Menilik Efek Penting Penurunan GWM di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Muhammad Izzul Habib

Penulis adalah: Mahasiswa PKN STAN)

KANALINDONESIA.COM: Dimasa pandemi seperti saat ini,banyak sektor di Negara Indonesia yang mengalami kemorosatan dari pada tahun lalu,hal ini didasari atas bencana alam yang menimpa Indonesia di awal tahun disusul dengan pandemi COVID-19 yang menyerang seluruh Negara.

Pada awal penyebaran COVID-19 di Indonesia, masyarakat gempar , bingung serta panik menunggu kebijakan pemerintah dalam rangka penanganan penyebaran COVID-19. di awal penyebaran COVID-19 masyarakat melakukan panic-buying membuat beberapa harga kebutuhan pokok dan perlindungan diri dari virus melambung tinggi.akan tetapi saat ini sikap dari masyarakat cenderung melakukan penghematan. Dikutip dari data yang di keluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)   tren pertumbuhan  Dana pihak Ketiga (DPK) secara mingguan mengalami penurunan,pada 13 April 2020 pertumbuhan DPK dan kredit mengalami penurunan dari 9,53% menjadi 5,83%.

Di tengah masa pandemi seperti saat ini,Bank Indonesia selaku bank sentral mengawasi dengan seksama stabilitas likuiditas dari perbankan.meskipun beberapa laporan menyatakan bahwa liquiditas perbankan masih dapat bertahan di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini,akan tetapi terdapat pula bank yang mengalami kesulitan liquiditas karena kurang terjadi persamarataan atau distribusi antar bank yang membuat perbedaan likuiditas. oleh karena itu,pemerintah tidak ingin terjadi kejadian seperti hal nya bank century yang mengalami permasalahan likuiditas terulang kembali.

Meskipun dikatakan bahwa beberapa likuiditas perbankan masih dapat bertahan di tengah pandemi COVID-19 seperti BRI, mandiri dan bank pemerintah lainnya, akan tetapi seperti dalam data yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat  dilihat terjadi penurunan dalam DPK dan pengkreditan.

Baca:  Kebijakan Relaksasi Kredit di Masa Pandemi, Apakah Tepat?

Untuk menyikapi keraguan masyarakat dan dalam rangka mitigasi resiko stabilitas likuiditas perbankan, Bank Indonesia melakukan berbagai langkah. Seperti dalam hal memperkuat stabilitas valas dan pasar keuangan bersama pemerintah serta OJK dalam pembiayaan dari perbankan.

Bank Indonesia telah melakukan berbagai kebijakan untuk menyikapi keraguan masyarakat dan sebagai mitigasi resiko,kebijakan tersebut dilakukan dengan cara penurunan GMW kebijakan,stabilisasi nilai tukar rupiah, injeksi liquiditas rupiah maupun valas, mempermudah bekerjanya pasar uang dan pasar modal di domestik maupun diluar negeri,relaksasi ketentuan bagi investor asing terkait lindung nilai dan posisi devisa neto,pelonggaran makroprudensial agar tersedianya pendanaan bagi eksportir,importer dan UMKM.

Dalam rangka pemulihan ekonomi, Bank Indonesia selaku bank sentral melakukan pemberian pinjaman likuiditas jangka pendek (PLJP) pada bank umum dan pemberian pembiayaan likuiditas jangka pendek pada bank umum syariah (PLJPS),pengaturan Giro Wajib Minimum (GWM) dengan menurunkan GWM dalam rupiah bagi Bank Umum Konvensional (BUK)  sebesar 200 bps dari 5,5% menjadi 3,5% serta bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) sebesar 50 bps dari 4% jadi 3,5%  dengan GWM rata-rata masing-masing tetap 3% .penurunan tersebut merupakan langkah dalam kebijakan quantitive easin.

Bank Indonesia dalam mencukupi atau pemenuhan atas likuiditas bank dilakukan dengan kebijakan menurunkan GWM rupiah,kebijakan menurunkan GWM rupiah tersebut dilakukan dengan menurunkan GWM untuk Bank umum Konvensional (BUK) menjadi 200 bps  dan 3,5% serta menurunkan GWM untuk Bank Umum Syariah (BUS) dan unit Usaha Syariah (UUS) menjadi sebesar 50 bps dan 3,5%.

Baca:  Mewujudkan BPR yang Resilien dan Berdaya Guna di Masa Pandemi

“kami juga memperkuat likuiditas perbankan dengan menaikkan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial sebesar 200 bps untuk Bank Umum Konvensional dan sebesar 50 bps untuk bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah.kenaikkan PLM wajib dipenuhi dari pembelian SUN/SBSN yang akan diterbitkan oleh pemerintah di pasar perdana” ujar perry warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia yang menyatakan bahwa penurunan GWM untuk memperkuat manajemen likuiditas perbankan.

Menurut taksiran yang dilakukan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, efek dari Giro Wajib Minimum (GWM) yang membuat penurunan cadangan dana di suatu bank, hal tersebut menambah likuiditas sebesar 22 triliun yang mana digunakan dalam rangka pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi serta mempermudah kredit bagi masyarakat dan para pelaku usaha.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa selama penurunan GMW Valas sebesar 4% membuat likuiditas valas perbankan bertambah sejumlah 3,2 Miliar dolar AS dan penurunan ini dapat menstabilkan nilai tukar rupiah.

Mengenai penurunan GMW sebesar 50% untuk Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) hal ini sangat bermanfaat bagi pelaku usaha ekspor impor dikarenakan penurunan GMW sebesar 50% tersebut diberikan tidak untuk semua bank. penurunan GMW hanya diberikan kepada bank yang melakukan pembiayaan kegiatan ekspor-impor  sehingga dapat melaksanakan kegiatan ekspor-impor dengan melalui biaya yang lebih murah.

Itulah mengapa pemerintah lebih memilih untuk menurunkan GMW dari pada menaikkan suku bunga,selain karena untuk menstabilkan nilai tukar secara fundamental akan tetapi pemilihan untuk menurunkan GMW tersebut juga lebih mudah di mengerti sinyal-sinyalnya oleh bank.terlebih bank kecil yang memiliki likuiditas sempit tidak akan banyak mendapatkan bunga dari penempatan GWM.

Baca:  Lembaga Kajian Sosial Politik M16 Apresiasi Khairudin Mencari Keadilan Lewat DKPP

Bank Indonesia selaku bank sentral juga dapat melakukan mitigasi dengan triple intervention maksudnya adalah Bank Indonesia selaku bank sentral berusaha untuk meningkatkan intensitas dari pelaksanaan triple intervention agar nilai tukar rupiah dapat bergerak sesuai dengan fundamental dan juga mengikuti pasar.Bank Indonesia dalam pemanfaatannya dapat di optimalkan di pasar DNDF,spot dan SBN guna meminimalkan resiko dari peningkatan volatilitas rupiah.

Penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebagai salah satu kebijakan dalam pengamanan pertumbuan ekonomi,daya beli dan kegiatan usaha memiliki peran yang sangat penting,alasan kenapa Bank Indonesia lebih memilih untuk menggunakan kebijakan yang mengharuskan untuk menurunkan GWM adalah karena tidak semua bank mendapatkan banyak Bunga dari penempatan GWM terlebih bank kecil yang memiliki likuiditas yang semppit.

Dan juga dilihat dari dampak dari kebijakannya,penurunan GWM selain karena dapat menstabilkan nilai tukar akan tetapi penurunan dalam masa pandemi ini juga membantu pembiyaan bank melakukan pembiayaan ekspor-impor,dan dampak paling penting adalah menambah likuiditas bagi perbankan sehingga membantu proses pengkreditan rakyat.

Untuk itu lah didasari pertimbangan akan dampak dari penggunaan kebijakan penurunan GWM dan dampak yang dirasakan baik untuk masyarakat dan lembaga keuangan maka Bank Indonesia lebih memilih untuk menggunakan penurunan GWM Karena lebih memberikan kontribusi secara merata kepada semua.