Bukopin Dilanda Bangkrut, Nasabah Jangan Mengkerut

Oleh : Yowan Alex Renaldo

Penulis adalah Mahasiswa PKN STAN

Beredarnya video salah satu nasabah Bank Bukopin yang kesulitan menarik tunai uangnya dan juga foto pengumuman mengenai pembatasan penarikan dana yang dipasang bank Bukopin di pintu masuk menyebabkan kegaduhan di masyarakat. Pasalnya hal ini bersamaan dengan isu Kookmin Bank yang akan meningkatkan kepemilikan saham dari 22% menjadi 51% pada Bank Bukopin, hal ini memunculkan banyak pro dan kontra dari berbagai kalangan. Bagaimana nasib uang nasabah?

Persoalan kredit bermasalah pernah dihadapi Bukopin tiga tahun silam hingga menjadi salah satu dari tujuh bank yang diawasi oleh BPK. Pada kondisi Covid-19 ini, bank dan lembaga keuangan seluruh dunia membutuhkan pendanaan yang cukup untuk likuiditas dan pengoperasian perusahaannya. Dalam hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan beberapa hal seperti meminta pendampingan Bukopin untuk technical assesement kepada Bank BRI, dan juga telah memberikan ultimatum keras kepada Kookmin Bank untuk mempertegas komitmennya dalam permodalan dan pengentasan permasalahan likuiditas pada Bukopin. Hasilnya Kookmin Bank akan menjadi Pemegang Saham Pengendali Mayoritas pada Bukopin, saat ini sedang berjalan proses finalisasi secara legal dan administratif menindaklanjuti persetujuan prinsip dari OJK dan masih dilakukan regulator di Indonesia maupun di Korea Selatan.
Berbagai argumentasi dari kalangan pemerintahan hingga masyarakat umum bermunculan di media sosial. Masyarakat seolah merasa khawatir Bukopin akan mengalami kebangkrutan dan harus jatuh ke tangan asing.

Pihak yang merasa kurang setuju terhadap peningkatan kepimilikan saham oleh Kookmin Bank ini berpendapat bahwa seharusnya hal ini tidak terjadi. Jika ditelusur, pemerintah juga memiliki saham di Bukopin sebesar 9,8%, yang menjadi pertanyaan mengapa bukan pemerintah yang turun tangan menambah kepemilikan saham Bukopin? Naldi Nazar Haroen, Ketua Koordinator BUMN Watch sangat menyayangkan hal tersebut, ia tidak percaya bahwa bank yang telah dikuasai asing akan tetap mendukung UMKM, mereka akan lebih banyak ke personal dan cooperate-nya.
Salah satu cuitan @ustadtengkuzul di akun twitternya.

Baca:  Kebijakan Relaksasi Kredit di Era Pandemi

“Bank Bukopin sdh dimiliki Kokmin Bank, milik Asing sebesar 51%.. Bank yg selama ini bergerak memajukan UMKM.. Padahal ada 9,8% sahamnya dimiliki Pemerintah.. Di mana kebanggaan Nasional kita?. Begitu parahkah keuangan negara sehingga tdk bisa tambah modal di Bukopin sedikit lagi?” tulis @ustadtengkuzul
Cuitan tersebut menuai perdebatan denggan pengguna twitter yang lain, ada yang sependapat, dan banyak juga yang kurang setuju terhadap opini tersebut. Banyak yang merasa khawatir jika aset masyarakat Indonesia perlahan harus berjatuhan ke tangan asing, dikhawatirkan hanya untuk kepentingan-kepentingan individu saja, tidak untuk kepetingan kesejahteraan bersama.

Namun disisi lain, banyak pihak yang berpendapat bahwa kepemilikan saham 51% Kookmin ini akan memberikan pengaruh positif terhadap permodalan dan likuiditas Bukopin. Semenjak kehadirannya pada zaman Presiden Soeharto, Bukopin memilik fokus pada pengembangan sistem untuk produk, layanan kredit konsumer dan UMKM, perbankan digital dan teknologi informasi, bisnis perbankan internasional, serta penyempurnaan manajemen risiko dan kepatuhan.
Lalu, apa sebenarnya yang dikhawatirkan pihak-pihak yang menyayangkan jika pemegang saham pengendali mayoritas berada di tangan Bank asal Korea Selatan tersebut? Jika diamati jejak perjalanan Bukopin, Bosowa Corporindo dapat dikatakan tidak mampu mempertahankan posisinya sebagai pemegang pengendali saham pada Bukopin.

Baca:  Bangkitkan Periwisata NTB, Even Bulan Pesona Lombok Sumbawa Resmi Dibuka

“Bank Bukopin ini kan untuk membela masyarakat lapis bawah, kemudian berubah orientasi dan bersaing dengan bank-bank besar, ya jelas kalahlah. Akhirnya kan mengalami masalah dan salah satu menyelamatkannya, yaitu dengan cara dijual,” ujar Sekjen MUI, Buya Anwar.

Pernyataan Sekjen MUI tersebut memang didasarkan pada kondisi kesehatan Bukopin yang terganggu. Kondisi bertambah buruk pada masa pandemi Covid-19 ini, penguatan permodalan dan likuiditas Bukopin sangat diperlukan untuk memaksimalkan kinerja Bukopin. Maka penyerapan 51% saham oleh Kookmin Bank tentunya memberikan sentimen yang positif bagi Bukopin. Namun artinya, posisi Bosowa Corporindo sebagai pihak lokal yang semula menjadi pemegang pengendali saham Bukopin akan tergantikan oleh pihak asing, Kookmin Bank.

Tentu hal ini sebenarnya merupakan kabar baik bagi seluruh nasabah Bank Bukopin, sehingga mereka tidak perlu khawatir dan tidak perlu berlebihan dalam menanggapi isu yang beredar mengenai video dan foto pengumuman tersebut. Karena harus dipahami bahwa kedepannya Bukopin akan mendapatkan suntikan modal yang cukup besar untuk membantu permodalan serta likuiditas bank. Isu yang beredar tersebut sudah diklaim oleh Manajemen Bank Bukopin sebagai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau hoaks, Bank Bukopin selalu memberikan pengumuman terkait kebijakannya pada web resmi miliknya. Namun klaim tersebut semakin memunculkan tanda tanya besar untuk masyarakat, pasalnya memang banyak nasabah dari Bukopin mengaku kesulitan untuk menarik dananya. Beberapa cuitan masyarakat bermunculan di twitter yang mengaku sebagai nasabah bank Bukopin.

“Gak heran lagi bokek $BBKP (PT. Bank Bukopin, Tbk), lihat aja Fundamental Bank ini, Cash Flow -1,37 Trilyun” tulis akun @ngebutmaut
“buru buru dah tarik !!!!” tulis akun @herrysetiawan22

Baca:  Manis Pahit Relaksasi Kredit di Masa Pandemi

“Bener yut. Tante gw mau narik duit jumlahnya lumayan besar. Tapi gak ada dananya di bank. Hanya boleh ambil 100jt itu jg harus ada notifikasi sebelumnya” tulis @theWorldOfLie
Terlepas dari pertentangan mengenai kebenaran isu tersebut, tentu saja hal itu sudah sangat meresahkan bagi nasabah, dan juga merugikan pihak Bukopin. Banyak nasabah yang sudah kehilangan kepercayaannya terhadap Bukopin dan berencana akan menarik seluruh dananya yang sudah di depositkan. Jika seluruh nasabah melakukan hal ini, akan terjadi yang namanya Bank Panic. Lalu apa sebenarnya Bank Panic itu? Karena kekhawatiran yang dirasakan para nasabah terhadap keamanan uang serta investasinya, mereka akan memutuskan untuk segera mengambil uang sebanyak-banyaknya baik melalui bank/ATM, sedangkan kondisi riil persediaan uang di Bukopin saat ini sudah menipis. Tentu saja sikap nasabah yang seperti ini akan memperburuk kondisi kesehatan Bukopin.
Namun, bisa jadi klaim yang dilakukan oleh Manajemen Bank Bukopin digunakan sebagai alat pengalihan isu agar tidak memunculkan kepanikan serta kekhawatiran para nasabah, sehingga tidak menimbulkan Bank Panic. Sementara dilain sisi, pihak OJK dan Bukopin sendiri sedang mencari solusi untuk mengatasi permasalahan likuiditas ini. Hingga muncul Kookmin Bank sebagai “penyelamat” yang bersedia menyuntikan modalnya untuk Bukopin sehingga likuiditas bisa membaik.

Untuk itu, sesama nasabah Bank Bukopin sebaiknya dapat saling membagikan informasi terkait suntikan modal yang dilakukan oleh Kookmin Bank agar tidak memberikan efek kepanikan bagi nasabah yang dapat memperburuk kondisi kesehatan Bukopin.