggal 15 – 16 Februari itu akan membahas persiapan pertemuan Raja Salman pada 1 Maret 2017 itu dengan Presiden Jokowi dan MPR/DPR RI.

“Kunjungan Raja Salman ini lebih merupakan kunjungan sejarah. Yaitu  sebagai napak tilas dari kunjungan Raja Faisal. Raja Saudi itu berkunjung ke Indonesia pada 10 – 13 Juni 1970 silam. Dan, kedatangan Raja Salman ini mengulangi napak tilas Raja Faisal selama seminggu lebih di Indonesia. Mengingat ini kunjungan bersejarah, maka kita harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik,” demikian Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah pada wartawan di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu (8/2/2017).

Selama di Indonesia Raja Faisal juga akan bertemu dengan para menteri kabinet kerja Jokowi-JK. Karena ini kunjungan historis, Fahri meminta penyambutannya juga dengan baik. “Saya menonton video kunjungan Raja Faisal 47 tahun lalu. Sejak dari Kemayoran sampai Istana Negara, Raja disambut anak-anak sekolah, mengangkat bendera Arab Saudi, dan bendera Merah Putih dan dijemput langsung oleh Pak Harto pada waktu itu,” ujarnya.

Kunjungan seperti itu menurut Fahri dirindukan oleh Raja Salman. Terlebih  Saudi merupakan negara sahabat paling lama, sehingga penyambutannya mesti dengan sebaik-baiknya. Saudi bukan saja tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), tapi juga memiliki kekuatan ekonomi yang dahsyat. Saudi juga telah mengembalikan kuota haji Indonesia dari 2010 ribu jamaah menjadi 260 ribu jamaah. “Kalau kita pandai komunikasinya, kuota haji itu bisa ditambah lagi oleh Raja Salman,” ujarnya.

Apalagi sekarang ini sudah ada Badan Pengelola Keuangan Haji, jadi sudah bisa menalangi orang-orang tua yang belum bisa menuntaskan pembayarannya. Bisa dituntaskan dlu dengan mendapat jaminan dari Badan Pengelola Haji.

Namun demikian dia berharap semua berhati-hati ketika menyinggung Iran, karena hubungannya dengan Arab Saudi sedang kurang baik. Sehingga Indonesia harus lebih hati-hati menyadari keduanya adalah negara sahabat.

Dimana Indonesia dalam membangun relasi dengan mereka tentu tidak boleh melukai atau menambah ketegangan kedua negara tetangga sahabat tersebut. “Kalau perlu Indoensia bisa mengajak Arab Saudi dan Iran untuk bersatu dan lebih baik ke depan,” pungkasnya.