Tiga Petambak Asal Lamongan Dipanggil Penyidik Polda Jatim, Ini Kasusnya

Ilustrasi

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Tiga orang petani tambak (petambak) asal Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan dipanggil penyidik Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim sebagai saksi atas dugaan tindak pidana perikanan.

Berdasarakan surat permintaan keterangan nomor K/1588/VI/RES.5./2020/Ditreskrimsus tertanggal 29 Juni 2020 yang ditandangani Kasubdit Tipidter, AKBP Jimmy Tana, ketiga petambang yang diketahui bernama Mas Ud, Muntaha dan Rifa’i ini dimintai keterangan mengenai pembuatan sumur bor secara ilegal tersebut.

Namun ketika dikonfirmasi wartawan, Polda Jatim enggan memaparkan jenis bentuk pelanggaran yang dilakukan para petambak.

Ipda Wawan Triono, selaku penyidik Unit IV Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim menyebut bahwa untuk segala (pokok perkara) sudah ada dalam surat panggilan secara terinci.

Baca:  Ketangkap Basah Bawa Poketan SS, Dua Warga Tanjung Diciduk Polisi

“Nanti akan saya jelaskan kepada yang bersangkutan ketika proses penyidikan. Karena kemarin juga sudah kita jelaskan di lokasi,” akui Wawan kepada Kanalindonesia.com ketika dikonfirmasi di Gedung Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim, Kamis (2/7/2020).

Dalam pemanggilan yang dibuat secara tertulis ini para petambak bisa memberikan keterangan terkait dugaan peristiwa tindak pidana perikanan, sumber daya air, pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana undang-undang nomor 27 tahun 2007.

Dengan tegas, Wawan menjelaskan alasan pemanggilan para petambak Lamongan ini merupakan dari upaya aparat penegak hukum dalam menegakan undang-undang tentang perikanan.

Menurutnya, undang-undang perikanan berlaku untuk seluruh petambak pesisir di Jawa Timur. Sebelumnya penyidik juga telah memanggil petambak asal Tuban dan Sidoarjo.

Baca:  Gunting Pita Eksposisi, Bupati Trenggalek Gelorakan Meroket

“Mereka semua juga kita panggil, Tuban dan Sidoarjo kemarin sudah,” tandasnya.

Terpisah, Naning selaku koordinator Aliasi Petani (API) Jawa Timur mengaku bingung soal pemanggilan terhadap petambak. Apalagi mengenai sumur bor yang dibuat diatas lahan tanah pribadi (petambak), dimana air itu digunakan untuk pengairan tambak.

“Teman-teman petani dipanggil terkait ini, mereka itu ngebor ditanahnya sendiri. Ngebor untuk kebutuhan air tambak,” ujar Naning, koordinator Aliansi Petani Jawa Timur (API) dalam sambungan telepon kepada media ini, Kamis (2/7/2020).

Masih kata Naning, para petambak mengaku kaget atas pemanggilan ini. Pasalnya, usaha tambak yang mereka kelola selama ini dianggap tidak pernah merugikan pihak lain. Terutama soal sumur bor yang dipermasalahkan aparat penegak hukum.

Baca:  Agus Hendrawan: Desa Di Lamongan Didorong Rampungkan APBDes

“Usaha ini kan selama ini bertahun-tahun mengambil air sumurnya sendiri. Dari wilayahnya sendiri, dari tanahnya sendiri. Sumur bor ini dipakai turun temurun didalam areal kepemilikan tanahnya sendiri,” pungkasnya. Ady