Masih Menarikkah Investasi Deposito pada Masa Pandemi Seperti Ini?

Oleh: Agnesti Setiyo Rahayu

Penulis adalah Mahasiswi DIII Kebendaharaan Negara STAN

Pandemi covid-19 telah menyerang banyak negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Akibat pandemi ini pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun. Menurut data BPS, triwulan I 2020 ekonomi Indonesia hanya mencapai 2,97% apabila dibandingkan dengan triwulan I pada tahun 2019 yaitu 5,07% tentunya sangat terlihat menurun. Hal ini disebabkan oleh perubahan jumlah permintaan dan supply yang terdapat pada masyarakat.

Penurunan permintaan terjadi akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat, pendapatan menurun yang kemudian berpengaruh pada turunnya konsumsi masyarakat terdampak. Beberapa kebijakan pemerintah seperti PSBB dan makin maraknya pekerja yang terinfeksi virus ini menyebabkan beberapa perusahaan menghentikan proses bisnis mereka baik bisnis produksi maupun bisnis pada umumnya. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan penawaran dipasar serta turunnya jumlah penjualan sehingga banyak para pengusaha yang berakhir merugi dan terpaksa memutuskan hubungan kerja dengan para pekerjanya.

Dampak yang terjadi menyebabkan menurunnya kepercayaan para deposan dibank, sehingga mereka cenderung menyelamatkan dana nya. Akibat terkikisnya kepercayaan di bank ini menyebabkan adanya risiko-risiko yang dihadapi oleh bank. Menurut Halim Alamsyah selaku ketua komisioner LPS mengatakan bahwa terdapat 3 risiko yang dihadapi oleh bank, yaitu risiko kredit , risiko pasar, dan risiko likuiditas ( bersumber dari webinar LPS dan Bank BCA) Risiko kredit yang dimaksud adalah risiko kredit macet sedangkan risiko pasar disebabkan oleh bergejolaknya harga-harga aset. Kepercayaan deposan yang menurun menyebabkan munculnya risiko likuiditas.

Baca:  Kredit di Saat Pandemi COVID-19, Solusi Tepat?

Kebijakan-kebijakan pemerintah terus dilakukan untuk mengatasi risiko-risko yang dihadapi oleh bank saat ini. Menurut infografis statistik perbankan pada bulan Maret 2020 menunjukaan dana pihak ketiga pada bank umum masih menunjukkan peningkatan walaupun sedikit melambat dibanding bulan bulan sebelum covid. Saat ini bank mungkin menjadi lembaga yang cukup aman untuk menyimpan uang terlebih dengan adanya lembaga penjamin simpanan.

Komposisi dana pihak ketiga pada bank umum adalah giro, tabungan , dan deposito. Salah satu produk investasi sederhana di bank adalah deposito, dimana deposito ini menjanjikan suku bunga tetap pada jangka waktu tertentu. Per Maret 2020 deposito masih memiliki komposisi dana pihak ketiga di bank umum yang terbesar dibanding yang lain. Suku bunga rata-rata DPK deposito terbaru pada bulan maret 2020 mencapai 6,73% , suku bunga ini dinilai lebih rendah dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2019 yang mencapai 6,89% (bersumber dari infografis statistik perbankan).

Suku bunga deposito terbaru yang dihimpun dari data pusat informasi pasar uang (PIPU) bank Indonesia per 23 juni 2020, secara keseluruhan suku bunga deposito dengan tertinggi adalah dengan tenor 3 bulan yaitu mencapai 5,44% sedangkan yang terendah adalah suku bunga dengan tenor 1 bulan yang hanya mencapai 5,23%.

Pada masa pandemi seperti ini tentunya risiko yang akan dihadapi dengan investasi deposito akan meningkat dibanding sebelumnya. Risiko yang dimaksud adalah risiko likuiditas, dimana instrumen investasi ini hanya bisa dicairkan pada saat jatuh tempo, kalau tidak deposan akan dikenai pinalti untuk setiap pencairan sebelum jatuh tempo. Padahal saat masa pandemi seperti ini kita membutuhkan suatu produk investasi yang dapat dicairkan sewaktu- waktu

Baca:  Gara-gara Corona, Bank Dilema Cari Sumber Dana

Pertimbangan tentu diperlukan untuk menanam modal pada produk investasi yang satu ini. Beberapa keuntungan yang dapat dipertimbangkan apabila investasi pada deposito

  1. Dengan investasi pada deposito anda akan mendapat jumlah keuntungan yang tetap dengan suku bunga yang jauh lebih tinggi dibandingkan tabungan,
  2. Dana yang ditanamkan juga cenderung lebih aman dibandingkan produk investasi lainnya karena telah dijamin oleh lembaga penjamin simpanan.
  3. Risiko kerugian cenderung lebih sedikit dibandingkan produk investasi lain seperti saham, dan reksadana.
  4. Merupakan produk investasi yang cukup sederhana, sehingga memudahkan bagi pemula yang baru belajar investasi.

Kekurangan tentunya juga harus menjadi bahan pertimbangan, berikut beberapa kekurangan dari investasi deposito.

  1. Risiko likuiditas tentunya menjadi pertimbangan yang cukup serius dimasa pandemi seperti ini. Dana deposito tidak bisa dicairkan sewaktu waktu saat dibutuhkan, harus menunggu jangka waktu yang telah ditetapkan. Padahal disaat pandemi seperti ini banyak orang yang membutuhkan instrumen investasi yang cukup likuid
  2. Dana investasi tidak terlihat berkembang mengingat bunga yang dberikan hanya berkisar di 5%.
Baca:  Nobu Bank Kenalkan Nobu ePay Melalui NOBU Sansmori

Investasi deposito memanglah investasi dengan keuntungan tetap dan cukup aman. Namun ditengah pandemi covid-19 seperti ini perlu pemikiran lebih untuk menanamkan modal pada produk investasi yang satu ini. Terlebih investasi deposito sangat bergantung pada perbankan dan lembaga penjamin simpanan.

Apabila anda memiliki cukup banyak dana untuk diinvestasikan, deposito bisa menjadi pilihan yang cukup aman dimasa seperti ini karena telah dijamin oleh LPS, dan ini lebih baik dibandingkan hanya meletakkan uang itu pada tabungan. Namun apabila orientasi anda adalah mencari keuntungan maka ini bukanlah bentuk investasi yang bagus karena pendapatan yang akan didapat tidak cukup besar.

Pada kondisi simpanan yang  tidak cukup besar lebih baik pikirkan kembali jika ingin menanamkan modal tersebut pada produk investasi ini karena seperti yang telah dijelaskan diatas produk ini tidak cukup likuid, dan kita tidak tahu menahu sampai kapan pandemi dan gejolak ekonomi akan terus berlangsung.

Apabila anda masih khawatir akan likuiditas deposito ini mengingat banyaknya bank yang cukup bergejolak maka lebih baik alihkan ke investasi lainnya seperti surat berharga negara (SBN). Selain dikarenakan harga yang turun akibat covid-19 investasi ini juga cukup menghasilkan. Pengembalian yang dijanjikan terasa lebih aman karena kita menanamkan modal tersebut pada pemerintah, sedangkan pemerintah sangat kecil kemungkinananya untuk bangkrut.

 

Nama