Gara-gara Corona, Bank Dilema Cari Sumber Dana

Oleh: Aisyah Putri Salsabila

Penulis adalah Mahasiswi aktif PKN STAN

Sejak Corona Virus Desease-19 atau COVID-19 ini ditetapkan oleh WHO menjadi pandemi global. Banyak kebijakan yang diambil untuk menghadapi kerusakan atau kerugian yang terjadi, digunakan pula untuk mencegah hal-hal yang tidak dinginkan. Termasuk Bank, saat ini Bank harus kreatif dalam menentukan sumber dana mereka agar usahanya tidak tergerus akibat dampak dari COVID-19 ini. Terlebih ditambah kebijakan relaksasi kredit dari pemerintah yang mengakibatkan bank harus memeras otak untuk tetap mendapatkan sumber dana.

Sebelum itu, pada dasarnya Bank memiliki tiga sumber dana. Sumber dana yang berasal  dari Bank itu sendiri, sumber dana yang berasal dari Masyarakat, dan dana yang berasal dari Lembaga Lainnya. Untuk sumber dana yang pertama, yaitu dana yang bersumber dari bank sendiri berupa setoran modal pemegang saham, cadangan bank, dan laba bank belum dibagi. Sedangkan dana yang diperoleh dari masyarakat yang menjadi jantung dalam dunia perbankan, berupa simpanan giro, simpanan tabungan, dan simpanan deposito. Sementara itu, sumber dana yang berasal dari lembaga lainnya berupa kredit likuiditas dari BI, pinjaman antar bank, pinjaman dari bank luar negeri, dan surat berharga pasar uang.

Dalam kondisi pandemi sekarang ini yang serba tidak pasti, bank harus menyiapkan pencadangan lebih besar. Artinya, akan lebih aman jika bank memiliki likuiditas yang berlebih daripada terjadi pengetatan. Bank memiliki sumber dana yang berasal dari lembaga lainnya yang peruntukannya memang untuk keadaan mendesak. Bank mengambil keputusan ini biasanya untuk membiayai transaksi tertentu dan mendesak. Melihat situasi sekarang ini, bank bisa melakukan pinjaman kepada pihak lain.

Sumber dana bank yang  utama yaitu dana bersumber dari masyarakat. Bank menerima uang dari masyarakat dengan imbalan bunga, lalu bank menyalurkan uang tersebut kepada masyarakat dengan meminta bunga. Selisih dari bunga tersebut lah yang menjadi keuntungan bagi bank. Tetapi, pada masa seperti sekarang ini, orang-orang lebih memiilih untuk menyimpan uangnya sendiri demi kebutuhan hidup di tengah masa pandemi ini. Karena itu, sumber dana utama bank ini sedikit terancam.

Baca:  Ditjen PSP Kementan Targetkan Serapan Anggaran 40% di Triwulan I 2020

Pertumbuhan dana bersumber dari masyarakat ini cenderung melambat seiring dengan pandemi virus corona yang semakin hari kian meningkat. Contohnya saja pelaku usaha yang sampai saat ini masih bertahan cenderung lebih memilih menggunakan dana simpanan yang berada di bank dibandingkan menggunakan kredit sebagai modalnya. Sementara itu, masyarakat juga mulai cenderung menggunakan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan hidup selama social distancing ini atau bahkan mengambil tabungan untuk bertahan hidup.

Kendati demikian, dana pihak ketiga atau dana bersumber dari masyarakat ini dapat dimaksimalkan lagi karena melihat dari kondisi masyarakat yang masih cukup kondusif. Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menyampaikan bahwa masyarakat tidak menunjukkan adanya tanda-tanda panik. Hal ini dapat menjadi acuan bagi bank untuk tetap terus menjaga likuiditasnya. Dana pihak ketiga tumbuh dengan nilai sebesar Rp 6.195 triliun atau tumbuh sebanyak 6% per Maret. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga masih normal walaupun melambat.

Bank Indonesia mencatat, Dana Pihak Ketiga yang dihimpun perbankan per Februari 2020 sebesar Rp5.806,9 triliun, atau tumbuh 7,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan Januari 2020, di mana Dana Pihak Ketiga tercatat sebesar Rp5.721,9 triliun atau tumbuh 6,6 persen (yoy). Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masyarakat mulai memperbanyak saving dan menjaga likuiditas dalam jangka pendek.

Baca:  Pemda Serahkan 482 Buku Rekening di Tanjung

Hal ini cukup masuk di akal mengingat tabungan dan deposito di perbankan masih dilihat sebagai instrumen investasi yang aman, sehingga menjadi pilihan masyarakat untuk menempatkan dana, apalagi di tengah situasi pandemi COVID-19. Masyarakat tidak perlu memikirkan ketidakpastian return yang akan dirasakan apabila memilih membeli obligasi.

Selain itu, bank dapat menerbitkan surat berharga. Bank senantiasa memperkuat struktur funding, terutama di tengah tantangan pandemi Covid-19 dan ketidakpastian global, bank dapat menerbitkan obligasi rupiah dengan menggandeng perusahaan penjamin emisi.

Bank dapat menerbitkan obligasi, seperti yang dilakukan Bank Mandiri akhir-akhir ini. Apabila kondisi likuiditas bank masih terbilang kuat, ditambah lagi dengan kebijakan dari Bank Indonesia yang melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM), Bank masih bisa optimis mendapat tambahan likuiditas dari penerbitan obligasi ini.

Di tengah kondisi saat ini, bank pasti berupaya untuk menmpertahankan likuiditas yang masih memadai dengan bertumpu pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) atau dengan menerbitkan obligasi. Tetapi hal ini yang menjadi dilematis bagi Bank. Karena pada dasarnya terdapat beberapa bank yang sulit mengharapkan pertumbuhan dana pihak ketiga, apalagi dengan kecenderungan bunga deposito yang menurun. Ditambah lagi dengan kebijakan relaksasi kredit dari pemerintah yang menyebabkan pihak-pihak tertentu mendapatkan keuntungan perkreditan. Kebijakan relaksasi kredit ini yang mana merupakan penundaan pembayaran cicilan kredit mengakibatkan bank mengalami penurunan dalam penerimaan bunga pinjaman, padahal bank harus tetap membayar bunga simpanan kepada pihak yang menyimpan uang. Hal ini dirasa sulit terutama bagi bank-bank kecil.

Di sisi lain, penerbitan obligasi sebagai bentuk alternatif pendanaan, pun sulit dilakukan akibat kondisi pasar investasi yang sedang lesu. Siapa yang akan membeli obligasi ini dipertanyakan, masyarakat cenderung sedang memilih untuk tidak berinvestasi, pun masyarakat tengah mengalami kesulitan juga akibat dampak yang disebabkan oleh pandemic ini, masyarakat cenderung akan lebih memilih memegang cash daripada berinvestasi pada surat obligasi yang berisiko.

Baca:  Kebijakan Relaksasi Kredit, Mempermudah atau Mempersulit?

Keadaan saat ini membuat langkah apapun yang diambil oleh bank menjadi serba sulit. Akan tetapi, dengan kondisi seperti ini, dapat saya dapat prediksikan bahwa dengan bank mengandalkan dana pihak ketiga masih lebih efektif untuk menjadi sumber dana daripada penerbitan obligasi atau surat berharga.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Bank masih dapat mengandalkan Dana Pihak Ketiga sebagai sumber pendanaannya. Akan tetapi, untuk kondisi seperti sekarang ini, Bank dituntut lebih kreatif dalam mendapatkan nasabah. Contohnya seperti pelayanan serba online yang dapat diakses nasabah dimana saja dan kapan saja. Layanan produk dan jasa dapat dikonversi menjadi digital banking untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses pelayanan bank tanpa harus keluar dari rumah. Terlebih akhir-akhir ini masyarakat sedang tidak keluar rumah karena kebijakan physical distancing.

Akan tetapi, bank juga harus jeli dalam memilih nasabah untuk pembiayaan kredit. Seperti sistem tebang pilih, bank harus memilih industri dengan prospek yang bagus untuk dibiayai, yaitu usaha-usaha yang akan berkembang di tengah situasi seperti sekarang ini. Dengan begitu, bank dapat meminimalisir resiko kredit macet yang tentu dapat merugikan bank itu sendiri.

Akhir kata, dengan kondisi yang telah memasuki new  normal saat ini diharapkan mampu memulihkan kondisi perbankan Indonesia dan lebih luasnya mampu membangkitkan kembali perekonomian bangsa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Reference

Maria Elena. 2020. Nasabah Pilih Instrumen yang Aman, DPK Bank Meningkat, diakses dari https://finansial.bisnis.com/read/20200331/90/1220315/nasabah-pilih-instrumen-yang-aman-dpk-bank-meningkat, pada 21 Juni 2020

Chandra Bagus. 2020. Strategi Bank Menghadapi Covid-19, diakses dari https://analisis.kontan.co.id/news/strategi-bank-menghadapi-covid-19, pada 29 Juni 2020