Diduga Depresi Karena Istri Tersandung Hukum, Warga Ponorogo Nekat Akhiri Hidup Minum Cairan Pemutih

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Diduga alami masalah keluarga IM(46) warga Perumahan Bhumi Citra Praja, Kelurahan Beduri, Kecamatan/ Kabupaten Ponorogo nekat mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan pemutih, Sabtu(30/05/2020) malam.

Kejadian berawal saat sekira pukul 21.00 WIB istri korban melihat yang bersangkutan selepas sholat isya duduk di teras rumah sambil memegang tasbih kelihatan berdzikir. Tidak berselang lama kemudian korban masuk ke ruang tamu menghampiri istrinya yang sedang tiduranu.

Korban sempat meminta maaf kepada istrinya karena tidak dapat membantu menyelesaikan masalah yang dilakukan istrinya, sehingga  keluarga  terkena imbasnya, kemudian istri menjawab tidak apa-apa dan meminta agar korban bersabar. Kemudian korban masuk ke rumah bagian samping tempat korban shalat.

Baca:  Belasan Pekerja Tertimbun Longsor di Ponorogo

Tidak beberapa lama korban dengan setengah berlari mendorong pintu ruang tamu tempat istrinya tiduran, Melihat korban mengeluarkan cairan busa putih dari mulut dan hidungnya, sang istri segera menolong korban dan meminta anaknya agar mencari bantuan ke tetangga untuk membawa korban ke rumah sakit.

Dengan dibantu tetangga selanjutya korban dilarikan ke rumah sakit Darmayu dengan menggunakan mobil milik tetangga, namun setibanya di RS Darmayu korban sudah meninggal.

“Korban diduga meninggal akibat meminum cairan H2O2 (Hidrogen Piroxid) atau cairan pemutih untuk memutihkan sapu lidi, hal tersebut dikuatkan dengan keterangan istrinya yang pada saat menolong korban sempat membersihkan cairan muntahan korban yang tercium aroma cairan pemutih serta terasa panas pada tangan dan meninggalkan noda putih ditanganya,”ucap Kapolsek Ponorogo Kota AKP Haryo Kusbiantoro.

Baca:  Bertemu Khofifah, Ketua DPD RI Siap Dukung Perpres Percepatan Pembangunan di Jatim

Ditambahkan Kapolsek,”dari keterangan keluarga, diduga korban nekat meminum cairan pemutih lantara mengalami depresi memikirkan kasus penggelapan yang dilakukan oleh istrinya dan ditangani oleh Polda jatim. Kemudian pada tanggal 28 Mei 2020 rumah korban dipasang tanda pengumuman bahwa rumah telah disita oleh Dit Krimum Polda Jatim, sehingga korban  semakin bertambah depresi,”tegasnya.

Atas kejadian tersebut pihak keluarga sudah menerima dan ikhlas sebagai musibah serta tidak menuntut kepada siapapun.

“Selanjutnya jenazah korban diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan sebagaimana mestinya,”pungkas AKP Haryo Subiantoro.