SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan senilai Rp48,9 miliar dengan terdakwa Lily Yunita kembali digelar. Kali ini Jaksa Penuntut Umum dari Kejati Jatim menghadirkan saksi fakta, Selasa (14/9/2021).

Saksi fakta itu adalah Rizky Tri Ardianto, karyawan bagian keuangan di Samudra and Co, sebuah kantor di Surabaya yang bergerak dibidang jasa hukum, tempat Rahmat Santoso bernaung.

Keterkaitan saksi Rizky dalam perkara ini ialah mengenai pembebasan lahan milik H. Djabar di Osowilangon, Kecamatan Tandes yang ditangani oleh Rahmat Santoso.

Dalam sidang, saksi Rizky mengungkap fakta mencengangkan bahwa di tahun 2019 kantornya pernah terima pinjaman uang dari terdakwa Lily Yunita sekitar Rp 13,5 miliar. Pinjaman itu kata saksi Rizky atas inisiatif dari Rahmat Santoso.

“Kantor saya pernah terima aliran dana dari Lily. Dana itu sifatnya pinjam meminjam. Ada kwitansinya, kurang lebih Rp 10,5 miliar,” katanya dalam persidangan secara virtual di PN. Surabaya. Selasa (14/9/2021).

Ditanya Hakim ketua Erentua Damanik, apakah pinjam meminjam tersebut ada batas waktunya.? Saki Rizky menjawab tidak.

“Tidak ada jatuh temponya, tapi hanya dijanjikan akan dibayar secepatnya. Tiba-tiba ada uang masuk ke rekening saya dari Ibu Lily Rp 13,5 miliar untuk kantor. dari hutang 13,5 miliar tersebut sudah dibayar Rp 3,5 miliar,” jawabnya.

Dalam sidang saksi Rizky juga mengungkapkan bahwa pinjam meminjam tersebut ada bunganya.

“Tanggal 7 Juli, Rahmat Santoso pinjam uang Lily Yunita Rp 500 juta,” ungkapnya.

Ditanya Jaksa Penuntut Hari Rahmat Basuki siapakah H. Gwan,? Saksi Rizky mengaku tidak mengenalnya.

Ditanya lagi lagi, kenapa ada pembayaran Rp 9 miliar ke Kho Andik,? Saksi hanya menjawab untuk pembayaran pembelian jam. Pak Rahmat juga pernah beli jam Rolex harganya Rp 400 juta.

Ditanya Jaksa Farida Hariani, kenapa uang sebanyak itu masuk ke rekening pribadi saksi Rizky dan bukan ke rekening kantor hukum Rahmat Santoso and Partner atau ke Samudra and Co,? Saksi Rizky menjawab bahwa ke dua usaha tersebut tidak mempunyai rekening.

Usai persidangan, Satria M. A Marwan SH salah satu tim kuasa hukum korban mengatakan soal pembayaran jam Rolex, ia mengatakan ada sangkut pautnya dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Itu ada sangkut pautnya dalam pasal TTPU,” katanya.

Satria juga berharap Rahmat Santoso juga dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi. “Kami berharap Rahmat dihadirkan dalam persidangan,”
pungkasnya.

Sementara, JPU Hari Basuki saat ditanya terkait pemanggilan Rahmat Santoso, Pihaknya mengatakan sudah mengirimkan surat panggilan untuk ke tiga kalinya.

“Kami sudah mingirimkan panggilan, tapi beliau (Rahmat Santoso) masih belum bisa datang dengan alasan menjadi Kasatgas Covid-19 di Blitar,” ucapanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Lily Yunita yang merupakan residivis kembali ditangkap anggota Subdit I/TP Kamneg Ditreskrimum Polda Jatim atas kasus investasi bodong. Dia menawarkan investasi terkait pembebasan lahan yang ada di daerah Osowilangon Surabaya.

Untuk meyakinkan korbannya, Lily menjanjikan keuntungan kepada korbannya. Dengan memberikan cek fiktif kepada korban. Namun setelah dicek di bank, ternyata sudah tidak bisa dicairkan. Diantaranya berupa 7 lembar cek Bank BCA beserta 7 lembar surat keterangan penolakan dari Bank BCA Cabang Pembantu Kusuma Bangsa Surabaya, 2 unit mobil merk Toyota Fortuner VRZ tahun 2020, 4 unit mobil jenis Mercedes Benz, 3 unit mobil Pick Up, 6 jam tangan berbagai merk seperti Rolex, Franck Muller, 3 buah cincin Natural Blue Shaphire dan uang tunai sebanyak Rp100 juta. Ady

---------Ikuti Chanel youtube: KanalindonesiaTv ---------- ----------------------------------------------------------------

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here