Sumbangan Pembangunan Mushola Diprotes Ortu Siswa SMPN 1 Bangkalan

KANALINDONESIA.COM, BANGKALAN : Pungutan sumbangan pembangunan mushola dilingkungan sekolah sebesar 400 ribu /siswa diprotes beberapa orang tua (ortu) siswa kelas VII SMPN 1 Bangkalan Kabupaten Bangkalan Jawa Timur. Karena dianggap cukup memberatkan bagi ortu siswa yang tidak mampu. Apalagi pungutan itu hanya dikenakan kepada siswa kelas VII, sedangkan kelas VIII dan kelas IX bebas dari dipungut sumbangan. Hal tersebut disampaikan salah satu ortu siswa inisial S (40) warga Kelurahan Pejagan Kecamatan Kota Bangkalan. Juga ortu siswa lainya yakni M (39) warga Kelurahan Tonjung Kecamatan Burneh.

“Kami merasa keberatan jika dipungut sumbangan pembangunan mushola sekolah sebesar 400 ribu. Karena terbilang membebani bagi ortu yang tidak mampu seperti kami ini,” kata S, Senin, (13/2/2017).

Keluhan dan pertanyaan serupa juga disampaikan oleh M, kenapa ortu siswa kelas VIII dan kelas IX dibebaskan dari sumbangan pembangunan mushola sekolah. Padahal jika seandainya saja sama-sama dipungut sumbangan. Secara tidak langsung jumlah dana yang harus dikeluarkan setiap ortu bisa lebih kecil.

“Jika saja ortu kelas VIII dan kelas IX dipungut sumbangan. Jumlah uang  yang harus dikeluarkan ortu siswa kelas VII bisa di tekan menjadi Rp.100 ribu perorangnya,” pungkas M.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 1 Bangkalan, Ahmad Anwari saat dikonfirmasi melalui Wakasek SMPN 1 Bangkalan, Indiarti mengatakan sama sekali tidak ada unsur paksaan dalam  pungutan sumbangan pembangunan mushola sekolah tersebut. Dalam rapat antara pihak sekolah dengan ortu siswa sebanyak 282 orang dan Komite Sekolah SMPN 1 Bangkalan. Sudah disepakati jumlah sumbangan per ortu siswa sebesar 400 ribu.Dengan catatan bagi ortu siswa kurang mampu bisa mengajukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), suoaya  tidak dipungut sumbangan.

“Jika ada ortu siswa yang keberatan dan tidak setuju terhadap pungutan tersebut mengapa tidak disampaikan pada waktu rapat? Kami tidak pernah memaksa ortu siswa yang tidak mampu untuk ikut menyumbang pembangunan mushola sekolah,” elak Wakasek Indiarti. (yans)