IAM Prima Mendidik Atlit Elit Lebih Bertanggungjawab

foto : Gardo

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA : Kehadiran aplikasi Integrated Atlet Monitoring (IAM) Prima disambut baik para atlit elit yang tergabung dalam Program Indonesia Emas (Prima). Hal itu terungkap dalam sosialisasi IAM yang dilakukan Satuan pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) melibatkan puluhan atlit dari berbagai cabang olahraga (cabor) di Gedung Teater Kemenpora Jakarta, Rabu (22/2/2017).

“Aplikasi IAM sangat baik dan bermanfaat, karena ini akan mempermudah dalam hal memonitor kesehatan, kebugaran atlit itu sendiri di samping juga mendidik atlit untuk lebih bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas setiap harinya,” kata atlit biliar, BW Simanjuntak.

Satlak Prima meluncurkan aplikasi IAM dalam upaya meningkatkan prestasi atlet elit Indonesia di ajang multi event SEA Games Malaysia 2017, Asian Games Jakarta-Palem

Dalam kesempatan itu, Ketua Satlak Prima, Achmad Soetjipto mengingatkan para atlit elit pentingnya IAM dalam upaya memperbaiki sistem kepelatihan dalam peningkatan performa, terutama untuk mengetahui serta mengatasi cidera lebih dini. Pasalnya, faktor dominan yang membuat atlit gagal meraih prestasi adalah cidera.

“Aset utama atlit adalah tubuh yang harus dijaga jangan sampai mengalami cidera saat menjalani latihan. Sebab, cidera itu akan mempengaruhi kondisi fisik dan teknik dalam penampilan dan menghilangkan peluang meraih prestasi. Makanya, aplikasi IAM diluncurkan untuk mengetahui cidera lebih dini untuk segera diatasi,” ungkap Achmad Soetjipto.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Andi Kurniawan, Sp.KO selaku Manager Kesehatan Umum, Cidera Olahraga dan Rehabilitasi Satlak Prima. Menurutnya, aplikasi ini sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para atlit itu sendiri.

“Aplikasi ini sangat dibutuhkan para atlit karena ancaman mencapai prestasi yang pertama adalah cidera. Jika atlit tak cidera, pastinya mereka akan menjalankan program kepelatihan dengan baik. Melalui IAM, kita bisa monitor kondisi atlit lewat pelatih, Direktur Performa Tinggi (HPD) Satlak Prima dan bisa langsung menangani dengan baik,” tuturnya.

“Idealnya memang Sport Science setiap cabor itu memang ada dokter, masseur, psikologinya, fisioteraphys-nya serta ahli gizinya, namun dengan segala keterbatasan yang ada kita tak akan bisa maksimal, akan tetapi dengan adanya IAM Prima ini kita bisa memonitor dari jauh, sehingga mana nutrisi, psikologi maupun kesehatan yang perlu diperbaiki kita tinggal datang ke cabor itu,” terangnya.

Andi pun mengklaim jika IAM Prima ini merupakan smart tools yang harus diisi para atlet maupun pelatih dalam proses kepelatihan. Dengan demikian, kondisi atlit yang sebenarnya bisa terlihat dan recovery bisa diterapkan sesuai kebutuhannya. “Ketika recovery dan beban latihannya itu seimbang, maka cidera itu akan berkurang,” ujarnya.

Pria yang telah tersertifikasi oleh International Fitness Professional Association serta anggota dari Exercise Immunology Association itu juga menganjurkan bahwa para atlit maupun pelatih harus memanfaatkan aplikasi ini dengan baik.
“Kami imbau IAM Prima ini dimanfaatkan dengan baik, layaknya mereka bisa update status di media sosial tiap hari. Saya yakin mereka bisa mengisi aplikasi dengan jujur dan baik setiap harinya, apalagi aplikasi IAM dibuat untuk kepentingan atlit agar terhindar dari cidera,” ujarnya.

“IAM bisa dikatakan jadi tempat curhatnya atlit. Jika makanannya kurang bagus, jika kondisinya lagi stress dan cidera, tulis saja di situ sebagai buku hariannya mereka. Jadi, Satlak Prima bisa memantau seluruh persoalan yang dialami atlit dan segera menanganinya,” tambah dokter yang juga berperan sebagai Chief Operational Officer di ISMC itu. (gardo)