Isti Fuji Rahayu, Tantangan dan Pengalaman Baru sebagai Bidan Desa Tangani Covid-19

Isti Fuji Rahayu, Bidan Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng melaksanakan pendataan dan pemantauan kepada warga yang datang dari luar kota. foto:omdik_Kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Bagi sebagian besar tenaga kesehatan, diam di rumah bukanlah sebuah pilihan. Pekerjaan mereka mengharuskan mereka berada di garda depan penanganan COVID-19, bekerja keras di berbagai fasilitas kesehatan supaya setiap orang dapat menerima penanganan medis yang dibutuhkan. Di tengah pandemi, kerapkali luput dari perhatian kita, bahwa peran bidan desa menjadi ujung tombak penanganan Covid-19 di masyarakat sangatlah besar.

Isti Fuji Rahayu, Bidan Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, merupakan salah satu bidan di desa yang cukup bersemangat dalam kegiatan penanganan dan pencegahan Covid-19 terutama di desanya. Perempuan 40 tahun ini sepertinya tidak memiliki rasa lelah, hampir 24 jam penuh dia selalu siap apabila dibutuhkan.

“Selama masa pandemi ini rasanya saya tidak memiliki waktu untuk istirahat apalagi untuk keluarga. Tapi bagi saya itu sudah menjadi tugas dan panggilan saya sebagai tenaga kesehatan,” terang Isti.

Baca:  Partai Geridra Mulai Panasi Mesin Politik

Dia bersama suami dan ketiga anaknya tinggal di Poskesdes setempat yang letaknya satu lokasi dengan balai desa dan kantor Desa Sumberwudi, sehingga dia bisa lebih mudah untuk bisa berhubungan langsung dengan pemerintah desa serta gugus tugas percepatan penanganan penyebaran Covid-19 Desa Sumberwudi. Mulai dari pemantauan pendatang yang memasuki wilayah desa sampai dengan penanganan pasien terpapar virus yang sering dikenal dengan sebutan korona tersebut.

Mengawal petugas BPBD Lamongan dalam penyemprotan desinfektan di wilayah Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan. foto:omdik_Kanalindonesia.com

Menurut dia, sebagai manusia pada saat ini dihadapkan dalam dua sisi,  yakni, ikhlas berbuat hal terbaik untuk masyarakat, disi lain juga muncul rasa takut. Sebagai tenaga medis tentu saja tetap berupya memberikan pelayanan terbaik untuk warga. Juga, tetap waspada dengan menggunakan APD lengkap. Namun adakalanya dia juga memikirkan pada keluarganya.

Baca:  Berstatus Tersangka, Polri Cekal Rizieq CS Bepergian ke Luar Negeri

“Melihat kondisi pada saat ini, kedua sikap itu memang saya akui hal yang manusiawi,” ujar Isti.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa selama melaksanakan kegiatan penanganan Covid-19 ini banyak tantangan dan pengalaman tersendiri. Saat menangani warga yang baru datang dari luar kota yang diwajibkan untuk karangtina mandiri selama 14 hari di rumah tetapi tidak mau sehingga memaksanya terus untuk memberikan pengertian agar bisa mengikuti aturan.

“Penuh tantangan, ketika dihadapkan dengan orang yang beragam karakter serta sikap. Pokoknya dilakoni dengan sabar juga diimbangi ikhlas, dan Alhamdulillah rintangan itu bisa teratasi,” ujar Isti.

Mengambil peran saat kegiatan penyemprotan di salah satu rumah warga saat dinyatakan positif Covid-19. foto: omdik_Kanalindonesia.com

Terkadang muncul orang-orang yang tidak mengerti dan memahami Covid-19 dan cara penganannya, tetapi sering menyebarkan opini-opini yang menimbulkan keresahan pada masyarakat sehingga menimbulkan proses percepatan penanganan pandemi ini terhambat. Saat Desa Sumberwudi ditetapkan sebagai zona merah karena 4 warga dinyatakan positif, banyak linimasa media sosial memunculkan sindiran dan cibiran dalam penanganannya, mungkin dikarenakan ingin lebih aktif di medsos atau hanya iseng saja.

Baca:  Saat Monitoring Posko PPKM Mikro Dua Desa di Jombang, Kapolda Jatim Sampaikan Kabar Baik

Diantara suka duka dalam menangani Covid-19 ini, ada satu pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya yakni saat merujuk pasien yang disinyalir terpapar Covid-19 ke rumah sakit daerah dengan menggunakan APD lengkap.

“Rasanya seperti mau pingsan mas, ribet banget. Tapi bagaimana lagi ini sudah SOP yang kita harus lakukan. Saya menghimbau agar warga tetap patuh terhadap aturan pemerintah, terkait pentingnya pembatasan sosial, tak berkerumun dan tetap berperilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya. (omdik/fer)