Kekurangan Penyidik, Kejari Kota Pasuruan Minim Tangani Kasus Korupsi

ilustrasi

KANALINDONESIA.COM, PASURUAN : Minimnya kasus korupsi yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pasuruan, diklaim karena keterbatasan jumlah personel penyidiknya.

Dalam kurun waktu tahun 2015 hingga 2016 lalu, Kejari Kota Pasuruan hanya berhasil mengungkap dua kasus korupsi yakni anggaran mamin ruang kelas VIP RSUD dr. R. Soedarsono, Kota Pasuruan yang menetapkan mantan direkturnya sebagai terdakwa. Serta satu lagi adalah kasus korupsi pembangunan ruang kelas SMPN 11 Kota Pasuruan.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kota Pasuruan Siswono mengatakan, terbatasnya jumlah penyidik memang menjadi kendala tersendiri bagi pihaknya untuk menyoroti kasus dugaan korupsi.

“Penyidik kami memang hanya tiga orang, jumlahnya memang terbatas. Namun, kami sudah berusaha maksimal dalam bekerja,” ujar Siswono.

Di sisi lain menurut Siswono, ukuran kinerja juga tidak hanya diukur dengan kuantitas kasus yang berhasil diungkap.

Pihaknya lebih memilih berhati-hati dalam menyoroti sebuah kasus dugaan korupsi. Sebab, saat ini ada aturan yang tidak sembarang membolehkan suatu kebijakan ditetapkan sebagai korupsi.

Selain itu, pihak Kejari juga tidak merasa sedang berkompetisi dengan institusi kepolisian untuk jumlah kasus korupsi yang ditangani.

“Kami tidak ingin terkesan berebut kasus yang ditangani. Kan sama-sama penegak hukumnya. Jadi, kalau memang sebuah perkara telah ditangani pihak kepolisian, tidak masalah bagi kami,” pungkasnya. (bet)