Tiga Saksi Kunci Dihadirkan Dalam Sidang Pendeta Cabuli Jemaat Cantik di Surabaya

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Sidang lanjutan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan terdakwa Hanny Layantara (HL) terhadap jemaatnya sendiri berinisial IW kembali digelar di ruang Garuda 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (8/7/2020).

Dalam persidangan yang berlangsung secara tertutup ini beragendakan keterangan saksi. Ada tiga orang saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim, yakni Rista Erna dan Sabetania R. Paembonan.

Tiga saksi itu terdiri dari pembantu gereja, koster gereja dan pembantu yang bagian masak di gereja. Mereka diperiksa secara bergantian.

Sidang yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB hingga 18.30 WIB dilaksanakan secara virtual. Sementara terdakwa menjalani sidang melalui teleconference dari tahanan Polrestabes Surabaya.

Edden selaku juru bicara korban IW menjelaskan tiga saksi yang dihadirkan di persidangan kali ini merupakan saksi kunci. Sebab mereka mengetahui saat korban naik ke lantai empat, dimana sebagai tempat tinggal terdakwa HL.

Baca:  Kodim 0812 Lamongan Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa didua Tower

“Saksi juga melihat terdakwa berada di ruangan,” ujarnya kepada Kanalindonesia.com saat ditemui di PN Surabaya, (8/7).

Karena menurut Edden, perkara yang telah lama terkubur lama harus tetap dibongkar demi sebuah fakta dan kebenaran.

“Kasus ini harus diungkap. Harus dibicarakan, apalagi sebagai warga negara, korban juga berhak mendapat perlindungan hukum, terlepas terdakwa seorang pendeta,” paparnya.

Proses hukum ini masih lanjut Edden bisa menjadi penyemangat korban, bahwa keadilan masih ada. Korban juga merasa terlindungi.

“Ini penting, sebab korban masih terguncang, sehingga masih harus didampingi psikolog. Korban juga masih sering mimpi buruk,” imbuh Edden.

Sementara itu, Abdulrachman Saleh selaku kuasa hukum terdakwa HL ini mengaku dalam persidangan ada kejadian menarik dalam persidangan. Ia menyebut dari ketiga saksi tersebut, salah satunya mencabut keterangannya di BAP karena merasa di paksa saat diperiksa.

Baca:  Diperiksa Hakim, Korban Dugaan Pencabulan Pendeta Surabaya Menangis Selama Sidang

“Ada salah satu saksi yang membantah BAP. Dia merasa ditekan oleh penyidik. Tapi berkorelasi dengan kesaksian yang lain. Kenapa berkorelasi, karena ini saksi kunci,” kata Abdulrachman kepada Kanalindonesia.com usai sidang, (8/7).

Namun saat ditanya identitas saksi yang mencabut keterannya dalam BAP, Abdulrachman enggan berkomentar. Rencananya, penyidik akan dihadirkan ke persidangan atas keterangan saksi yang membenarkan saksi merasa ditekan selama penyidikan.

“Nanti dikonfrontir bagaimana proses penyidikan. Tadi ditanya berkali-kali oleh jaksa dan saya yang terakhir dan majelis hakim, apakah keterangan yang diberikan di BAP benar, saksi bilang tidak benar. Kenapa? Karena saya (saksi) merasa ditekan,” imbuhnya.

Menurut Abdurrachman, dari keterangan tiga orang saksi saat persidangan tidak memenuhi nilai pembuktian karena tidak melihat langsung, hanya dari kata orang lain.

Baca:  Pengacara Pendeta HL Surabaya Emosi Usai Kliennya Dituduh Lakukan Cabul

“Ketiga kesaksiannya itu Testimoni De Auditu, artinya kesaksian itu didapat atau mendengarkan dari orang lain atau tidak dilihat sendiri. Jadi sampai saat ini tidak ada fakta yang membuktikan peristiwa pidana yang dilakukan HL,” jelasnya.

Kasus ini mencuat setelah korban melalui juru bicara keluarga melakukan pelaporan ke SPKT Polda Jatim dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT, pada Rabu 20 Februari 2020. Berdasarkan keterangan, korban mengaku telah dicabuli selama 17 tahun. Terhitung sejak usianya 9 tahun hingga saat ini 26 tahun.

Hanny Layantara, didakwa melanggar Pasal 82 UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan atau Pasal 264 KUHP dengan ancaman hukuman hingga 9 tahun penjara. Ady