Seminar Sepakbola Usia Dini, Menpora Ingin Pembinaan Usia Dini Wajib Jadi Perhatian Utama PSSI

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA – Menpora Imam Nahrawi didampingi Staf Khusus Menpora Bidang Keolahragaan Taufik Hidayat, Sekretaris Deputi Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta, dan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi membuka Seminar Sepakbola bertajuk Menata Pertandingan Sepakbola Usia Dini dan Usia Muda Menuju Kejayaan Sepakbola Indonesia, Kamis (16/2/2017) pagi, di Wisma Menpora, Senayan, Jakarta.

Demi mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain disemua cabang olahraga khususnya sepakbola maka pembinaan usia dini dan usia muda merupakan hal penting dan wajib menjadi agenda pembinaan di PSSI. Menpora menyampaikan diawal sambutannya.

“Terima kasih kepada BLiSPI (Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia) yang telah menyelenggarakan seminar penting pagi ini, dan kepada PSSI pembinaan usia dini wajib menjadi agenda federasi,” kata Menpora.

Selain hal tersebut menanggapi apa yang disampaikan Ketua Umum PSSI tentang permasalahan sepakbola, Menpora mengatakan bahwa PSSI telah terbuka kepada semua pihak sehingga posisi pemerintah akan memberikan dukungan penuh demi prestasi yang semakin baik dan merah putih berkibar dibelahan dunia manapun.

Ditambahkan bahwasanya program 1.000 lapangan desa adalah program baru yang tidak lain bentuk kepedulian pemerintah untuk menghidupkan kembali sentra-sentra olahraga di desa khususnya dapat digunakan untuk pembinaan sepakbola dan mencari bibit-bibit berbakat sejak dini dan usia muda.

“Kini di desa-desa sudah banyak yang dulu lapangan sekarang beralih fungsi, maka program revitalisasi 1.000 lapangan desa merupakan program baru untuk menghidupkan kembali sentra-sentra olahraga di desa,” demikian jelas Menpora.

Lebih lanjut disampaikanya,”kita dukung PSSI demi merah putih berkibar dibelahan dunia manapun, dan terima kasih kepada penyelenggara serta kepada seluruh peserta selamat melaksanakan seminar,” tutup Menpora.

Sementara dalam sambutannya Ketua Umum PSSI memaparkan data-data yang menjadi kosentrasi pembenahan berbagai permasalahan, diantaranya kondisi jumlah pemain, jumlah pelatih yang berlisensi AFC/FIFA, jumlah lapangan yang memenuhi standar FIFA, jangankan dibandingkan dengan negara-negara Eropa, untuk di Asia Tenggara saja masih tertinggal dari Singapura.

Dari data yang didapat saat ini, Indonesia yang berpenduduk 250 juta hanya ada 67 ribu pemain berarti hanya 0,026%, sedangkan Singapore ada 190 ribu pemain dari jumlah penduduk 4,5 juta jiwa atau 4,39% dari jumlah penduduk.

Dari sisi pelatih berlisensi AFC/FIFA Indonesia hanya memiliki 5 orang, itupun yang 2 orang sudah tidak bisa dipakai, sementara Singapore punya 15 orang.

Dari sisi lapangan yang bersandar FIFA juga masih jauh, Singapura mempunyai 21 lapangan, sementara Indonesia hanya 2 lapangan dan 23 lapangan saja yang layak pakai.

Dari data-data tersebut menjadi tekad PSSI untuk berbenah namun perlu bantuan semua pihak, seluruh pemerhati dan insan sepakbola serta dukungan pemerintah.

“Saya tidak bisa sendiri, butuh bantuan semua pihak dan dukungan pemerintah agar prestasi sepakbola Indonesia semakin maju,” ucap Ketua Umum PSSI yang juga menjabat Pangkostrad.

Dari penjelasan Ketua Penyelenggara Subagyo Suwihan, seminar diikuti para pemerhati sepakbola, pengelola sekolah sepakbola, pelatih dan mantan pelatih serta mantan pemain dari seluruh daerah di Indonesia berjumlah 300 peserta, bahkan ada dari daerah yang biasanya tidak pernah ada sekarang ikut hadir seperti dari Tasikmalaya, Sopeng, dan Wajo.

Acara pembukaan seminar ditandai dengan penyerahan seminar kit oleh Menpora dan Ketua Umum PSSI kepada dua orang perwakilan peserta dari Papua Denni Harpu dan dari Aceh Rabu Juli. Turut hadir Asdep Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Khusus Olahraga Teguh Raharjo, Asdep Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Bayu Rahardian, Waketum PSSI Joko Driyono, dan Sekjen PSSI Ade Wellington.(gardo)