Jika Tak Siap  Jangan Paksa Ponpes Berlakukan New Normal

SURABAYA KANALINDONESIA.COM : Anggota Komisi A DPRD Jatim Aisyah Lilia Agustina mengatakan pihaknya berharap pemerintah betul-betul menyiapkan sarana dan prasarana di pondok pesantren jika memiliki niat untuk memberlakukan New Normal Life ditengah pandemic Covid-19.

Anggota FKB Provinsi Jawa Timur ini, pemerintah seharusnya tak cuma menyiapkan aturan, melainkan memastikan kesiapan dan kelengkapan di Pesantren agar penularan virus tak terjadi.

“Pemprov harus menyiapkan protocol covid-19 yang perlu dilakukan adalah memastikan kesiapan penunjang bagi keberlangsungan proses belajar dan mengajar dipesantren, seperti ketersediaan vitamin C, masker, handsanitizer, tempat cuci tangan yang memadai hingga pada bagaimana menyiapkan sekat untuk physical distancing belajar di ruangan, juga memastikan tempat tidur yang aman bagi para santri,”ungkapnya saat dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (4/6/2020).

Jika itu semua belum siap, kata wanita yang akrab dipanggil mbak Icha ini maka jangan dipaksa dulu pondok pesantren untuk masuk pada era new normal. “Jika kesiapan itu diabaikan maka dikhawatirkan akan muncul ledakan kasus positive baru covid-19 klaster Pesantren, dan ini akan sangat amat menyulitkan semua pihak” ucapnya.

Baca:  Warga Sumberwudi Manfaatkan Limbah Plastik Menjadi KerajinanTas Cantik

Diberberkannya , Jawa timur adalah rumah bagi para santri karena cukup banyaknya pesantren yang ada di provinsi ini, yang terdaftar sekitar 6.044 lebih pondok pesantren dengan jumlah ratusan ribu santri.” Saat ini jawa timur menempati Runner up dalam kasus positive terbanyak dibawah DKI Jakarta, jika tidak diambil kebijakan yang hati-hati maka akan berdampak pada banyaknya kasus positive covid-19 baru yang bermunculan,”sambungnya.

Menyikapi era baru new normal dipesantren dan melihat data dilapangan, sambung Aisyah Lilia alangkah baiknya bagi pesantren yang berada di daerah yang tingkat persebaran virusnya tidak terkendali,

“ Sebaiknya new normal di pondok pesantren yang terletak di daerah tersebut, jangan dulu diterapkan, pun juga pesantren yang berada di daerah yang tingkat persebaran virusnya relative terkendali, wajib mematuhi protocol covid-19 dengan sangat ketat. Hal ini dimaksudkan agar tidak adan penularan dan persebaran virus di pesantren,”jelasnya.

Baca:  Ini Alasan DPRD Trenggalek Studi Komparatif di Kota Makassar 

Diungkapkan oleh Aisyah Lilia, sejumlah gagasan lain yang disampaikan terkait rencana new normal di pesantren ini adalah menyambut baik rencana pembukaan pesantren menuju era baru, namun pemerintah perlu menerapkan protokol kesehatan yang ketat, disamping memenuhi kesiapan dan kelengkapan di pesantren, pemerintah diwajibkan melakukan tes corona (Rapid test) untuk santri dan Guru sebagai syarat masuk kepesantren.

Seperti yang diketahui bahwa Rapid test corona adalah salah satu jenis pemeriksaan untuk mendeteksi adanya infeksi virus Corona (COVID-19) dalam tubuh. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai skrining awal infeksi virus Corona pada orang yang berisiko tinggi. Rapid test corona di Indonesia sendiri menggunakan sampel darah untuk mendeteksi kadar antibodi imunoglobulin terhadap virus dalam tubuh.

Baca:  Seks Bebas Dominasi Penyebab Penyebaran HIV/AIDS di Tulungagung

setiap santri perlu melakukan rapid test atau swab test terlebih dahulu untuk memastikan bahwa tidak ada yang membawa virus masuk ke pesantren. sebaiknya pemerintah provinsi melalui Dinkes menyiapkan tes bagi para santri agar pesantren tak terbebani dengan biaya penyediaan tes.

“Anggaran yang cukup besar ini, di situ dibutuhkan kehadiran negara, tidak memberikan beban ini ke pesantren. Pemerintah harus hadir yang akan ditangani oleh dinas terkait untuk melakukan tes kepada santri yang akan masuk,” tegasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sedikitnya 34.650 alat pelindung diri (APD) untuk 1.286 pondok pesantren (Ponpes) yang berencana membuka kembali kegiatan belajar mengajar pada masa new normal. Selain memberikan APD, Pemprov Jatim juga menyalurkan 464.182 buah masker dan 92.836 blister vitamin C untuk santri, serta 52.759 masker dan 52.759 blister vitamin C untuk ustadz dan ustadzah. nang